PORTAL BERITA ONLINE NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE BERANI BEDA..!! MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

Yu Sheng hingga Mi Panjang Umur, Simbol Harapan dan Keberlanjutan

Home Berita Yu Sheng Hingga Mi Panjan ...

Yu Sheng hingga Mi Panjang Umur, Simbol Harapan dan Keberlanjutan
Ragam hidangan yang biasa disajikan saat perayaan Imlek (ANTARA/ Nabila Charisty)

EKSPOSKALTIM - Imlek tak hanya dirayakan lewat lampion dan barongsai, tetapi juga lewat hidangan yang sarat makna. Di balik sajian khas seperti yu sheng, ikan kukus, hingga mi panjang umur, tersimpan filosofi tentang keselamatan, kelimpahan rezeki, dan harapan akan kehidupan yang berkelanjutan, serta tradisi yang terus dijaga warga Tionghoa di Indonesia lintas generasi.

Imlek merupakan tradisi tahunan masyarakat Tionghoa yang dirayakan tidak hanya sebagai ritual keagamaan, tetapi juga momentum kebersamaan keluarga dan komunitas. Di Indonesia, perayaan ini berkembang sebagai ruang temu budaya, menghadirkan seni, kuliner, dan nilai-nilai yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Beragam aktivitas budaya turut menyemarakkan Imlek, mulai dari pertunjukan barongsai hingga festival kuliner. Di antara seluruh rangkaian itu, hidangan khas Imlek menempati posisi penting karena diyakini memuat simbol-simbol kehidupan, keselamatan, dan kesejahteraan.

Pakar kuliner keturunan Tionghoa, William Wongso, menegaskan bahwa bahan pangan dalam hidangan Imlek tidak merepresentasikan kemewahan semata, melainkan sarat makna simbolik.

“Kalau di China, setiap bahan itu mengandung makna penting. Itu dijelaskan dari tulisan kaligrafinya. Contohnya apel. Dalam bahasa Mandarin apel disebut ping guo, ping artinya kedamaian,” ujar William dalam perbincangan virtual, dikutip dari antara, Sabtu (7/2).

Tradisi kuliner Imlek ini telah dijalankan ratusan tahun oleh komunitas Tionghoa di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Meski jauh dari tanah leluhur, semangat dan nilai budaya tetap dijaga, salah satunya melalui hidangan yang disajikan saat perayaan.

Semangat itu pula yang tercermin di House of Tugu, bangunan bersejarah di kawasan Kota Tua Jakarta yang kini difungsikan sebagai hotel dan restoran. Pada momen Imlek, tempat ini menghadirkan sajian khas yang dirangkai dari tradisi Peranakan Jawa Pesisir, sebagai wujud akulturasi budaya Nusantara dan Tionghoa.

Bangunan bersejarah yang merekam percampuran budaya Nusantara, Tionghoa, dan Belanda ini dirawat sebagai ruang publik sekaligus penanda jejak sejarah panjang lintas etnis di Indonesia.

Simbol Kemakmuran Bersama

Salah satu hidangan utama adalah Yu Sheng Kemakmuran – Gaya Tuan Besar Semarang. Sajian ini biasanya disantap sebagai pembuka dalam tradisi Lo Hei, yakni mengangkat salad setinggi mungkin dengan sumpit sambil mengucap doa dan harapan.

Ikan mentah dalam yu sheng melambangkan kelimpahan sepanjang tahun, berangkat dari makna kata yu yang berarti ikan sekaligus surplus. Pomelo dipercaya membawa keberuntungan, sayuran hijau melambangkan kesehatan, kacang tumbuk simbol kemakmuran rumah tangga, dan biji wijen menjadi harapan agar usaha terus berkembang.

“Spesial di Tahun Kuda Api, kami hadirkan menu Peranakan Jawa Pesisir sebagai akulturasi budaya Jawa dan China agar perayaan Imlek terasa lebih meriah,” kata Putri, event manager House of Tugu.

Ikan Utuh dan Filosofi Rezeki

Menu berikutnya adalah Kerapu Kukus Kapitan Cirebon, disajikan utuh dengan jahe, daun bawang, serta saus kecap dan minyak wijen panas. Penyajian ikan secara utuh memiliki makna penting dalam tradisi Tionghoa.

“Ikan nggak boleh dipotong-potong, karena melambangkan rezeki yang terputus-putus,” ujar William.

Laut dipandang sebagai sumber rezeki yang luas dan tak terbatas. Ikan, yang mampu melawan arus dan terus bergerak maju, dimaknai sebagai simbol ketangguhan dan keberanian menghadapi tantangan hidup.

Mi Panjang Umur hingga Penutup Manis

Hidangan Mi Panjang Umur disajikan utuh dengan panjang mencapai dua meter, melambangkan doa umur panjang, kemakmuran, dan kelancaran hidup. Mi ini tidak boleh dipotong saat dimakan dan harus diseruput utuh sebagai bentuk penghormatan pada makna simboliknya.

Sebagai penutup, tersaji Klappertaart Ny. Kwee, hidangan khas Manado–Belanda yang lembut, disajikan bersama es puter gula aren. Dalam tradisi jamuan Imlek, jumlah hidangan yang banyak juga bermakna kelimpahan.

“Biasanya menu Imlek itu bisa sampai sepuluh macam. Orang Chinese ingin menikmati banyak jenis hidangan sebagai simbol keberuntungan,” kata William.

Tak hanya kuliner, pengunjung juga diajak menelusuri jejak sejarah di setiap sudut bangunan, termasuk ornamen naga di langit-langit yang dibuat pada 1961 untuk perayaan Cap Go Meh, serta dokumentasi keluarga Oei Tiong Ham, tokoh besar industri gula di masa kolonial.

“Indonesia memiliki kekayaan sejarah yang luar biasa, dan banyak yang tersimpan di tempat-tempat seperti ini,” ujar Putri.


Editor : Maulana

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%0%0%0%
Sebelumnya :
Berikutnya :