PORTAL BERITA ONLINE NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE BERANI BEDA..!! MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

ISPU Samarinda Tembus 200, Alat Pemantau Udara Malah Tak Berfungsi

Home Berita Ispu Samarinda Tembus 200 ...

Kualitas udara Samarinda membaik dari kategori tidak sehat ke sedang, tetapi belum berarti persoalan pemantauan selesai. 


ISPU Samarinda Tembus 200, Alat Pemantau Udara Malah Tak Berfungsi
Ilustrasi—Kota Samarinda saat diselimuti kabut asap. DLH Samarinda masih mengandalkan stasiun Labkesda Provinsi Kaltim setelah alat pemantau di Taman Segiri menjalani pemeliharaan.Ekspos/Sintya

EKSPOSKALTIM, Samarinda– Kualitas udara Samarinda yang sempat masuk kategori tidak sehat kini tercatat membaik ke kategori sedang. Namun, pemantauan kondisi udara di kota ini masih mengandalkan satu stasiun milik Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) setelah alat pemantau milik Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Samarinda di Taman Segiri tidak berfungsi karena sedang menjalani pemeliharaan.

Berdasarkan pemantauan Stasiun Labkesda Kaltim pada Rabu (28/10) pukul 07.00 Wita, Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) Samarinda berada di angka 57 dengan kategori sedang. Partikel halus PM2.5 menjadi parameter kritis yang terpantau.

Pada kategori ini, masyarakat secara umum masih dapat beraktivitas di luar ruangan. Namun, kelompok sensitif diimbau mengurangi aktivitas fisik yang terlalu lama atau berat di luar ruangan.

Angka tersebut menunjukkan kondisi yang lebih baik dibandingkan pemantauan sehari sebelumnya. Grafik kualitas udara selama 24 jam memperlihatkan ISPU sempat berada pada kategori tidak sehat, dengan nilai 101–200 pada pagi 27 Oktober, sebelum berangsur turun ke kategori sedang pada sore hari hingga Rabu pagi.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup (P2KLH) DLH Samarinda, Tri Ayu Wulandari, menyebut hasil pemantauan dalam beberapa hari terakhir masih menunjukkan perubahan dari waktu ke waktu.

“Itu karena ada konsentrasi polutan yang terdeteksi. Itu artinya jadi sistem peringatan dini,” kata Tri Ayu.

Tri Ayu menjelaskan, DLH Samarinda melakukan pembaruan pemantauan kualitas udara dua kali sehari, yakni pada pukul 07.00 dan 16.00 Wita. Namun, untuk sementara, data yang digunakan bersumber dari stasiun Labkesda milik Pemerintah Provinsi Kaltim di Jalan Ahmad Dahlan. Pasalnya, alat pemantau kualitas udara yang berada di Stasiun Taman Segiri sedang menjalani pemeliharaan sehingga tidak dapat digunakan.

“Hanya saja sekarang sedang maintenance, makanya alat itu saat ini tidak berfungsi. Jadi, kami bekerja samalah dengan stasiunnya Labkesda yang miliknya provinsi,” ujarnya.

Menurut Tri Ayu, stasiun Labkesda tersebut juga terpasang di lokasi tetap, bukan perangkat bergerak. Namun, alat itu memiliki kemampuan pembacaan parameter yang lebih banyak dibandingkan perangkat yang digunakan DLH.

Ketergantungan pada satu stasiun menjadi keterbatasan tersendiri dalam membaca kondisi udara di wilayah Samarinda yang lebih luas. Hasil pengukuran dari satu lokasi dapat menjadi indikasi adanya konsentrasi polutan, tetapi belum otomatis mewakili kondisi udara di seluruh kawasan kota.

Tri Ayu mengakui, pemantauan idealnya didukung stasiun di beberapa titik agar perubahan kualitas udara di wilayah berbeda dapat teridentifikasi dengan lebih baik.

“Kalau mau bicara cakupan Kota Samarinda, ya harus keterwakilan di beberapa titik. Cuma itu perlu pembiayaan juga,” katanya.

DLH Samarinda, lanjut Tri Ayu, sebelumnya telah mengajukan pengadaan alat pemantau kualitas udara untuk mendukung pemantauan jangka panjang di sejumlah titik. Namun, pengadaan tersebut belum terealisasi di tengah keterbatasan anggaran dan kebutuhan pembiayaan untuk pemeliharaan perangkat.

Menurut dia, harga alat pemantau kualitas udara dapat mencapai ratusan juta rupiah. Kebutuhan anggaran tidak berhenti pada pembelian, tetapi juga mencakup pemeliharaan agar perangkat dapat terus beroperasi dan menghasilkan data.

“Memang itu alatnya tidak murah. Di tengah efisiensi ini, akhirnya kita berkolaborasi sekarang. Saat ini sih masih belum terealisasi, tapi itu sudah pernah diajukan untuk jangka panjang,” jelasnya.

Tri Ayu menyebut alat di Stasiun Taman Segiri sebelumnya merupakan bantuan dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) termasuk dukungan anggaran pemeliharaannya. Sementara itu, rencana pengadaan alat untuk titik pemantauan tambahan telah diajukan, tetapi belum menjadi prioritas yang terealisasi.

Terkait perkembangan ISPU dalam tiga hari terakhir, Tri Ayu mengatakan kualitas udara Samarinda masih fluktuatif. Hasil pengukuran pada pagi dan sore hari dapat menunjukkan kategori yang berbeda, mulai dari sedang hingga mendekati tidak sehat. Ia mengingatkan, perubahan tersebut tidak dapat dikaitkan hanya dengan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

“Jadi bukan hanya sekadar ini dari kebakaran, tapi memang ada kontribusi dari aktivitas sekitar, terus arah angin, cuaca, dan sebagainya itu berpengaruh juga terhadap sebaran polutan di udara,” ujarnya.


Editor : Maulana

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%0%0%0%
Sebelumnya :
Berikutnya :