PORTAL BERITA ONLINE NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE BERANI BEDA..!! MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

Paparan Berita dan Konten Negatif, Tips Jaga Kesehatan Mental

Home Berita Paparan Berita Dan Konten ...

Paparan Berita dan Konten Negatif, Tips Jaga Kesehatan Mental
Ilustrasi media sosial. (TwilightShow)

EKSPOSKALTIM - Di era digital yang serba cepat, masyarakat Indonesia menghadapi tantangan baru menjaga kesehatan mental. Di tengah derasnya informasi yang menyulut rasa frustrasi, kecemasan, bahkan keputusasaan, tak sedikit yang merasa kehilangan rasa aman, juga kepercayaan terhadap sistem.

Mulai dari kebijakan pemerintah yang kontroversial, aksi demonstrasi yang dibubarkan paksa, teror terhadap jurnalis, hingga skandal korupsi dan gonjang-ganjing pasar saham—

Psikolog klinis Pamela Andari Priyudha, menyebut paparan berita negatif secara terus-menerus bisa memicu stres psikologis yang sifatnya kronis dan kolektif.

“Saat seseorang merasa tak mampu mengubah situasi, mereka bisa mengalami learned helplessness, kondisi ketika individu merasa tidak berdaya padahal masih ada peluang untuk bertindak. Ini berbahaya karena bisa menimbulkan apatisme, frustasi, hingga depresi secara massal,” ujar Pamela, dikutip dari laman Universitas Gadjah Mada, Jumat (25/4).

Pamela menekankan pentingnya literasi digital, yakni kemampuan mencari, memilah, dan menganalisis informasi secara kritis. Banyak orang, katanya, langsung menarik kesimpulan hanya berdasarkan judul berita atau komentar tanpa memahami konteks keseluruhan.

Ia juga menyoroti peran besar media sosial dalam membentuk persepsi publik—sayangnya, tidak semua informasi yang beredar akurat. Ketika tubuh terus-menerus berada dalam mode “siaga” akibat berita buruk, kecemasan meningkat dan bisa menjadi maladaptif bila dibiarkan.

Kelompok masyarakat yang paling rentan terhadap dampak ini antara lain lansia, orang tua, remaja, serta mereka yang rendah literasi digital atau terbatas akses pada informasi kredibel. Kemampuan seseorang dalam mengelola emosi sangat menentukan dampak dari paparan berita negatif.

"Maka dari itu, penting bagi individu, institusi pendidikan, dan komunitas untuk aktif dalam edukasi literasi digital serta keterampilan emosi agar masyarakat lebih resilien,” jelasnya.

Salah satu langkah konkret yang bisa dilakukan untuk menjaga kesehatan mental adalah membatasi konsumsi berita yang dapat memicu kecemasan, terutama saat kondisi psikologis sedang tidak stabil.

Selain itu, membiasakan diri mencari referensi dari berbagai sumber terpercaya akan membantu memperoleh sudut pandang yang lebih seimbang. “Jangan langsung bereaksi pada informasi yang belum jelas sumbernya. Tetap gunakan logika dan cek ulang dari berbagai sisi,” tambah Pamela.

Menghindari topik yang bisa memicu reaksi emosional berlebihan—seperti konflik politik atau isu sosial yang memecah belah—juga bisa menjadi langkah preventif.

Sebaliknya, ia menyarankan masyarakat untuk lebih banyak mengonsumsi konten yang positif dan inspiratif agar suasana hati lebih stabil. Teknik self-control atau kontrol diri bisa membantu menjaga optimisme.

“Kita perlu sadar, mana hal yang bisa kita kontrol dan mana yang tidak. Fokus pada hal yang bisa dilakukan akan menumbuhkan rasa percaya diri dan semangat,” imbuhnya.

Pamela juga menekankan pentingnya dukungan sosial dalam menjaga kesehatan mental. Hadir sebagai pendengar yang baik bagi orang-orang di sekitar yang sedang cemas bisa menjadi bentuk bantuan yang sangat berarti.

“Kadang yang mereka butuhkan hanya didengarkan, bukan dihakimi. Bersikap empatik adalah kunci,” ucap dosen di Departemen Ekonomika dan Bisnis, Sekolah Vokasi UGM itu.

Namun, sebelum bisa membantu orang lain, penting untuk memahami kondisi mental diri sendiri agar tidak mengalami kelelahan emosional. Jika merasa belum mampu mendampingi orang yang sedang tertekan, menghubungkannya dengan tenaga profesional seperti psikolog, psikiater, atau konselor adalah langkah yang bijak.

“Bantu secukupnya, dan bila perlu, arahkan ke ahlinya,” ujarnya.

Lebih jauh, Pamela menyoroti pentingnya peran perguruan tinggi dalam membentuk ketahanan mental generasi muda. Institusi pendidikan, katanya, bukan hanya tempat belajar akademik, tapi juga ruang untuk tumbuh secara emosional dan sosial.

Peran komunitas pun tak kalah penting. Mereka memiliki tanggung jawab moral dalam menciptakan ruang publik yang bebas dari hoaks, ujaran kebencian, dan konten provokatif. “Lewat kerja bersama, komunitas bisa turut memverifikasi informasi, menyeimbangkan narasi positif dan negatif, serta menumbuhkan empati di tengah masyarakat,” pungkasnya.


Editor : Maulana

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%0%0%0%
Sebelumnya :
Berikutnya :