Bukan cuma bikin antrean panjang, krisis pasokan BBM di Kaltim juga bikin pengusaha enggan membangun SPBU baru. Wakil Gubernur Seno Aji menyebut kepastian volume jadi masalah besar: kuota 10.000 liter, yang datang hanya 5.000 liter.
EKSPOSKALTIM, Samarinda - Antrean panjang BBM di Kalimantan Timur ternyata berdampak pada investasi.
Wakil Gubernur Kaltim Seno Aji mengungkap alasan pengusaha enggan membangun SPBU baru: menjual volume pasokan yang membuat usaha merugi.
“Ya gimana mau membangun kalau kuotanya aja kurang, kan?Katakan kuota 10.000 liter yang datangkan cuma 5.000 liter, kan otomatis rugi,” ujar Seno di Gedung Olah Bebaya Samarinda, baru-baru ini.
Menurut Seno, ketika volume BBM yang diterima SPBU tidak sesuai kuota, operasional menjadi tidak menguntungkan. Kondisi itu menjadi pertimbangan serius pengusaha sebelum berinvestasi di Kaltim.
Pemprov Kaltim, kata Seno, telah meminta penjelasan Pertamina Patra Niaga. Pertamina disebut menjanjikan penyaluran BBM tahun 2026 akan sesuai kuota.
“Mereka sudah berjanji bahwa tahun ini akan sesuai dengan kuota. Kuota kita adalah 510.000 kiloliter pada tahun 2026, dan kita ingin lebih dari itu,” ujarnya.
Pemprov bahkan mendorong peningkatan realisasi penyaluran hingga sekitar 600.000 kiloliter tahun ini agar kebutuhan masyarakat terpenuhi.
“Mudah-mudahan itu bisa berjalan dengan baik,” ujarnya.
Meski ada janji penambahan, Seno tekanan realisasi di lapangan tetap menjadi kunci.
Kepastian pasokan harus terjamin agar antrean terurai dan penambahan SPBU baru didukung pasokan yang memadai.
“Ya mudah-mudahan ke depan tidak terjadi lagi seperti itu,” tutupnya.

