PORTAL BERITA ONLINE NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE BERANI BEDA..!! MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

Di Balik Darurat Kemarau Samarinda, Ancaman Air Asin dan Karhutla Bergerak Bersamaan

Home Berita Di Balik Darurat Kemarau ...

Kemarau panjang tak hanya mengeringkan lahan di Samarinda. Di saat yang sama, sumber air baku mulai terancam intrusi air asin dari Sungai Mahakam, sementara kebakaran lahan terus bermunculan.


Di Balik Darurat Kemarau Samarinda, Ancaman Air Asin dan Karhutla Bergerak Bersamaan
Kondisi air sungai Mahakam di Samarinda yang surut. Foto: Ekspos Kaltim/Sintya

EKSPOSKALTIM, Samarinda– Di tengah kemarau panjang, Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda harus menghadapi dua ancaman yang bergerak bersamaan yakni sumber air baku yang mulai tertekan intrusi air asin dan kebakaran lahan yang terus mengancam ketika kondisi tanah semakin kering.

Situasi itu membuat Wali Kota Samarinda Andi Harun menetapkan kondisi darurat kekeringan dan kemarau selama 14 hari ke depan.

Ancaman paling nyata kini berada di Sungai Mahakam. Ketika air sungai mengalami pasang, kawasan Palaran dan sekitarnya, termasuk Bantuas, Bukuan dan Pulau Atas, berpotensi terdampak masuknya air asin.

Dalam beberapa hari terakhir, bahkan terdapat satu hingga dua intake yang sempat mencapai ambang batas kandungan klorida.

Ketika kadar klorida menyentuh angka 250 ppm (parts per million), produksi air harus dihentikan. Bukan karena instalasi tidak mampu berproduksi, tetapi karena air baku yang telah terintrusi air asin tidak boleh dipaksakan masuk ke sistem produksi demi menjaga kesehatan masyarakat.

“Jika air sungai terintrusi air asin, air laut, dan kloridanya naik pada 250 ppm, maka intake produksi kita stop. Demi untuk menjaga kesehatan masyarakat,” tegasnya baru-baru ini (29/8).

Kondisi itu membuat Pemkot Samarinda menjalankan pola pengawasan yang jauh lebih ketat. Kadar klorida diperiksa setiap jam agar produksi bisa kembali diaktifkan sesegera mungkin apabila kondisi air membaik.

“Pokoknya setiap jam kita tes lagi, setiap jam kita tes lagi. Kenapa? Supaya pada saat kloridanya turun di bawah 250, mesinnya kita hidupkan lagi untuk produksi air,” jelasnya.

Menurut Andi Harun, kondisi tersebut sempat tertolong oleh hujan yang turun di wilayah hulu Kukar, termasuk sekitar Kota Bangun.

Saat klorida naik di pagi hari, Perumdam Tirta Kencana dapat mengaktifkan produksi air di sore hari. Hal ini lantaran hujan tersebut. 

“Sekitar Kota Bangun sempat turun hujan. Dan kalau turun hujan mengarah ke sini, maka ikut mempengaruhi semakin membaiknya kandungan ppm klorida kita. Sehingga mesin yang tadinya off, kita akhirnya bisa aktifkan kembali,” lanjutnya.

Namun, persoalan air tersebut hanyalah satu sisi dari ancaman kemarau. Di daratan, kondisi lahan yang semakin kering justru memperbesar risiko kebakaran. Ironisnya, menurut Andi Harun, mayoritas kebakaran lahan yang ditemukan pemerintah bukan semata-mata akibat kondisi alam, melainkan ulah manusia.

Pernyataan itu disampaikan setelah dirinya meninjau langsung kebakaran lahan di kawasan Pelita 8 beberapa hari sebelumnya.

“Mayoritas lahan yang terbakar itu adalah ulah perbuatan manusia,” ungkapnya.

Pemerintah bahkan menemukan sejumlah aktivitas yang diduga dilakukan dengan sengaja. Salah satunya terpantau melalui CCTV.

“Ada yang kita tangkap melalui CCTV, ada yang bahkan memakai mobil truk, lalu orangnya turun, berjalan beberapa meter ke belakang, lalu memang sengaja membakar,” katanya.

Temuan lain menunjukkan aktivitas pembakaran kabel di lahan kosong. Diduga dilakukan untuk mengambil tembaga, pembakaran tersebut dilakukan ketika kondisi rumput dan lahan sedang kering.

“Mungkin mau ambil tembaganya, tapi membakarnya di lahan kosong dan itu gambutnya atau rumputnya cukup kering. Akhirnya terbakar,” ujarnya.

Meski demikian, Andi Harun memastikan bahwa sejumlah pelaku telah diamankan aparat.

“Tapi mayoritas dan sekarang sudah ada yang diamankan oleh polresta. Kalau nggak salah sudah sekitar lima orang,” kata Andi Harun.

Lebih jauh, orang nomor satu di Samarinda itu mengingatkan karakter tanah Samarinda yang didominasi lempung berpasir justru memiliki persoalan tersendiri setelah mengalami kekeringan panjang.

Menurutnya, tanah yang terlalu lama kering dapat mengalami kondisi sangat kering. Ketika hujan datang dengan cepat dan deras, air berpotensi mendorong tanah dan meningkatkan risiko longsor.

Ia juga menyebut karakter tanah serupa banyak ditemukan di Kaltim.

Karena itu, ia berharap hujan turun secara bertahap sehingga tanah kembali mendapatkan kelembapan tanpa langsung menerima beban air yang besar.

“Makanya harus juga waspada. Baik pada musim kering maupun pada musim hujan nanti,” pungkasnya.


Editor : Maulana

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%0%0%0%
Sebelumnya :
Berikutnya :