Permintaan Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) Samaqua melonjak hingga sempat membuat pengelola kewalahan memenuhi pasar.
EKSPOSKALTIM, Samarinda – Permintaan pasar terhadap Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) Samaqua melonjak tajam hingga memicu tekanan operasional di tingkat hulu. Di saat yang sama, Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda harus bersiap menghadapi ancaman musiman intrusi air asin Sungai Mahakam yang mendekati lokasi pengambilan air baku produk tersebut.
Asisten II Bidang Ekonomi Pembangunan Setda Kota Samarinda, Marnabas Patiroy, mengonfirmasi tingginya animo masyarakat terhadap Samaqua yang sempat membuat pengelola kewalahan mengimbangi permintaan.
"Pangsa pasarnya luar biasa hingga kami sempat kewalahan. Pasokan botol sebelumnya masih dipesan dari luar, namun saat ini sudah datang lagi pasokan sekitar 300 ribu bahan kemasan," kata Marnabas saat ditanya EksposKaltim, Senin (31/8).
Selain rantai pasok botol, penyesuaian teknis pada lini produksi juga tengah diselesaikan. Untuk varian 330 ml, integrasi mesin berjalan stabil. Namun, varian 220 ml masih membutuhkan penyesuaian teknis pada mesin pengemas sehingga sebagian proses pemasangan masih dilakukan secara manual. Pemkot Samarinda telah memanggil vendor terkait untuk menyinkronkan mesin tersebut.
Melihat tingginya potensi pasar, Pemkot Samarinda berencana memperluas varian produk ke kemasan 600 ml serta kemasan gelas (cup) guna menyasar segmen pasar menengah ke bawah dan kebutuhan acara kemasyarakatan.
Di luar dinamika pasar, ancaman kenaikan kadar klorida (intrusi air asin) di kawasan Jembatan Mahkota yang berdekatan dengan titik operasional Samaqua menjadi perhatian teknis utama. Marnabas memastikan bahwa pengawasan kualitas air baku dilakukan secara ketat untuk menjaga mutu produk sekaligus melindungi infrastruktur pabrik.
Pihaknya rutin mengecek kadar klorida setiap jam menggunakan kapal ke tengah sungai. Jika kadar klorida di atas ambang batas, Perumdam tidak memaksakan mengambil air dari titik tersebut lantaran dapat merusak mesin.
“Apabila intrusi air asin mendekat, sumber air baku dipindahkan ke lokasi lain, di mana kebutuhan produksi satu tangki sehari sudah mencukupi. Jadi tentu konsistensi rasa Samaqua tetap terjaga," tegasnya.
Sementara itu, untuk penanganan krisis air bersih warga di wilayah terdampak kemarau seperti Bantuas dan Palaran, operasional Instalasi Pengolahan Air (IPA) Bantuas kini mulai beroperasi kembali selama 9 jam per hari.
Pemkot Samarinda juga mendistribusikan air bersih gratis melalui armada tangki Perumdam, Damkar, dan relawan yang ditempatkan di titik-titik fasilitas publik.
Melihat skala bisnis Samaqua yang terus membesar, Pemkot Samarinda mengisyaratkan bakal melakukan pemisahan entitas usaha (split-off) dari Perumdam Tirta Kencana di masa mendatang.
Langkah ini diambil agar fungsi pelayanan publik dasar tidak terganggu oleh aktivitas komersial. Saat ini pengembangannya masih menggunakan pendanaan internal dan belum membuka investasi luar.
"Ke depan, unit bisnis ini akan kita keluarkan agar berdiri sendiri secara B2B (business-to-business) seperti Varia Niaga, sehingga pengelolaannya fokus pada kualitas dan promosi," pungkas Marnabas.



