EKSPOSKALTIM, Samarinda - Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi penularan virus Nipah. Penyakit zoonosis ini berbahaya dan dapat ditularkan melalui hewan, terutama kelelawar buah.
Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinkes Kaltim, Eryariyatin, menegaskan masyarakat perlu mengurangi kontak langsung dengan kelelawar serta menghindari konsumsi buah-buahan yang berpotensi terkontaminasi air liur atau kotoran hewan tersebut.
“Masyarakat harus waspada dengan mengurangi kontak langsung dengan kelelawar dan menghindari konsumsi buah-buahan yang sudah terkontaminasi air liur atau kotoran hewan tersebut,” ujar Eryariyatin di Samarinda dikutip media ini, Kamis (29/1) dari antara.
Imbauan ini menjadi penting mengingat virus Nipah termasuk patogen zoonosis dengan tingkat kematian sangat tinggi, berkisar antara 40 hingga 75 persen, sehingga pencegahan dini menjadi langkah paling krusial.
Pemerintah juga menekankan pentingnya mencuci buah hingga bersih sebelum dikonsumsi, khususnya buah yang terbuka atau berpotensi terpapar hewan liar, guna mencegah masuknya residu cairan yang membawa virus ke dalam tubuh.
Selain itu, Eryariyatin mengingatkan masyarakat untuk konsisten menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) sebagai benteng utama menghadapi ancaman penyakit menular.
“Gejala awal yang perlu diwaspadai meliputi demam tinggi, sakit kepala hebat, nyeri otot, hingga gangguan pernapasan akut,” ujarnya.
Apabila kondisi memburuk, pasien dapat mengalami disorientasi, kejang, hingga koma akibat peradangan otak atau ensefalitis yang berpotensi fatal. Dinkes Kaltim meminta masyarakat segera mendatangi fasilitas kesehatan terdekat apabila mengalami gejala tersebut, terutama setelah berinteraksi dengan hewan liar.
“Deteksi dini di puskesmas atau rumah sakit sangat membantu tenaga medis dalam melakukan penanganan cepat sebelum terjadi komplikasi neurologis yang lebih berat,” katanya.
Meski belum ditemukan kasus virus Nipah di Kalimantan Timur maupun Indonesia, kewaspadaan masyarakat tetap dinilai sebagai langkah pencegahan paling efektif. Pemerintah juga telah memperketat pengawasan di pintu-pintu masuk wilayah untuk memantau mobilisasi orang dan barang yang berpotensi membawa agen penyakit dari luar negeri.
Upaya tersebut sejalan dengan peringatan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang menetapkan virus Nipah sebagai salah satu penyakit prioritas dengan potensi memicu pandemi baru.
“Kerja sama masyarakat dan tenaga medis dalam melaporkan kejadian mencurigakan diharapkan mampu menjaga stabilitas kesehatan masyarakat Kalimantan Timur secara berkelanjutan,” tutup Eryariyatin.


