EKSPOSKALTIM, Samarinda — Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda mulai menggarap proyek strategis pengendalian banjir yang menyasar salah satu persoalan krusial di kawasan Pasundan. Melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Samarinda, pembangunan crossing drainase Jalan Gunung Cermai menuju Sungai Mahakam disiapkan.
Proyek ini bukan sekadar memperbesar saluran drainase. Untuk pertama kalinya, Pemkot Samarinda membangun sistem yang secara langsung menghubungkan saluran dengan Sungai Mahakam, dilengkapi rumah pompa dan pintu air. Infrastruktur tersebut dirancang untuk mengendalikan aliran air ketika debit drainase maupun ketinggian Sungai Mahakam berada dalam kondisi tinggi secara bersamaan.
Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) DPUPR Samarinda, Darmadi, mengatakan proyek tersebut memiliki panjang saluran sekitar 197 meter dengan dimensi yang disiapkan untuk memperbesar kapasitas aliran air dari kawasan Gunung Cermai.
“Untuk anggaran itu Rp19 miliaran. Dimensionnya ada, itu total panjangnya sekitar 197 meter,” sebutnya, Minggu (23/8).
Yang membuat proyek ini menjadi penting bukan hanya nilai investasinya, tetapi konsep pengendalian air yang diterapkan. Darmadi menyebut pembangunan rumah pompa dan pintu air yang langsung menuju Sungai Mahakam merupakan proyek pertama dengan skema tersebut di Samarinda.
Sistem ini dirancang untuk menghadapi kondisi ketika dua sumber persoalan bertemunya debit air dari kawasan perkotaan meningkat, sementara muka air Sungai Mahakam juga sedang tinggi. Dalam situasi tersebut, air tidak bisa begitu saja dialirkan ke sungai karena berisiko berbalik masuk ke sistem drainase. Sebab itu, pintu air dan pompa menjadi komponen penting dalam proyek ini.
Dengan mekanisme tersebut, sistem drainase tidak hanya bergantung pada gravitasi. Ketika Sungai Mahakam sedang tinggi, pintu dapat ditutup dan air dari kawasan Pasundan dikeluarkan menggunakan pompa. Sebaliknya, ketika kondisi memungkinkan, aliran dapat diarahkan menuju sungai.
“Kalau misalnya pas sudah di Pasundan ya kita pompa. Ketika Mahakam juga lagi tinggi, ditutup dan dipompa. Kita tutup pintunya, pompa keluar,” jelas Darmadi.
Darmadi menyebut persoalan di kawasan Cermai selama ini berkaitan dengan kapasitas saluran yang relatif kecil. Dalam proyek ini, saluran diperbesar dengan lebar lima meter dan kedalaman 2,25 meter.
Di sisi lain, pembangunan infrastruktur pengendalian banjir tersebut juga membawa konsekuensi terhadap aktivitas lalu lintas masyarakat. DPUPR telah menyiapkan skema pengalihan arus selama pekerjaan berlangsung.
Darmadi mengatakan pengerjaan akan dilakukan bertahap pada dua sisi median jalan. Tahap awal dimulai dari sisi tepian depan Bank BTN, sebelum pekerjaan dilanjutkan ke sisi berikutnya.
Menurutnya, terdapat dua titik pada median yang akan dibuka untuk mendukung pelaksanaan pekerjaan sekaligus mengatur arus kendaraan selama konstruksi berlangsung.
“Nanti kita buka biar pengalian arus lalu lintas,” ujarnya.
Pekerjaan pada dua sisi tersebut ditargetkan dapat dituntaskan hingga awal September.
Kecepatan pengerjaan menjadi perhatian karena pekerjaan konstruksi bersinggungan langsung dengan jalur yang digunakan masyarakat. Setelah tahap penggalian selesai, pekerjaan akan dilanjutkan dengan pemasangan besi dan pengecoran.
Darmadi meminta masyarakat memahami potensi gangguan lalu lintas yang muncul selama pekerjaan berlangsung. Menurutnya, rekayasa arus merupakan konsekuensi yang harus ditempuh untuk membangun sistem drainase yang ditujukan mengurangi persoalan banjir di kawasan Pasundan.
“Ini tujuannya semua semata-mata untuk menanggulangi banjir di daerah Pasundan. Dan kemudian mereka bisa mencari alternatif yang lain ketika berkendara atau berlalu lintas,” ungkapnya.
Dari sisi administrasi, Darmadi memastikan seluruh proses perizinan dan koordinasi terkait rekayasa lalu lintas telah dilakukan. DPUPR telah berkoordinasi dengan kepolisian lalu lintas, Dinas Perhubungan, serta Pemerintah Provinsi.
“Tinggal kita eksekusi saja,” pungkasnya.


