Kenaikan harga Pertamax mendorong masyarakat kelas menengah mempertimbangkan ulang kebiasaan belanja dan mobilitas yang selama ini dianggap lumrah.
EKSPOSKALTIM, Samarinda — Lonjakan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax dinilai bukan hanya berdampak pada biaya transportasi, tetapi juga berpotensi mengubah pola hidup masyarakat kelas menengah di Kalimantan Timur.
Pengamat Ekonomi Universitas Mulawarman (Unmul), Khairil Anwar, menilai kenaikan harga Pertamax dapat menjadi momentum bagi masyarakat untuk lebih cermat mengelola pengeluaran dan mengurangi konsumsi yang tidak benar-benar diperlukan.
“Masyarakat kelas menengah ke atas yang merupakan konsumen utama Pertamax sudah saatnya mengurangi pengeluaran konsumtif yang bersifat sekadar gaya hidup,” kata Khairil Anwar, Sabtuu (14/6).
Menurutnya, fenomena yang kini populer dengan istilah frugal living atau hidup hemat bukan lagi sekadar tren, melainkan bentuk adaptasi terhadap situasi ekonomi yang terus berubah.
Khairil menilai pemerintah sebenarnya menghadapi ruang gerak yang terbatas dalam menentukan kebijakan energi. Indonesia, kata dia, bukan lagi negara eksportir minyak seperti beberapa dekade lalu, sementara kemampuan fiskal pemerintah juga tidak tanpa batas.
Karena itu, penyesuaian harga BBM nonsubsidi dinilai menjadi salah satu konsekuensi yang sulit dihindari.
Meski kenaikan harga Pertamax (RON 92) dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter tergolong signifikan, Khairil melihat masyarakat dan pelaku usaha saat ini jauh lebih siap menghadapi tekanan ekonomi dibanding masa-masa sebelumnya.
Menurut dia, pengalaman menghadapi berbagai krisis ekonomi dalam dua dekade terakhir telah membentuk kemampuan adaptasi yang lebih baik.
“Kita pernah menghadapi krisis tahun 2008, kemudian tahun 2015, lalu pandemi COVID-19. Dunia usaha sudah belajar bagaimana melindungi usahanya dan masyarakat juga semakin memahami pentingnya mengelola keuangan,” ujarnya.
Ia menilai sebagian konsumen kelas menengah bahkan telah mulai mengantisipasi kondisi tersebut jauh sebelum kenaikan harga diumumkan, misalnya dengan memilih kendaraan yang lebih hemat bahan bakar atau mengurangi penggunaan kendaraan pribadi untuk perjalanan yang tidak mendesak.
“Kalau kita lihat sekarang, banyak masyarakat mulai beralih ke mobil yang lebih irit dan menerapkan pola hidup hemat. Ini bentuk adaptasi yang sebenarnya sudah mulai berjalan,” katanya.
Khairil menjelaskan dampak kenaikan Pertamax berbeda dengan kenaikan solar yang biasanya langsung memengaruhi biaya distribusi dan harga barang kebutuhan pokok. Karena Pertamax lebih banyak digunakan kendaraan pribadi, dampak utamanya lebih terasa pada pengeluaran rumah tangga dan mobilitas individu.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa perubahan perilaku konsumsi tetap perlu dilakukan agar tekanan terhadap keuangan keluarga tidak semakin besar.
Selain mendorong efisiensi di tingkat rumah tangga, Khairil juga meminta pemerintah menyiapkan berbagai langkah mitigasi untuk menjaga daya beli masyarakat.
Menurutnya, program bantalan sosial masih diperlukan untuk kelompok rentan yang terdampak situasi ekonomi saat ini. Di sisi lain, edukasi mengenai efisiensi penggunaan kendaraan juga perlu diperkuat.
“Pemerintah bisa menggandeng bengkel atau pihak yang kompeten untuk memberikan edukasi bagaimana mereduksi biaya operasional kendaraan, mulai dari perawatan hingga cara berkendara yang lebih hemat bahan bakar,” ujarnya.
Bagi Khairil, kenaikan harga Pertamax pada akhirnya bukan hanya soal bertambahnya biaya isi tangki kendaraan. Di tengah kondisi ekonomi yang dinamis, menurutnya, situasi tersebut juga menjadi pengingat bahwa kemampuan beradaptasi dan mengelola gaya hidup akan semakin menentukan ketahanan keuangan masyarakat kelas menengah ke depan.



