EKSPOSKALTIM, Samarinda - Setiap 21 April, gema Hari Kartini mengingatkan kita akan perjuangan emansipasi perempuan di seluruh Indonesia. Namun, di Kalimantan Timur, tanggal ini menyimpan makna yang lebih dalam.
Tepat pada 21 April 1970, jenazah Aminah Syukur dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kusuma Bangsa, sebuah penghormatan agung bagi sosok pendidik yang jasanya melampaui sekadar mengajar.
Dalam buku Aminah Syukur: Kiprah Perempuan di Kalimantan Timur Tempo Doeloe, sejarawan Muhammad Sarip mengungkap sisi-sisi perjuangan Aminah dan sekaligus membangkitkan ingatan kita pada nama-nama perempuan lain yang tak kalah menginspirasi. Mereka adalah para pelopor dari Bumi Etam yang kiprahnya layak disejajarkan dengan tokoh-tokoh nasional.
Aminah Syukur: Pelopor Pendidikan Perempuan
Dilahirkan dengan nama Atje Voorstad di Palembang, 20 Januari 1901, Aminah tumbuh menjadi pendidik yang mencurahkan hidupnya demi kemajuan perempuan pribumi. Bersama sang suami, ia mendirikan Meisje School pada 1928 — sekolah perempuan yang terletak di kawasan Yacob Steg (kini Jalan Mutiara, Samarinda). Di masa ketika pendidikan bagi perempuan masih dianggap mewah, Aminah menjadi sosok revolusioner.
Aminah tak hanya mengajar, ia juga memberikan les privat hingga usia senja. Murid-muridnya banyak yang kemudian menjadi figur penting di Kalimantan Timur, termasuk Lasiah Sabirin dan Jumantan Hasyim. Penghormatan terbesar datang pada 1970, saat makamnya dipindahkan dari Jakarta ke Samarinda tepat di Hari Kartini. Kini, namanya diabadikan sebagai nama jalan dan sekolah di ibu kota provinsi.
Salbiah: Srikandi di Balik Organisasi Pemuda
Salbiah bukan nama yang sering disebut dalam buku sejarah nasional. Namun semangat nasionalismenya membara dalam organisasi Rukun Pemuda Indonesia (Rupindo) yang lahir di Samarinda pada 1940. Bersama rekan-rekannya seperti Masriah, Halimatussa’diyah, dan Aad Sangadji, Salbiah terlibat aktif sebagai pengurus organisasi, langkah maju pada zamannya.
Puncak perannya tampak ketika ia menjadi delegasi dalam Kongres Gabungan Pemuda Indonesia Seluruh Kalimantan (Gappika) di Barabai, 26–29 Maret 1948. Dalam forum penting itu, ia berdiri sejajar dengan tokoh-tokoh pemuda nasional seperti Moeis Hassan dan Oemar Dachlan, membawa suara perempuan Kaltim dalam perjuangan kemerdekaan.
Djumanan Hasyim: Legislator Perempuan Pertama Kaltim
Pada era 1950-an, ketika politik daerah masih sangat maskulin, Djumanan Hasyim muncul sebagai sosok perempuan yang mencetak sejarah. Ia menjadi legislator perempuan pertama di DPRD Kalimantan Timur pada 1957, dan bahkan sempat menjabat sebagai Ketua DPRD.
Keberaniannya diuji pada masa krisis politik di awal 1959, saat terjadi dualisme pemerintahan antara APT Pranoto dan IA Moeis. Djumanan memimpin langsung sidang DPRD untuk merespons krisis ini, memperlihatkan integritas dan kepemimpinannya sebagai perempuan di tengah pusaran konflik politik.
Lo Beng Long (Dorinawati Samalo): Penggerak Pendidikan dari Tionghoa Samarinda
Dari etnis Tionghoa, nama Lo Beng Long — atau Dorinawati Samalo — layak disebut sebagai peletak dasar pendidikan tinggi di Kalimantan Timur. Pada 1962, ia menghibahkan rumahnya di Jalan Flores, Samarinda, yang kemudian menjadi lokasi pertama Universitas Mulawarman.
Bangunan itu kini menjadi Fakultas Ilmu Budaya Unmul, simbol warisan kontribusi perempuan Tionghoa bagi pembangunan daerah. Lebih jauh, Lo Beng Long juga aktif dalam kegiatan sosial di Gedung Nasional Samarinda dan pernah tercatat hadir dalam peringatan Proklamasi RI 1948 — bukti bahwa ia bukan sekadar filantropis, tapi juga patriot sejati.
Fatimah Moeis: Komandan Sukarelawati di Masa Dwikora
Ketika Bung Karno menyerukan Dwikora dan memanaskan konfrontasi dengan Malaysia, Kalimantan Timur sebagai wilayah perbatasan ikut bersiap. Salah satu yang mengambil peran penting adalah Fatimah Moeis, istri dari pejuang Moeis Hassan.
Lahir di Samarinda pada 8 Juni 1928, Fatimah aktif di organisasi sejak muda — dari kepanduan hingga menjabat bendahara bagian keputrian di Rupindo. Di masa Dwikora, ia ditunjuk menjadi Komandan Korps Sukarelawati Kalimantan Timur. Fatimah menjalani pelatihan militer di Jakarta, belajar baris-berbaris hingga menembak, untuk bersiap mempertahankan Tanah Air dari ancaman neo-kolonialisme.
Warisan Para Perempuan Bumi Etam
Seiring diterapkannya Politik Etis oleh pemerintah kolonial pada 1930-an, perempuan-perempuan Samarinda mulai membentuk organisasi, belajar baca-tulis, dan aktif dalam kegiatan sosial. Lahir pula organisasi seperti Persatuan Istri Islam Indonesia yang menggalang kekuatan kaum perempuan.
Pada masa Revolusi 1945–1949, mereka tidak tinggal diam. Perempuan Kaltim ikut mengorganisasi logistik, menyebarkan semangat perjuangan, dan menjadi tulang punggung perjuangan di belakang medan tempur.
Sejarah mencatat bahwa perjuangan perempuan tak hanya terjadi di pusat negeri. Dari Samarinda, Berau, hingga Mahakam Ulu — para perempuan ini ikut membangun pondasi bangsa. Hari Kartini seharusnya menjadi momen untuk mengenang tidak hanya Raden Ajeng Kartini, tapi juga mereka yang telah menorehkan jejak di tanah kelahirannya sendiri. (antara)

