EKSPOSKALTIM.COM, Bontang - Perubahan cuaca tidak menentu di Bontang terjadi dalam sepekan ini. Kondisi itu berpotensi menimbulkan berbagai penyakit di masyarakat, di antaranya Demam Berdarah Denque (DBD).
Apalagi Bontang dinilai masih termasuk daerah rawan gigitan nyamuk aedes aegypti.
Olehnya, perlu antisipasi dini dalam mencegah penyakit mematikan tersebut. Seperti yang dilakukan Kelurahan Belimbing, Kecamatan Bontang Barat.
Baca juga : Buka Turnamen Selambai Cup 2021, Wali Kota Basri Ajak Jaga Sportifitas
"Kami mengajak kerja bakti warga termasuk pembersihan sanitasi untuk memberantas sarang nyamuk," kata Lurah Belimbing Dwi Andriyani, Selasa (16/11/2021).
Dalam penanganan kasus ini, kata dia, melibatkan kader-kader aktif Juru Pemantau Jentik (Jumantik) yang ada di setiap RT. Mereka akan memantau dan melaporkan jika ada penderita DBD di wilayahnya masing-masing. Kemudian dilaporkan ke Dinas Kesehatan untuk dilakukan tindakan, seperti penyemprotan massal (fogging focus), dan pembagian obat pemberantas nyamuk DBD (Abate).
"Langsung dilapor ke Dinkes untuk dilakukan tindakan, sebagai upaya pencegahan. Jadi semua pihak harus aktif dalam upaya pencegahan ini," imbuhnya.
Terpisah, Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinkes Bontang Muhammad Ramsi mengatakan, terkait kasus di Bontang masih di bawah pola maksimal yakni 38 kasus. Dan jumlah kasus itu sejak 2016.
“Ada kenaikan sedikit di Oktober 2021.Untuk itu, masyarakat harus tetap waspada,” imbau Ramsi.
Baca juga : Ciptakan SDM Unggul, Pemkot Bontang Gelar Sertifikasi Puluhan Instruktur
Sebagai informasi, data Dinas Kesehatan Bontang (Dinkes) Bontang mencatat, angka DBD di Kota Taman mulai meningkat. Di Oktober lalu tercatat 33 kasus di Kota Taman. Jumlah ini naik dibandingkan dua bulan sebelumnya hanya di kisaran 20 kasus.
Bahkan 10 bulan belakangan jumlah kasus terbanyak menyasar di Kelurahan Api-Api, totalnya 79 kasus. Termasuk satu kasus yang berujung kematian. Kemudian, disusul Tanjung Laut di urutan kedua dengan 61 kasus.

