Fenomena fatherless dan motherless tidak lagi selalu berkaitan dengan kehilangan orang tua secara fisik.
EKSPOSKALTIM, Bontang - Di tengah kesibukan keluarga modern, sebagian anak justru tumbuh dengan perasaan jauh dari figur ayah maupun ibu, meski tinggal di bawah atap yang sama. Fenomena itulah yang disoroti Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, saat peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-33 di Pendopo Rumah Jabatan Wali Kota, Jumat (3/7/2026).
Menurut Neni, fenomena fatherless dan motherless kini menjadi salah satu tantangan yang perlu mendapat perhatian bersama. Ia menyebut tidak sedikit remaja yang merasa kehilangan figur orang tua karena berbagai sebab, mulai dari kesibukan bekerja hingga pengalaman traumatis akibat kekerasan dalam rumah tangga.
Namun demikian, Neni mengingatkan agar kondisi tersebut tidak dijadikan alasan untuk mencari pelarian ke arah yang negatif.
"Jangan mudah putus asa dan jangan sedikit-sedikit menjadikan fenomena fatherless dan motherless sebagai alasan untuk menyerah atau mencari pelarian yang salah. Pesan Bunda, tinggalkan pelarian yang negatif. Sekarang saatnya bangkit dan fokus menjadi anak yang sukses," ujarnya.
Neni menilai banyak anak yang terkadang hanya melihat minimnya waktu bersama orang tua tanpa memahami perjuangan yang sedang dijalani ayah maupun ibu dalam memenuhi kebutuhan keluarga.
Ia memberi contoh para orang tua yang bekerja dari pagi hingga sore hari demi mencukupi kebutuhan rumah tangga. Dalam kondisi seperti itu, menurutnya, anak perlu belajar memahami bahwa keterbatasan waktu tidak selalu berarti hilangnya kasih sayang.
"Kita paham peran ayah sangat penting. Namun bayangkan jika ayah kita adalah seorang kuli bangunan yang harus memeras keringat dari pagi sampai sore demi mencari uang. Anak-anak harus bisa memahami dan menghargai kesibukan tersebut," katanya.
Dalam situasi tersebut, Neni menilai sekolah dan guru memiliki peran penting sebagai orang tua kedua yang membantu membangun lingkungan tumbuh kembang anak. Karena itu, penguatan ketahanan keluarga tidak bisa dibebankan hanya kepada orang tua, melainkan memerlukan dukungan sekolah, pemerintah, dan masyarakat.
Ia juga mendorong para remaja untuk lebih aktif membangun komunikasi dengan orang tua, alih-alih menunggu perhatian datang terlebih dahulu.
Menurutnya, kualitas hubungan sering kali lebih penting dibandingkan banyaknya waktu yang dihabiskan bersama.
"Jika ayah kita sibuk mencari uang dan lelah bekerja, jangan menuntut kuantitas waktunya, tetapi carilah kualitas hubungannya. Kita sebagai anak harus lebih proaktif. Datangi ayah kalian, katakan bahwa kalian rindu, sampaikan permasalahan kalian secara terbuka," ujarnya.
Neni juga mengingatkan bahwa kurangnya kedekatan dengan orang tua tidak boleh menjadi pembenaran untuk terjerumus ke perilaku berisiko, seperti merokok, pergaulan bebas, maupun hubungan asmara yang tidak sehat pada usia remaja.
Di sisi lain, ia menegaskan bahwa kasus kekerasan dalam rumah tangga merupakan persoalan berbeda yang harus ditangani secara serius.
"Jika terjadi KDRT, baik oleh ayah maupun ibu, itu adalah tindakan kriminal yang harus kita lawan. Segera laporkan ke DP3AKB untuk mendapatkan pendampingan psikologis dan hukum. Kekerasan fisik tidak boleh dibiarkan," tegasnya.
Bagi Neni, keluarga tetap menjadi fondasi utama dalam membentuk generasi yang tangguh. Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk memperkuat delapan fungsi keluarga sebagai pondasi kehidupan sosial yang sehat.
Menurutnya, ketahanan keluarga akan menjadi faktor penting dalam menentukan kualitas generasi mendatang, terutama di tengah perubahan sosial yang berlangsung semakin cepat.
Dalam kesempatan yang sama, Neni juga mengapresiasi keberhasilan Kelurahan Belimbing yang meraih Juara I Kampung Keluarga Berkualitas tingkat nasional. Ia menilai capaian tersebut menjadi bukti bahwa penguatan keluarga dapat dimulai dari lingkungan terkecil dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat.



.jpeg)