PORTAL BERITA ONLINE NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE BERANI BEDA..!! MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

Teras Samarinda Tahap II Resmi Dibuka, Segmen 1 Lanjut sampai Desember

Home Berita Teras Samarinda Tahap Ii ...

Teras Samarinda Tahap II Resmi Dibuka, Segmen 1 Lanjut sampai Desember
Pemkot buka Teras Samarinda II — Tiga segmen mulai digunakan masyarakat, sementara segmen penghubung dengan Teras Samarinda I masih dikerjakan hingga Desember. Pemkot juga masih menagih penyelesaian pekerjaan minor dan belum mengaktifkan 12 kios UMKM. Foto: Pemkot Samarinda.

EKSPOSKALTIM, Samarinda – Setelah dinanti-nanti masyarakat, Teras Samarinda tahap II akhirnya resmi dibuka untuk publik, Sabtu (29/8) malam. Namun, peresmian tiga segmen tersebut belum sekaligus menandai berakhirnya seluruh pekerjaan konstruksi.

Dari empat segmen yang masuk dalam proyek Teras Samarinda tahap II, segmen 2, 3 dan 4 mulai dioperasikan. Sementara segmen 1 yang menjadi penghubung dengan Teras Samarinda tahap I masih dalam pengerjaan dan kontraknya berlangsung hingga Desember 2026.

Wali Kota Samarinda Andi Harun mengatakan peresmian dilakukan setelah pemerintah memastikan kesiapan kawasan melalui pengecekan akhir.

“Setelah sekian lama, kita akhirnya sampai melakukan peresmian mulai dibukanya untuk masyarakat luas pembangunan teras tahap dua untuk tiga segmen,” kata Andi Harun.

Ia menjelaskan Teras Samarinda tahap II memang dirancang dalam empat segmen. Kawasan yang diresmikan malam itu berada pada segmen 2, 3 dan 4, sedangkan segmen 1 masih menunggu penyelesaian pekerjaan.

Tahap kedua memiliki cakupan pekerjaan yang lebih kompleks dibandingkan pembangunan Teras Samarinda tahap I. Jika tahap pertama lebih berfokus pada penataan ruang publik dan pedestrian di tepian Sungai Mahakam, tahap kedua membawa fungsi yang lebih beragam.

Berdasarkan rincian kontrak masing-masing segmen, pembangunan tahap kedua terbagi menjadi empat pekerjaan. Segmen 1 memiliki nilai kontrak sekitar Rp48 miliar, segmen 2 Rp21 miliar, segmen 3 Rp21 miliar, dan segmen 4 sekitar Rp24 miliar. Jika dijumlahkan, keseluruhan nilai kontraknya mencapai sekitar Rp114 miliar.

Besarnya nilai tersebut sejalan dengan lingkup pekerjaan yang tidak hanya menyasar pedestrian. Pada tahap kedua, pemerintah juga menata kawasan dermaga, ruang hijau, fasilitas UMKM, halte bus, drainase, utilitas, hingga ruang publik untuk kegiatan seni dan sosial.

Andi Harun menegaskan pemerintah masih memiliki pekerjaan lanjutan meski tiga segmen telah dibuka. Sejumlah pekerjaan minor yang ditemukan dalam evaluasi tetap harus diperbaiki oleh kontraktor.

“Jika masih ada pekerjaan-pekerjaan minor yang masih memerlukan lanjutan perbaikan, maka tanggung jawab kontraktor masih ada 30 hari untuk memperbaiki,” tegasnya.

Pemkot juga masih menahan retensi sebesar 5 persen. Dana tersebut menjadi salah satu instrumen untuk memastikan kontraktor menyelesaikan pekerjaan sesuai hasil evaluasi. Karena itu, proses serah terima akhir belum dilakukan sebelum pekerjaan yang masih menjadi catatan pemerintah benar-benar dituntaskan.

“Kalau mau cair, maka semua yang kurang-kurang sebagaimana arahan saya dan Pak Wawali pada saat evaluasi terakhir untuk dilaksanakan,” katanya.

Teras Samarinda tahap II juga tidak hanya dirancang sebagai ruang terbuka publik. Pemerintah menargetkan kawasan tersebut memiliki fungsi lingkungan, ekologis, ekonomi dan sosial. Namun, seluruh fungsi itu belum berjalan sepenuhnya ketika peresmian dilakukan.

Menurutnya, penyelesaian fisik baru menjadi tahap awal. Pemerintah masih harus menghidupkan fungsi ekonomi kawasan. Salah satu rencana pengembangan tersebut adalah membangun sentra baru di bagian tengah kawasan dengan konsep yang menyerupai sentra ekonomi di Teras Samarinda tahap I.

“Pola dan manajemennya lagi dikaji sekarang, mudah-mudahan satu minggu ke depan selesai, langsung kita buat perencanaan,” jelasnya.

Pemkot masih mengkaji skema pengelolaannya, termasuk opsi menggandeng pihak ketiga tanpa membebani APBD atau pemerintah tetap mengambil peran sebagai penggerak utama.

12 Kios UMKM Belum Beroperasi

Salah satu fasilitas ekonomi yang telah dibangun tetapi belum digunakan adalah 12 kios UMKM di kawasan dermaga seluas 2115 meter persegi. Andi Harun mengatakan kios tersebut masih dalam tahap seleksi pelaku usaha dan penentuan model pengelolaan.

“Jadi untuk sementara masyarakat membawa minum sendiri dulu, tapi sampahnya nanti tolong ditaruh di tempat sampah. Karena kios-kios UMKM-nya kita belum aktifkan, masih kita seleksi, masih kita pilih modelnya,” lanjutnya.

Dari sisi lingkungan, segmen 2 dan 3 menghadirkan ruang hijau dengan luas 1.558 meter persegi. Sejumlah tanaman ditanam di kawasan tersebut, di antaranya pohon pulai, ketapang kencana, tabebuya dan bungur siam.

“Ini adalah titik paru-paru baru kota Samarinda di tepi Sungai Mahakam,” ujarnya.

Sementara segmen 4 memiliki fasilitas yang lebih diarahkan pada aktivitas sosial, seni dan transportasi publik. Kawasan tersebut dilengkapi mini amphitheater sebagai ruang ekspresi seni dan budaya, playground, halte bus serta pedestrian dengan material andesit bakar.

Pedestrian juga dilengkapi guiding block yang ditujukan untuk mendukung akses masyarakat penyandang disabilitas.

“Untuk anak insya Allah aman,” katanya.

Untuk mendukung pemanfaatan kawasan, Teras Samarinda II dilengkapi sistem pencahayaan, CCTV, dua pos pengamanan, pos polisi, serta drainase dan utilitas tertutup.

Ia menegaskan Teras Samarinda tidak seharusnya berhenti sebagai proyek fisik pemerintah. Kawasan tersebut harus menjadi ruang yang mampu mempertemukan masyarakat sekaligus memberi dampak terhadap perekonomian kota. Andi Harun memperkirakan peningkatan kunjungan ke kawasan tersebut dapat memberikan efek berantai bagi berbagai sektor usaha.

“Semakin banyak juga orang luar yang akan datang berkunjung, akan berpengaruh pada meningkatnya sektor pariwisata kota, termasuk kuliner di kota Samarinda ini,” katanya.

Dalam peresmian tersebut, Andi Harun juga menyinggung peran kritik masyarakat dalam mengawal pembangunan. Ia mengatakan kritik, termasuk kritik yang tajam, dapat menjadi bahan evaluasi agar pemerintah lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan. Menurutnya, pemerintah tidak dapat berjalan sendiri dan harus membuka ruang terhadap masukan publik maupun media.

“Bisa jadi kritik bahkan yang paling tajam sekalipun memang mengandung nilai mutiara yang indah, mahal bagi perbaikan tata kelola pemerintahan, baik ini maupun yang akan datang,” pungkasnya.


Editor : Maulana

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%0%0%0%
Sebelumnya :
Berikutnya :