PORTAL BERITA ONLINE NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE BERANI BEDA..!! MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

Saat Solusi Banjir Samarinda Dipersoalkan Warga Loa Janan Ulu

Home Berita Saat Solusi Banjir Samari ...

Rencana sodetan yang disiapkan untuk mengurangi banjir di Loa Janan Ilir kini menghadapi ujian baru.


Saat Solusi Banjir Samarinda Dipersoalkan Warga Loa Janan Ulu
Lokasi proyek Sodetan KM2 Loa Janan yang diprotes warga Loa Janan Ulu. Foto: Istimewa

EKSPOSKALTIM, Samarinda - Rencana sodetan untuk mengurai banjir di kawasan Loa Janan Ilir kini menghadapi persoalan baru. Setelah lebih dari setahun lalu diperkenalkan sebagai bagian dari solusi mengurangi tekanan air di kawasan Perumahan H. Saleh, Tani Aman dan Simpang Tiga, rencana tersebut kini mendapat keberatan dari masyarakat Desa Loa Janan Ulu, Kutai Kartanegara (Kukar), yang berada di sisi penerima aliran.

Persoalan ini menunjukkan bahwa penanganan banjir di kawasan perbatasan Samarinda-Kukar tidak berhenti pada bagaimana air dikeluarkan dari kawasan yang kerap tergenang. Persoalan berikutnya adalah ke mana air dialirkan dan apakah sistem sungai di wilayah penerima mampu menanggung tambahan debit ketika hujan berintensitas tinggi.

Padahal, rencana sodetan tersebut bukan gagasan yang baru muncul. Pada 4 Juni 2025, ketika meninjau saluran air di kawasan Kecamatan Loa Janan Ilir, Wali Kota Samarinda Andi Harun telah menyebut sodetan sebagai salah satu opsi untuk mengurai tekanan air yang masuk ke kawasan permukiman.

Saat itu, Pemkot Samarinda mengidentifikasi sedikitnya tiga sumber aliran yang memberikan tekanan besar terhadap Perumahan H. Saleh dan sekitarnya. Di antaranya aliran dari DAS sekitar Kampus UINSI, kolam Barito, serta aliran yang bermuara ke Sungai Loa Lah.

Andi Harun bahkan menyebut persoalan tersebut tidak sederhana karena aliran dari berbagai kawasan bertemu dalam satu sistem sungai. Di sisi lain, ruang air juga semakin tertekan oleh permukiman yang berdiri di sekitar hingga di atas badan sungai.

Karena itu, sejak awal sodetan tidak ditempatkan sebagai satu-satunya pekerjaan. Pemkot juga merencanakan normalisasi sungai dan inventarisasi bangunan yang mengganggu aliran. Saat itu disebutkan kebutuhan ruang sungai setidaknya 10 hingga 15 meter agar aliran tidak kembali tersumbat.

Lebih dari setahun kemudian, persoalan tersebut kini memasuki babak berbeda. Sodetan yang dirancang untuk membantu memecah konsentrasi debit air di Loa Janan Ilir justru memunculkan kekhawatiran di wilayah yang menjadi bagian dari jalur penerima.

Sehari sebelumnya, warga Desa Loa Janan Ulu menggelar aksi unjuk rasa memprotes rencana pembangunan sodetan tersebut. Warga menyampaikan kekhawatiran bahwa aliran air dari wilayah Samarinda berpotensi menambah beban Sungai Loa Janan Ulu yang dinilai belum sepenuhnya tertangani.

Aksi tersebut kemudian menjadi salah satu perkembangan yang mendorong pemerintah menghentikan sementara pengerjaan di lapangan untuk memberi ruang dialog dan mempertemukan aspirasi warga dengan rencana teknis yang telah disiapkan.

Terbaru, Plt Camat Loa Janan Ilir, Aditya Koesprayogi, mengatakan pemerintah memahami keberatan tersebut dan kini mencermati satu per satu aspirasi masyarakat Desa Loa Janan Ulu. Namun, ia menegaskan proyek tersebut tidak dirancang sekadar untuk memindahkan banjir dari Samarinda ke Kukar.

“Pemerintah tentu juga memiliki perencanaan teknis yang terukur,” kata Aditya, Kamis (24/9).

Menurutnya, rencana tersebut telah melalui proses panjang selama kurang lebih tiga tahun dan merupakan bagian dari rencana makro pengendalian banjir yang disusun bersama Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, Balai Wilayah Sungai (BWS), dan Pemkot Samarinda.

Menurutnya, persoalan yang kini muncul bukan lagi sebatas apakah sodetan diperlukan atau tidak. Pemerintah harus menjelaskan secara utuh bagaimana seluruh rangkaian sistem bekerja, mulai dari sumber air, pengaturan debit di hulu, jalur sodetan, hingga kemampuan sungai penerima di Loa Janan Ulu.

Aditya mengatakan pengerjaan di lapangan untuk sementara berhenti sebagai bentuk penghormatan terhadap aspirasi warga. Pemerintah memilih mempertemukan terlebih dahulu rancangan teknis dengan kekhawatiran masyarakat.

“Ini sebenarnya bagian dari rencana makronya yang sudah disiapkan oleh unsur-unsur pemerintah daerah yang ada,” tegas Aditya.

Pemkot juga akan berkoordinasi dengan Kecamatan Loa Janan untuk membuka ruang pertemuan dengan masyarakat Desa Loa Janan Ulu. Dalam forum tersebut, pemerintah berencana mempertemukan berbagai unsur masyarakat dari dua wilayah yang sama-sama terdampak persoalan banjir.

Sebab, jika ditarik ke belakang, alasan pembangunan sodetan berangkat dari persoalan nyata di Loa Janan Ilir. Saat hujan dengan intensitas besar, sejumlah wilayah seperti Tani Aman, Simpang Tiga dan Desa Loa Janan Ulu sama-sama mengalami dampak banjir.

Di Tani Aman, misalnya, Aditya menyebut air pernah bertahan hingga sekitar satu minggu dengan ketinggian mencapai sepinggang.
Karena itu, skema yang disiapkan Pemkot bukan hanya membuang air, tetapi memecah konsentrasi debit ketika sistem drainase tidak lagi mampu mengalirkannya dalam waktu singkat.

Rekayasa tersebut antara lain disertai tanggul setinggi sekitar 1,5 meter di bagian hulu. Aditya menjelaskan pada kondisi hujan sedang, air diharapkan tetap berada dalam koridor drainase Samarinda. Ketika debit meningkat signifikan, barulah sebagian aliran didistribusikan melalui jalur yang telah disiapkan. Parit sodetan tersebut diperkirakan memiliki lebar sekitar 5 hingga 6 meter.

“Dalam kondisi seperti itu memang sudah dalam posisi yang pemerintah kota menyiapkan tempat untuk air itu setidaknya bisa tertampung sementara,” jelasnya.

Namun, justru di titik inilah pertanyaan warga Loa Janan Ulu menjadi penting. Sebab, keberhasilan sodetan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan mengurangi genangan di Loa Janan Ilir, tetapi juga oleh kesiapan sistem sungai setelah air didistribusikan ke wilayah penerima.

Karena itu, komunikasi lintas wilayah kini menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proyek tersebut. Pemerintah perlu memastikan penyelesaian banjir di satu kawasan tidak menciptakan persoalan baru di kawasan lainnya.

Aditya mengatakan pemerintah memahami kekhawatiran tersebut. Menurutnya, masyarakat Loa Janan Ulu perlu mendapatkan penjelasan utuh mengenai desain teknis, bukan hanya melihat kondisi dari sisi hilir.

“Kami akan ajak saudara-saudara kami yang di Loa Janan Ulu, untuk meninjau secara keseluruhan rencana teknis yang telah disiapkan oleh pemerintah,” katanya.


Editor : Maulana

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%0%0%0%
Sebelumnya :
Berikutnya :