PORTAL BERITA ONLINE NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE BERANI BEDA..!! MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

Dari Gerobak Kelinci Samarinda hingga Istana Merdeka, Kisah Tak Terduga Andre Kawaru

Home Berita Dari Gerobak Kelinci Sama ...

Andre Kawaru tak pernah membayangkan akan menginjakkan kaki di Istana Merdeka. Penjual kelinci pasar malam asal Samarinda itu bahkan belum pernah naik pesawat dan belum pernah keluar Kalimantan.


Dari Gerobak Kelinci Samarinda hingga Istana Merdeka, Kisah Tak Terduga Andre Kawaru
Andre Kawaru memberi makan kelinci-kelincinya saat dikunjungi EksposKaltim. Ekspos/Sintya

EKSPOSKALTIM, Samarinda — Saat memperkenalkan sejumlah penerima manfaat program pemerintah dalam pidato kenegaraan, Presiden Prabowo Subianto turut menyebut sosok pedagang kelinci asal Samarinda yang kini memiliki rumah subsidi.

“Bapak Andre Kawaru dari Samarinda, ia berdagang kelinci dari pasar ke pasar malam hari,” beber Prabowo dalam pidato kenegaraan di Sidang Tahunan MPR dan Sidang Bersama DPD-DPR RI 2026 di Kompleks Parlemen Senayan, Jumat 14 Agustus 2026.

Nama Andre Kawaru mungkin tidak asing bagi sebagian warga Samarinda. Namun, tak banyak yang menyangka pedagang kelinci di pasar malam itu suatu hari akan disebut langsung oleh Presiden dari podium kenegaraan.

Bagi sebagian orang, Istana Merdeka mungkin hanya dapat terlihat dari layar televisi. Namun bagi Andre tempat itu rupanya menjadi titik yang nyaris tak pernah ia bayangkan akan didatanginya.

Andre bahkan baru pertama kali keluar dari Kalimantan dan baru pertama kali naik pesawat ketika mendapat undangan Presiden RI Prabowo Subianto mengikuti rangkaian perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Jakarta, 17 Agustus 2026. 

Lebih menarik lagi, kehadirannya bukan sekadar sebagai tamu, melainkan sebagai salah satu dari delapan sosok yang dipilih untuk merepresentasikan penerima manfaat sejumlah program pemerintah.

Andre menjadi perwakilan penerima manfaat rumah subsidi dari seluruh Indonesia.

Kisah itu bermula dari kehidupan yang jauh dari kemewahan.

Bertahun-tahun, Andre bersama istri dan putri semata wayangnya berpindah-pindah kontrakan dengan kondisi serba terbatas. Pandemi ikut memukul penghasilannya hingga ia harus mencari pekerjaan lain.

Di tengah kondisi ekonomi yang belum stabil, Andre menjalani lebih dari satu pekerjaan. Siang hari bekerja sebagai sales, malam hari berdagang di pasar malam.

“Siangnya saya sales, malamnya pasar malam. Jadi ambil dua job. Terus istri saya juga kerja,” ujar Andre kepada EksposKaltim, Jumat (21/8).

Namun pilihan itu kemudian berubah ketika ia dihadapkan pada satu persoalan siapa yang akan menjaga anaknya. Keputusan akhirnya diambil. Andre memilih meninggalkan pekerjaannya sebagai sales dan memusatkan penghasilan dari pasar malam.

“Tapi di saat itu saya berpikir, siapa yang menjaga anak, kan mau gimana pun, walaupun kita bayar orang menjaga, tetap aja ada yang kurang,” ungkapnya.

Konsekuensinya tidak ringan. Ia mengaku hampir setiap malam bekerja dan hanya libur ketika hujan atau bahkan ketiduran.

Di pasar malam, Andre bukan sekadar penjual kelinci. Ia membangun usaha dari konsep wahana bermain yang sederhana. Pengunjung membayar Rp10 ribu untuk memberi makan kelinci. Anak-anak bisa memegang sekaligus berfoto dengan hewan tersebut.

Kelinci yang awalnya hanya menjadi bagian dari wahana pasar malam itu kemudian berkembang menjadi komoditas dagangan. Andre kini menjual sejumlah jenis kelinci, seperti New Zealand dan Anggora, dengan harga mulai Rp90 ribu hingga Rp120 ribu.

Namun penghasilan dari kelinci jauh dari kata pasti.

“Kalau penjualannya untuk saat ini memang kurang, kalau saya akui memang kurang penjualannya,” ujarnya.

 
 
 
Lihat postingan ini di Instagram

Sebuah kiriman dibagikan oleh Ekspos Kaltim (@eksposkaltim)

 

Belakangan dirinya justru lebih mengandalkan pemasukan dari aktivitas memberi makan kelinci. Sebab, jika hanya mengandalkan penjualan, belum tentu setiap hari ada pembeli.

“Kalau kita berharap dari jualan, kalau jualan ini ya syukur-syukur ada yang beli,” ucapnya.

Kondisi itu membuat Andre harus terus beradaptasi dengan selera pengunjung pasar malam. Sebelum kelinci, ia pernah menjalankan wahana serok ikan lele, menjual ikan cupang hingga permainan lempar gelang.

“Cuma kelinci ini sih yang paling lumayan hasilnya,” kata dia.

Dari aktivitas yang tampak sederhana itulah Andre kemudian berhadapan dengan persoalan yang lebih besar untuk memiliki rumah sendiri.

Keputusan membeli rumah subsidi, menurut Andre, justru lebih dahulu didorong sang istri. Ia mengakui kondisi ekonominya ketika itu belum benar-benar stabil.

“Karena kondisi waktu itu belum stabil kan,” ujar dia.

Melalui program rumah subsidi pemerintah, Andre dan istrinya akhirnya memiliki kesempatan untuk keluar dari siklus kontrakan. Rumah di Palaran, Samarinda, menjadi tempat tinggal nyaman sekaligus rumah pertama atas nama mereka sendiri.

Namun perjalanan Andre dari pedagang pasar malam hingga menjadi salah satu wajah program rumah subsidi nasional terjadi secara tak terduga.

Saat Menteri Perumahan Maruarar Sirait melakukan kunjungan ke Samarinda, pihak pengembang memperkenalkan Andre sebagai pedagang kelinci di kawasan perumahan tersebut. Ketika itu, rumah Andre bahkan masih belum banyak tersentuh pembangunan.

Awalnya, Andre hanya diminta mengikuti pembuatan video untuk Kementerian PKP. Namun video itu ternyata bukan sekadar dokumentasi kunjungan.

Proses tersebut kemudian berlanjut hingga Andre berhadapan dengan Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) Republik Indonesia yang saat ini dijabat oleh Muhammad Qodari.

Ia kemudian dipilih menjadi salah satu dari delapan persona yang disiapkan untuk merepresentasikan sejumlah program pemerintah Presiden Prabowo.

Andre bahkan mengaku pemilihannya dirahasiakan dari Presiden Prabowo.

“Tiba-tiba aja saya dipilih. Bahkan Pak Prabowo pun nggak tau soal ini. Jadi waktu sidang di DPR, Pak Prabowo nggak tau kalau ada kami,” ungkap Andre.

Dari pasar malam menuju gedung DPR, lalu ke Istana Negara, perjalanan itu menjadi pengalaman yang sepenuhnya baru bagi Andre.

Ia berangkat pada 12 Agustus dan pulang 18 Agustus. Selama hampir sepekan, seluruh perjalanan dan fasilitas ditanggung penyelenggara. Ia juga diajak mengunjungi Taman Mini Indonesia Indah dan Monas.

“Perasaannya bisa dapet undangan senang banget,” ucapnya.

Bagi Andre, perjalanan itu bukan sekadar perjalanan ke Jakarta. Itu adalah perjalanan pertamanya keluar dari Kalimantan sekaligus pengalaman pertama menaiki pesawat.

“Pertama kali langsung ke Istana Negara. Meskipun macet. Tapi lebih nggak nyangka aja sih bisa ke sana. Seumur hidup baru itu pertama kalinya naik pesawat. Baru pertama kali juga keluar dari Kalimantan sama istri,” ungkapnya.

Meski berada di tengah momentum kenegaraan yang begitu besar, Andre menyimpan satu hal yang belum terwujud. Yakni, bertemu langsung dengan Presiden Prabowo.

Namun ketika namanya disebut di hadapan publik dan dilihat masyarakat Indonesia, rasa gugup tak bisa disembunyikan.

“Gugup banget. Jadi kita merasa kayak, wah bener aja nih kayaknya,” kata dia.

Dalam momentum tersebut, Andre tidak lagi sekadar tampil sebagai penjual kelinci. Ia ditampilkan sebagai contoh penerima manfaat program pemerintah, seorang pedagang pasar malam yang berhasil memiliki rumah melalui skema subsidi.

Bagi Andre, status itu terasa seperti sesuatu yang sulit dijelaskan.

“Pertama, senang sudah pasti. Yang kedua, nggak kepikiran sih masuk ke gedung DPR itu harus pakai undangan. Ke istana itu kayak, apa ya, nggak bisa digambarkan dengan kata-kata lah, ibaratnya kayak menang lotre lah,” jelasnya.

Pengalaman tersebut juga meninggalkan sejumlah kenang-kenangan sederhana. Andre mendapatkan merchandise berupa ID sekali pakai, botol sabun, handuk dan tumbler.

Sang istri juga memperoleh paket serupa dengan perbedaan warna. Namun di balik panggung Istana Negara dan sorotan perayaan kemerdekaan, kehidupan Andre tetap kembali pada realitas pasar malam.

Pendapatannya bergantung pada keramaian dan tanggal. Pada hari-hari tertentu, ia bisa memperoleh Rp200 ribu hingga Rp300 ribu sehari. Tetapi angka tersebut merupakan pendapatan kotor.

Pasar malam yang kini tidak selalu ramai membuat Andre harus membawa gerobak, anak, sekaligus puluhan kelinci untuk mencari penghasilan.

“Saya bawa gerobak ke pasar malam, bawa anak. Kadang bawa 25 ekor kelinci. Jadi semakin banyak kelincinya, semakin banyak pendapatannya,” jelas dia.

Ia masih ingin mengembangkan usaha kelincinya. Saat ini, stok diperoleh dari petani-petani lain dan Andre berencana mencari lebih banyak lagi.

“Mau dikembangin lagi kalau bisa,“ pungkasnya.


Editor : Maulana

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%0%0%0%
Sebelumnya :