PORTAL BERITA ONLINE NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE BERANI BEDA..!! MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

Darurat Kemarau Samarinda, ISPA Naik dan Karhutla Sudah Hanguskan 194 Hektare

Home Berita Darurat Kemarau Samarinda ...

Asap karhutla tak lagi sekadar mengganggu jarak pandang di Samarinda. Di tengah kemarau panjang, kebakaran lahan yang telah meluas hingga sekitar 194 hektare mulai berdampak pada kesehatan warga. 


Darurat Kemarau Samarinda, ISPA Naik dan Karhutla Sudah Hanguskan 194 Hektare
Wali Kota Samarinda Andi Harun saat meninjau lokasi kebakaran lahan di kawasan Pelita Sambutan. Foto: Dok.PemkotSamarinda

EKSPOSKALTIM, Samarinda — Dampak bencana kekeringan di Kota Samarinda kian mengkhawatirkan. Tak sekadar krisis ketersediaan air bersih, maraknya kebakaran lahan dan penurunan kualitas udara kini mengancam kesehatan masyarakat secara langsung.

Berdasarkan data Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) per 29 Agustus 2026, akumulasi kebakaran lahan di Kota Samarinda telah menghanguskan area seluas 1.944.960 meter persegi (sekitar 194,4 hektare) dari total 117 kejadian yang tersebar di hampir seluruh kecamatan.

Data rinci Pusdalops mencatat Kecamatan Palaran menjadi wilayah terdampak paling parah dengan 40 kejadian kebakaran lahan yang menghanguskan area seluas 923.600 meter persegi. Disusul kemudian oleh Kecamatan Sambutan dengan 25 kejadian (460.800 m²), Samarinda Utara 19 kejadian (228.000 m²), serta Samarinda Ulu 18 kejadian (207.685 m²).

Sementara itu, wilayah lainnya meliputi Sungai Kunjang dengan 5 kejadian (41.075 m²), Sungai Pinang 4 kejadian (33.600 m²), Loa Janan Ilir 4 kejadian (20.000 m²), Samarinda Seberang 1 kejadian (10.000 m²), dan Samarinda Kota 1 kejadian (200 m²), sedangkan Samarinda Ilir mencatatkan nol kejadian.

Maraknya kejadian kebakaran lahan tersebut terhubung langsung dengan lonjakan kasus kesehatan di tengah masyarakat. Wali Kota Samarinda, Andi Harun, menyoroti kenaikan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang melonjak menjadi 22,8 persen pada bulan Agustus ini.

"Karena debu itu kan ada dua jenis, yakni partikel meter (PM) 10 dan 2,5,” sebutnya.

Wali Kota Samarinda itu mencontohkan jenis PM 10 seperti debu jalan, debu gergaji, dan lain sebagainya. Sementara PM 2,5 dinilai yang berbahaya terhadap indra penciuman dan penglihatan.

“Karena tidak mudah tersaring bulu hidung, mata, dan lain sebagainya, ini yang sampai masuk ke arah paru-paru," ujar Andi Harun.

Sebagai langkah intervensi cepat dan terjangkau, Andi Harun meminta seluruh warga untuk kembali menerapkan protokol kesehatan dengan mengenakan masker saat beraktivitas di luar rumah hingga situasi kembali normal.

"Ayo kita kembali memakai masker. Itu langkah preventif yang paling murah, paling memungkinkan untuk dilakukan dalam waktu dekat," tegas Andi Harun.

Selain ancaman polusi udara, fenomena kekeringan ini juga berpotensi memicu penyakit yang berhubungan dengan krisis pasokan air (waterborne diseases) akibat terganggunya distribusi air bersih, seperti penyakit kulit dan diare. Warga diimbau untuk menampung air secara bijak di rumah masing-masing.

"Makanya ditampung air secukupnya. Tapi tidak usah berlebih-lebihan supaya masyarakat lain juga bisa kebagian,” imbaunya.

Eskalasi kebakaran lahan yang telah menembus angka 194 hektare dan peningkatan kasus ISPA ini memperkuat dasar keputusan Pemkot Samarinda yang menetapkan Status Tanggap Darurat Bencana Kekeringan Kota Samarinda Tahun 2026 berdasarkan Keputusan Wali Kota Samarinda Nomor: 300.2/242/HK-KS/VIII/2026.

Status ini berlaku selama 14 hari, terhitung sejak 25 Agustus hingga 7 September 2026 berdasarkan penanganan kerja lapangan BPBD.

“Jadi tolong pakai masker untuk sementara waktu sampai situasi kembali normal," tutupnya.

Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Samarinda terus mengoperasikan posko komando terpadu serta memaksimalkan armada pemadam portable (sekitar 8–10 unit) dan dua unit mobil tangki air secara bergantian baik untuk memadamkan titik api maupun mendistribusikan air bersih ke wilayah terdampak krisis pasokan air, seperti Sambutan dan Palaran.


Editor : Maulana

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%0%0%0%
Sebelumnya :
Berikutnya :