PORTAL BERITA ONLINE NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE BERANI BEDA..!! MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

Misteri Kematian Tiga Polisi di Katingan, Muncul Dugaan Penyiksaan Sebelum Dibuang ke Sungai

Home Berita Misteri Kematian Tiga Pol ...

Kompolnas turun langsung ke Kalimantan Tengah untuk memastikan apakah para korban meninggal akibat hanyut atau justru menjadi korban kekerasan sebelum ditemukan di Sungai Katingan apakah para korban meninggal akibat hanyut atau justru menjadi korban kekerasan sebelum ditemukan di Sungai Katingan. 


Misteri Kematian Tiga Polisi di Katingan, Muncul Dugaan Penyiksaan Sebelum Dibuang ke Sungai
Satu lagi terduga pelaku bentrokan maut dalam tragedi penggerebekan di Tumbang Kalemei, Katingan, Kalimantan Tengah. Foto: Istimewa

EKSPOSKALTIM, Palangka Raya – Tragedi berdarah yang menewaskan tiga anggota Satresnarkoba Polres Katingan saat operasi penggerebekan bandar sabu di Desa Tumbang Kalemei, Kecamatan Katingan Tengah, memasuki babak baru.

Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) turun langsung ke Kalimantan Tengah untuk menelusuri penyebab pasti kematian para anggota Polri yang gugur dalam operasi tersebut.

Komisioner Kompolnas Choirul Anam mengatakan pihaknya ingin memastikan kronologi peristiwa secara utuh sekaligus mengakhiri berbagai spekulasi yang berkembang di masyarakat.

Menurut Anam, hingga kini masih terdapat dua versi yang perlu diverifikasi. Pertama, korban meninggal karena terjatuh dan hanyut di Sungai Katingan. Kedua, korban diduga telah meninggal dunia akibat tindak kekerasan sebelum berada di sungai.

"Ini biar enggak simpang siur karena ada yang bilang nyebur di sungai. Ada yang memang bilang kematiannya, penyebab kematiannya sebelum di sungai itu sudah meninggal," kata Anam, dikutip dari kanal YouTube Kompas TV, Senin (6/7/2026).

Kompolnas juga mendalami informasi yang menyebut para korban kemungkinan sempat ditangkap, disekap, dan mengalami penganiayaan sebelum akhirnya dibuang ke sungai.

Jika dugaan tersebut terbukti, menurut Anam, kasus ini memiliki dimensi yang jauh lebih serius dibanding sekadar pembunuhan terhadap anggota kepolisian saat bertugas.

"Bila benar terjadi, tentu ini harus diproses secara maksimal dan pelakunya harus dihukum seberat-beratnya," ujarnya.

Anam mengungkapkan dirinya telah tiba di Palangka Raya dan dijadwalkan menuju Kabupaten Katingan untuk melihat langsung lokasi kejadian serta mengumpulkan informasi dari berbagai pihak.

 
 
 
Lihat postingan ini di Instagram

Sebuah kiriman dibagikan oleh Ekspos Kaltim (@eksposkaltim)

 Selain mendalami penyebab kematian korban, Kompolnas juga akan menelusuri kondisi sosial di sekitar lokasi operasi yang selama ini disebut-sebut sebagai wilayah dengan aktivitas peredaran narkotika yang cukup tinggi.

"Nah, kami juga akan cek bagaimana partisipasi masyarakat dalam melawan narkoba ini. Apalagi informasi yang kami dapat, walaupun belum kami klarifikasi, wilayah itu disebut sebagai kampung narkoba," katanya.

Menurut Anam, karakteristik pengungkapan kasus narkotika di wilayah pedalaman berbeda dengan daerah perkotaan. Keterbatasan akses, kondisi geografis, hingga jaringan komunikasi menjadi tantangan tersendiri dalam pelaksanaan operasi.

Meski demikian, Kompolnas memastikan dukungan terhadap upaya pemberantasan narkotika tetap akan diberikan penuh kepada jajaran kepolisian di lapangan.

Kronologis Peristiwa

Peristiwa tersebut bermula pada Kamis (2/7/2026) dini hari saat Satresnarkoba Polres Katingan melakukan operasi penindakan terhadap terduga bandar sabu di Desa Tumbang Kalemei.

Polisi berhasil mengamankan salah satu terduga pelaku. Namun situasi berubah ketika sejumlah anggota keluarga pelaku diduga melakukan perlawanan menggunakan senjata tajam.

Bentrokan kemudian pecah dan memicu situasi yang tidak terkendali.

Dalam insiden itu, Aipda Yudhi Perdana Putra gugur setelah mengalami serangan senjata tajam. Satu orang dari pihak keluarga terduga pelaku juga dilaporkan meninggal dunia.

Sementara itu, dua anggota lainnya, Bripda Nopandri Ramadhana dan Aiptu Sumariyanto, sempat dinyatakan hilang setelah operasi berlangsung.

Tim SAR gabungan menemukan jasad Bripda Nopandri Ramadhana pada Sabtu (4/7/2026) sekitar pukul 15.55 WIB setelah hanyut sejauh sekitar 37 kilometer mengikuti arus Sungai Katingan hingga tersangkut di ranting kayu di seberang Desa Tumbang Lahang.

Sehari kemudian, Minggu (5/7/2026), tim gabungan kembali menemukan jasad Aiptu Sumariyanto sekitar pukul 09.00 WIB di Daerah Aliran Sungai Katingan, wilayah Desa Rantau Asem.

Jenazah keduanya kemudian dievakuasi ke Rumah Sakit Bhayangkara Palangka Raya untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Dengan ditemukannya seluruh korban, fokus penyelidikan kini bergeser pada pengungkapan penyebab pasti kematian ketiga anggota Polri tersebut, termasuk menjawab dugaan apakah mereka menjadi korban kekerasan sebelum akhirnya ditemukan di aliran Sungai Katingan.


Editor : Maulana

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%100%0%0%
Sebelumnya :
Berikutnya :