Ada potensi peningkatan penularan campak di tengah tingginya mobilitas dan aktivitas silaturahmi selama Idul Fitri, terutama pada bayi dan balita.
EKSPOSKALTIM, Samarinda - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kalimantan Timur mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran campak seiring meningkatnya interaksi dan mobilitas warga selama Lebaran 1447 Hijriah.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kaltim, Fit Nawaty, mengatakan situasi ini meningkatkan risiko penularan, terutama pada kelompok rentan seperti bayi dan balita.
Ia menegaskan penanganan tidak cukup hanya mengandalkan fasilitas kesehatan, tetapi membutuhkan peran aktif masyarakat dalam pencegahan.
"Permasalahan kesehatan adalah tanggung jawab bersama. Diperlukan keterlibatan masyarakat melalui edukasi dan kesadaran kolektif," ujar Fit di Samarinda, Senin (23/3).
Dinkes secara khusus mengimbau orang tua untuk membatasi kontak bayi dan balita dengan kerumunan guna menekan potensi paparan virus.
Selain itu, masyarakat diminta disiplin menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), seperti mencuci tangan, menjaga asupan gizi, dan memastikan waktu istirahat cukup.
Fit menekankan pentingnya deteksi dini. Warga diminta segera membawa anggota keluarga ke fasilitas kesehatan apabila muncul gejala seperti demam, batuk, pilek, mata merah, dan ruam pada kulit.
Menurutnya, penanganan cepat diperlukan untuk mencegah kondisi berkembang menjadi komplikasi, termasuk gangguan pernapasan dan diare.
Dinkes juga mengingatkan bahwa penularan campak dapat terjadi meski dari individu yang belum menunjukkan gejala. Kelompok yang belum mendapatkan imunisasi, khususnya bayi di bawah usia sembilan bulan, disebut memiliki risiko lebih tinggi.
"Pemerintah terus berupaya mengejar cakupan imunisasi. Kami mengajak masyarakat untuk memastikan anak-anak mendapatkan imunisasi lengkap sesuai jadwal," kata Fit. (Ant)


