Kebijakan baru penyaluran Pertalite di Balikpapan mulai mengurai kepadatan di satu titik, tetapi sekaligus memindahkan beban antrean ke SPBU lain.
EKSPOSKALTIM, Balikpapan – Pemberlakuan Surat Edaran (SE) Wali Kota Balikpapan Nomor 500.10.1/2094/E/Setda tentang Penyaluran BBM Bersubsidi jenis Biosolar dan Pertalite mulai menunjukkan dampak di lapangan. Skema baru ini berhasil mengurai kemacetan di SPBU Gunung Guntur, Balikpapan Tengah, namun memicu penumpukan antrean di SPBU MT Haryono pada malam hari.
Manajer SPBU Gunung Guntur, Randy Faisal Hud, meluruskan informasi yang beredar terkait aturan dalam SE tersebut. Ia menegaskan bahwa aturan tersebut bukan melarang penyaluran Pertalite, melainkan mengalihkan pengisian kendaraan roda dua ke lokasi lain.
"Jadi saya sedikit meluruskan ya, bukan melarang SE itu, tapi mengalihkan saja ke SPBU lain. SE ini memang membuat SPBU kami di Gunung Guntur tidak bisa melayani motor khusus Pertalite. Untuk roda dua bisa melakukan pengisian di SPBU MT Haryono dan Sepinggan," kata Randy, Rabu (2/9).
Antrean Terurai di SPBU Gunung Guntur
Randy menjelaskan kebijakan tidak melayani Pertalite untuk sepeda motor di SPBU Gunung Guntur diambil karena antrean kendaraan sebelumnya kerap memicu kemacetan lalu lintas.
Termasuk, kata dia, mengganggu aktivitas bisnis para pelaku usaha di sekitarnya. Sejak pengalihan diberlakukan, Selasa (1/9) kemarin, kondisi di sekitar SPBU Gunung Guntur kembali tertata dan lancar.
Kebijakan tersebut, kata dia, juga tidak memengaruhi volume penjualan Pertalite di SPBU Gunung Guntur yang beroperasi pukul 08.00 hingga 22.00 WITA.
Pembelian Pertalite bertahan di kisaran 28 hingga 30 kilo liter (KL) per hari. Untuk mengantisipasi lonjakan permintaan dari kendaraan roda empat, pihak manajemen telah menyiapkan pemesanan stok hingga 40 KL per hari selama sepekan ke depan.
Sementara itu, dinamika berbeda terjadi pada konsumsi Pertamax. Penjualan Pertamax di SPBU Gunung Guntur sempat anjlok hingga 4 KL per hari saat awal kenaikan harga, ditambah kehadiran SPBU modular di Jalan A. Yani yang juga membuat penjualan Pertamax turun hingga 9 KL per hari.
Namun saat ini, sambungnya, angka penjualan Pertamax telah merangkak naik dan kembali ke level normal sekitar 7 hingga 8 KL per hari.
Mengular di SPBU MT Haryono
Kendati kondisi di Gunung Guntur membaik, penumpukan kendaraan justru berpindah ke SPBU MT Haryono. Ratusan kendaraan roda empat harus mengular sejak pukul 22.00 WITA untuk mendapatkan Pertalite, lantaran SPBU MT Haryono dan Sepinggan difokuskan melayani roda empat pada malam hari.
Kondisi ini memicu keluhan dari para pengemudi angkutan umum yang merasa terbebani jika harus mengantre hingga tengah malam.
Mereka menilai kebijakan seperti ini bakal berdampak terhadap sopir angkot. Mengingat pada pagi hari mereka harus kejar setoran lalu kembali antre pada malam hari.
“Parah ini, saya sudah antre sejak jam 10 sekarang jam 12 malam belum dapat. Kami minta jangan digabung dengan kendaraan pribadi karena berebut, harusnya ada jadwal khusus buat kami," ujar Arif, Selasa tadi malam (1/9).
Keluhan senada disampaikan oleh Wiwin, seorang pekerja yang keberatan dengan jadwal pengisian di malam hari. Menurutnya, waktu malam seharusnya digunakan untuk beristirahat agar siap bekerja pada keesokan harinya.
"Kita pekerja kan mestinya istirahat malam, pagi harus kerja. Kami sih berharap jangan malam, jam 10 saya antre bahkan nyampai depan SPBU saja belum. Kami berharap ada solusi lain," tutur Wiwin.



