Persiba kini dihadapkan pada satu laga penentuan yang akan menentukan bertahan atau terdegradasi.
EKSPOSKALTIM, Balikpapan – Hasil imbang 1-1 kontra PSS Sleman di Stadion Batakan, Minggu (26/4/2026), memastikan Persiba Balikpapan harus melewati satu fase paling krusial musim ini, yakni play-off degradasi.
Satu poin dari laga tersebut tidak cukup mengangkat posisi Persiba dari peringkat 9 klasemen dengan 19 poin. Jarak dengan zona aman tak lagi terkejar, sehingga jalur play-off menjadi satu-satunya pintu bertahan di kompetisi.
Situasi ini menempatkan Persiba dalam skenario “hidup-mati” melawan Persekat Tegal, tim peringkat 9 dari Grup Barat. Berdasarkan perhitungan poin, laga penentuan itu berpotensi digelar di kandang lawan, menambah tekanan bagi skuad asal Balikpapan.
Padahal, dalam laga terakhirnya, Persiba menunjukkan daya juang kuat. Bermain dengan 10 orang sejak awal babak kedua usai kartu merah Rical Vieri, tim tuan rumah tetap mampu memaksa hasil imbang lewat gol Arsa Ramadan pada menit ke-89, setelah sebelumnya tertinggal oleh gol Gustavo Tocantins di menit ke-73.
Namun, hasil dramatis itu hanya menjadi penunda kepastian, bukan penyelamat.
Pelatih Persiba, Leonard Tupamahu, menegaskan fokus tim kini sepenuhnya beralih ke persiapan play-off. Ia menilai aspek mental akan menjadi kunci menghadapi tekanan laga penentuan, terutama jika harus bermain di kandang lawan.
“Sekarang kami fokus menyiapkan mental pemain. Laga play-off ini berbeda, tekanannya tinggi dan tidak ada ruang untuk kesalahan,” ujarnya.
Leonard juga mengisyaratkan evaluasi terhadap performa tim, meski secara permainan dinilai cukup kompetitif. Menurutnya, efektivitas dan ketenangan di momen krusial akan sangat menentukan hasil akhir.
Hasil imbang ini juga berdampak bagi PSS Sleman yang gagal mengunci posisi lebih cepat di papan atas. Namun bagi Persiba, menang, mereka bertahan. Gagal, degradasi jadi kenyataan.



