Super flu belakangan menjadi perhatian masyarakat. Pemberitaan mengenai influenza A(H3N2) subclade K memunculkan pertanyaan, apakah kita sedang menghadapi virus baru yang lebih berbahaya.
Oleh Laura Navika Yamani PhD
INFLUENZA A(H3N2) bukanlah virus baru. Virus ini merupakan salah satu penyebab influenza musiman yang telah beredar pada manusia selama beberapa dekade. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan bahwa subclade K merupakan bagian dari virus influenza musiman A(H3N2) yang mengalami perubahan genetik dan kemudian menyebar di berbagai wilayah dunia.
“Super flu” merupakan istilah populer untuk menggambarkan infeksi influenza A(H3N2) subclade K.
Gejalanya menyerupai infeksi saluran pernapasan lainnya, seperti demam, batuk, pilek, sakit tenggorokan, nyeri otot, sakit kepala, dan rasa lelah.
Pada sebagian orang, gejala dapat berlangsung lebih lama dan terasa lebih berat, terutama pada kelompok rentan, seperti anak kecil, lansia, ibu hamil, serta individu dengan penyakit penyerta.
Berdasarkan gejala saja, kita tidak dapat memastikan apakah seseorang terinfeksi subclade K atau kelompok influenza lainnya. Keberadaan subclade K tidak serta-merta menunjukkan bahwa virus tersebut lebih menular, berbahaya atau menyebabkan penyakit yang lebih berat.
Di tengah derasnya informasi tentang virus ini, yang dibutuhkan bukan kepanikan, melainkan pemahaman bahwa kepastian diagnosis tetap memerlukan pemeriksaan yang tepat.
Jika terjadi peningkatan kasus penyakit mirip influenza (influenza-like illness/ILI), sistem kesehatan harus mampu menangkap perubahan tersebut sedini mungkin.
Pemeriksaan laboratorium dapat membantu memastikan jenis virus yang beredar, sedangkan pemeriksaan molekuler dan whole genome sequencing (WGS) memberikan gambaran yang lebih mendalam mengenai karakteristik genetik virus.
Informasi ini penting untuk memahami apakah perubahan yang terjadi sekadar variasi virus yang biasa atau perlu mendapat perhatian lebih lanjut. Karena itu, di tengah kekhawatiran terhadap “super flu”, kita perlu memegang satu prinsip penting: surveilans sebelum spekulasi.
Menurut WHO Regional Office for the Western Pacific (WHO WPRO) per 10 September 2026, sejumlah negara di Asia Tenggara mengalami peningkatan aktivitas influenza.
Di Singapura, proporsi spesimen yang positif influenza dalam beberapa pekan terakhir berfluktuasi antara 24 persen hingga 37 persen, disertai tingginya kasus positif COVID-19. Di Brunei Darussalam, angka positif influenza mencapai 28 persen, meningkat dari sebelumnya 12 persen. Malaysia berada pada kisaran 19-20 persen, sementara di Vietnam meningkat dari 7 persen menjadi 20 persen.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI belum terlihat lonjakan kasus influenza yang mengkhawatirkan di Indonesia hingga September 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Influenza A(H3N2) subclade K telah terdeteksi di Indonesia sejak Agustus 2025. Hingga akhir Desember 2025, tercatat 62 kasus subclade K berdasarkan pemeriksaan WGS. Dari 843 spesimen positif influenza, sebanyak 348 spesimen telah menjalani pemeriksaan WGS. Seluruh virus yang terdeteksi merupakan varian yang telah dikenal dan juga ditemukan dalam sirkulasi global.
Hanya saja, terdapat perkembangan terbaru dari Kemenkes RI bahwa per pekan ketiga September 2026, terdeteksi kasus di 13 provinsi dan terbanyak ada di Jawa Timur dan Kalimantan Selatan.
Virus cerdik
Sebagai virus RNA, influenza mudah mengalami perubahan genetik dan antigenik dari waktu ke waktu. Virus ini seolah tidak pernah benar-benar “diam”. Perubahan tersebut dapat menghasilkan kelompok virus dengan karakteristik berbeda yang berpotensi mempengaruhi pola penularan dan interaksinya dengan sistem kekebalan tubuh.
Sifat zoonotik influenza juga menjadi perhatian. Virus influenza tertentu dapat beredar pada hewan dan dalam kondisi tertentu berpindah ke manusia.
Ketika berada pada inang baru, virus menghadapi lingkungan yang berbeda dan dapat mengalami proses adaptasi. Jika pada tahap tertentu virus mampu menular secara efisien antarmanusia, penyebarannya dapat meluas.
Kemampuan untuk terus berubah dan beradaptasi inilah yang membuat influenza mendapat perhatian global sebagai penyakit yang berpotensi menimbulkan pandemi. Meskipun demikian, pandemi tidak dapat diprediksi hanya dari munculnya satu subclade atau kelompok virus baru.
Risiko pandemi merupakan hasil interaksi berbagai faktor, termasuk perubahan genetik virus, kemampuan penularan antarmanusia, tingkat kekebalan populasi, dan kondisi epidemiologis.
Dengan demikian, kecerdikan virus justru menjadi alasan mengapa surveilans harus berjalan, sebelum terjadi krisis.
Surveilans influenza tidak seharusnya baru diperkuat ketika jumlah kasus sudah meningkat. Pemantauan perlu dilakukan secara berkelanjutan, baik pada manusia maupun hewan.
Perubahan genetik dan antigenik perlu diperhatikan untuk memahami bagaimana virus berkembang dan apakah perubahan tersebut memiliki implikasi terhadap kesehatan masyarakat.
Bagi Indonesia, kebutuhan tersebut semakin penting. Mobilitas penduduk yang tinggi dan kondisi geografis Indonesia memungkinkan terjadinya pergerakan manusia antardaerah secara intensif. Karena itu, surveilans perlu menghubungkan data dari fasilitas pelayanan kesehatan, laboratorium, dan analisis genom virus.
Surveilans genomik menjadi semakin penting dalam konteks ini. Kita tidak hanya perlu mengetahui berapa banyak kasus, tetapi juga virus apa yang beredar dan bagaimana virus tersebut berubah. Data tersebut dapat menjadi dasar bagi pengambilan keputusan kesehatan masyarakat dan memperkuat kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan perubahan epidemiologis.
Kewaspadaan
Hal yang perlu kita hindari adalah dua sikap yang berlawanan, yakni panik berlebihan dan menganggap remeh. Munculnya subclade baru memang perlu diperhatikan, tetapi tidak berarti setiap perubahan virus otomatis menunjukkan ancaman pandemi.
Data surveilans WHO menunjukkan bahwa subclade K telah terdeteksi di berbagai kawasan dan pada periode tertentu menjadi kelompok yang dominan di antara virus A(H3N2) yang terdeteksi. Perubahan virus juga menjadi salah satu pertimbangan dalam evaluasi dan pembaruan upaya intervensi, termasuk pengembangan vaksin influenza.
Artinya, perubahan virus bukan alasan untuk panik, tetapi merupakan alasan untuk memperkuat kewaspadaan. Masyarakat membutuhkan komunikasi risiko yang jernih agar dapat membedakan antara risiko yang perlu diantisipasi dan ancaman yang belum terbukti.
Pencegahan tetap menjadi bagian penting. Perilaku hidup bersih dan sehat, menjaga ventilasi, mencuci tangan, menggunakan masker ketika sedang sakit atau berada dalam kondisi berisiko, serta menghindari kontak dekat ketika mengalami gejala infeksi saluran pernapasan merupakan langkah yang dapat dilakukan.
Vaksinasi influenza juga merupakan salah satu instrumen pencegahan yang perlu dipertimbangkan sesuai rekomendasi tenaga kesehatan.
Karena itu, tantangan terbesar dari fenomena "super flu" bukan hanya virusnya, tetapi bagaimana kita merespons informasi tentang virus tersebut.
Kita membutuhkan masyarakat yang waspada tetapi tidak panik, tenaga kesehatan yang mampu mengenali dan menangani kasus dengan tepat, laboratorium dengan kapasitas pemeriksaan molekuler, serta sistem surveilans yang mampu mengintegrasikan data epidemiologi dan genomik.
"Super flu" seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat surveilans influenza di Indonesia, bukan menjadi sumber kepanikan. Dalam menghadapi virus yang terus berevolusi, pertahanan terbaik bukanlah ketakutan, melainkan data yang kuat, deteksi dini, komunikasi risiko yang benar, dan kesiapsiagaan sistem kesehatan.
Karena itu, mari kita kembali pada satu prinsip sederhana, yakni surveilans sebelum spekulasi. Caranya perkuat literasi, tambah intensitas diskusi, sehingga bisa fokus pada substansi presisi dan terhindar dari sikap yang mengarahkan kita pada sekedar sensasi apalagi kontroversi. (ant)
*) Penulis adalah Ketua Research Center on Global Emerging and Re-emerging Infectious Diseases, Sekretaris Lembaga Penyakit Tropis dan dosen Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga


