EKSPOSKALTIM, - Bontang. Pilihan masyarakat menggunakan jasa transportasi juga didasari faktor keamanan dan kenyamanan.Hal ini bisa menjadi salah satu penyebab munculnya travel pelat hitam yang beroperasi di terminal Bontang.
“Ya, liat aja begitu, Mas. Kita kan juga mau yang nyaman,” kata seorang penumpang yang namanya tidak mau disebutkan.
Dishub Bontang tidak menampik adanya anggapan itu. Bahkan, perlu dilakukan uji kir armada yang beroperasi. Tapi, Kepala Dinas Perhubungan Bontang Sukardi mengaku tidak bisa berbuat banyak. Mengingat terminal Bontang di bawah kewenangan provinsi sesuai dengan UU No 23 Tahun 2014.
“Sudah menjadi kewenangan provinsi. Ya, cuma karena berada di wilayah kita (Bontang, Red) tetap menjadi perhatian kami. Secepatnya kita akan koordinasi dengan Dishub Provinsi,” sebutnya.
Namun keberadaan travel pelat hitam, menurutnya juga bisa menjadi pemasukan daerah, misal dari retribusi.
“Kalau kondisi sekarang kan seperti bebas-bebas saja,” tuturnya.
Sementara itu, anggota Komisi III DPRD Bontang M Dahnial menambahkan, berbagai opsi akan diusahakan supaya travel pelat hitam bisa sejalan dengan bus antarkota Bontang-Samarinda. Misalnya dengan membentuk badan usaha atau koperasi.
“Supaya ada pemasukan juga untuk daerah. Kan jadi ada manfaatnya untuk Bontang,” tuturnya.
Seperti diketahui, sempat terjadi polemik keberadaan travel pelat hitam Bontang-Samarinda yang beroperasi di sekitar terminal. Supir bus sempat melakukan aksi mogok selama 15 hari pada 21 Januari hingga 4 Februari lalu. Tuntutannya, travel pelat hitam tidak beroperasi di sekitar terminal.

