PORTAL BERITA ONLINE NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE BERANI BEDA..!! MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

Sepinya Pasar Pagi Samarinda: Gedung Modern, Konsep Tradisional

Home Berita Sepinya Pasar Pagi Samari ...

Sepinya Pasar Pagi Samarinda: Gedung Modern, Konsep Tradisional
Suasana Pasar Pagi Samarinda. Dinilai modern di luar, tradisional di dalam. Ekspos/Sintya

EKSPOSKALTIM, Samarinda– Gedung baru Pasar Pagi Samarinda kini menghadapi persoalan yang lebih besar daripada sekadar keterisian lapak. Di tengah bangunan yang secara estetika dinilai sudah modern, aktivitas perdagangan justru belum bergerak sebagaimana fungsi yang diharapkan.

Kondisi tersebut mendorong DPRD Samarinda mulai membuka opsi rebranding Pasar Pagi, termasuk mengevaluasi kembali konsep perdagangan yang selama ini diterapkan.

Sebab, mempertahankan konsep pasar tradisional di dalam bangunan dengan desain modern dinilai belum tentu sesuai dengan kultur dan kebiasaan masyarakat Samarinda.

Anggota Komisi II DPRD Samarinda, Iswandi, mengatakan pembahasan internal yang telah dilakukan baru-baru ini untuk menginventarisasi persoalan sekaligus mencari solusi agar Pasar Pagi kembali menjadi pusat aktivitas ekonomi.

“Hasilnya kita menginventarisir, kita tidak bisa bicara yang lalu-lalu,” kata Iswandi.

Menurutnya, DPRD bersama organisasi perangkat daerah (OPD) terkait kini harus fokus pada persoalan ke depan, terutama kondisi perdagangan yang masih sepi dan belum seluruh kios terisi. Ia menilai terdapat kesenjangan antara tampilan fisik Pasar Pagi dengan fungsi ekonominya.

“Kalau kita utarakan bahwa memang Pasar Pagi itu secara estetik oke, tapi secara fungsi kita melihatnya fungsinya tidak berjalan,” tegasnya.

Padahal, sejak awal pembangunan kembali Pasar Pagi diarahkan sebagai salah satu penggerak ekonomi Kota Samarinda.

Karena itu, DPRD berencana membuka forum yang lebih luas melalui focus group discussion (FGD) dengan melibatkan akademisi, komunitas, praktisi hingga pihak-pihak yang dinilai memiliki gagasan untuk menghidupkan kembali kawasan perdagangan tersebut.

“Gimana cara menghidupkan Pasar Pagi ini. Artinya kita harus rebranding ini,” jelasnya.

Jangan Paksa Konsep Pasar Tradisional

Iswandi bahkan mempertanyakan apakah konsep Pasar Pagi sebagai pasar tradisional yang dimodernisasi masih relevan dengan kondisi bangunan dan karakter masyarakat Samarinda.

Menurutnya, pemerintah tidak bisa sekadar mempertahankan konsep lama apabila kenyataan di lapangan menunjukkan konsep tersebut tidak mampu menarik aktivitas ekonomi.

“Tidak bisa kalau kita mau tetap ngotot dengan konsep ini pasar tradisional yang dimodernisasi. Tidak masuk itu kayaknya. Kasihan nanti lama-lama pedagang yang jadi korban,” katanya.

Namun, wacana rebranding tersebut belum akan diputuskan secara tergesa-gesa. DPRD ingin terlebih dahulu melihat kesesuaian antara desain bangunan, karakter masyarakat, kultur berbelanja hingga potensi ekonomi yang dapat dikembangkan.

“Jangan sampai lagi kita ingin rebranding atau kita ingin merubah sesuatu menjadi masalah baru lagi,” ujarnya.

Ia mencontohkan kemungkinan perubahan fungsi sejumlah lantai atau zona perdagangan agar lebih sesuai dengan kebutuhan pasar.

Salah satu gagasan yang muncul adalah mengubah area tertentu menjadi pusat penjualan produk yang lebih spesifik. Namun, seluruh gagasan tersebut masih membutuhkan kajian lebih lanjut.

Selain itu Iswandi menilai salah satu persoalan yang tidak boleh diabaikan adalah perbedaan antara desain bangunan dengan kebiasaan masyarakat dalam berbelanja.

Ia menyoroti karakter pasar tradisional yang selama ini memungkinkan masyarakat berbelanja secara praktis tanpa harus masuk terlalu jauh ke dalam bangunan. Menurutnya, faktor habit masyarakat menjadi bagian penting dalam menentukan model perdagangan.

“Kalau kita lihat dengan model bangunan itu kan nggak cocok sebenarnya,” katanya.

Ia pun tak menampik kondisi ekonomi masyarakat saat ini juga menjadi faktor yang memengaruhi aktivitas perdagangan. Namun menurutnya, kondisi tersebut tidak boleh dijadikan satu-satunya alasan atas sepinya Pasar Pagi.

“Pasar udah dibangun mahal-mahal tapi ekonomi tidak bergerak. Ya memang di luar kondisi ekonomi juga lagi lesu. Tapi kan itu minimal, bukan suatu kendala lah,” pungkasnya.


Editor : Maulana

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%0%0%0%
Sebelumnya :