Kemarau yang membuat Sungai Mahakam surut kini mulai dirasakan langsung warga Long Apari. Demi mendapatkan Pertalite, warga harus mengantre kupon sejak subuh dan hanya boleh membeli maksimal 5 liter per hari.
EKSPOSKALTIM, Balikpapan - Warga Kecamatan Long Apari, Kabupaten Mahakam Ulu, mulai merasakan dampak surutnya Sungai Mahakam akibat kemarau. Pasokan logistik yang tersendat membuat harga kebutuhan sehari-hari meningkat, termasuk bahan bakar minyak (BBM).
Kornelius Dalung, warga Long Penaneh II, RT 01, Long Apari, mengatakan stok BBM yang menipis membuat pembelian kini dibatasi. Setiap warga hanya mendapat kuota 5 liter Pertalite per hari dari Agen Penyalur Minyak dan Solar (APMS).
“Warga harus antre kupon yang disiapkan APMS sejak subuh, lalu antre lagi untuk menukarkan kupon dengan BBM,” kata Dalung, Rabu (12/8).
Setiap hari, pihak APMS menyediakan sekitar 200 kupon untuk warga. Namun, sistem tersebut dinilainya masih memiliki kendala karena sejumlah warga sempat tidak mendapatkan BBM meski telah memegang kupon.
“Jadi setelah mendapat kupon sebagian warga pulang ke rumah karena penjualan BBM baru dibuka jam 7 pagi. Ada warga yang sudah memegang kupon ketika kembali jatah BBM dibilang sudah habis. Ini kan jadi masalah,” ujarnya.
Sistem Distribusi Minta Diperbaiki
Dalung berharap pihak APMS dapat memperbaiki sistem distribusi agar pembagian BBM lebih merata. Ia menyarankan penjualan menggunakan kartu tanda penduduk (KTP) atau kartu keluarga (KK).
Selain stok yang terbatas, harga BBM eceran di Long Apari juga meningkat.
“Saat ini harga di eceran sudah menembus Rp30 ribu per liter untuk Pertalite. Sementara solar harganya mencapai Rp50 ribuan per liter,” ungkapnya.
Kesulitan pasokan juga dirasakan warga untuk mendapatkan gas. Jika tersedia, harganya jauh lebih mahal dibandingkan kondisi normal.
“Gas 12 kilogram sekarang sudah Rp700-800 ribu. Bahkan mungkin ada yang menjual lebih mahal,” katanya.
Dalung berharap persoalan distribusi seperti ini dapat diatasi melalui pembangunan infrastruktur, terutama akses jalan darat.
“Kami hanya minta jalan darat dibangun, tapi faktanya sampai sekarang belum terealisasi. Kalau jalan darat sudah terhubung saya yakin kondisi seperti ini bisa diatasi,” pungkasnya.
Sebelumnya, Pemerintah Kabupaten Mahakam Ulu menyatakan kemarau ekstrem yang menyebabkan Sungai Mahakam surut telah mengganggu distribusi logistik ke wilayah hulu, khususnya Long Apari dan Long Pahangai.
Kondisi tersebut memicu lonjakan harga BBM dan kebutuhan pokok akibat terhambatnya pasokan dari wilayah bawah.
Berdasarkan pemantauan Pemkab Mahulu per 10 Agustus 2026, harga bensin eceran di Long Apari naik dua kali lipat menjadi Rp30 ribu per liter dari harga normal Rp15 ribu per liter.
Harga beras 25 kilogram juga melonjak hingga Rp850 ribu per sak, sementara LPG 3 kilogram mencapai Rp300 ribu per tabung.
Bupati Mahulu Angela Idang Belawan menegaskan krisis tersebut bukan disebabkan kelangkaan barang, melainkan tingginya biaya logistik akibat jalur sungai yang tidak lagi optimal.
Pemkab bersama Pemprov Kaltim kini menyiapkan berbagai langkah penanganan, mulai dari operasi pasar hingga dukungan biaya distribusi, sembari mendorong percepatan pembangunan akses jalan darat menuju kawasan hulu Mahakam.



