EKSPOSKALTIM, Samarinda - Bubur peca' dan amparan tatak adalah dua hidangan khas berbuka puasa warga Kota Samarinda, Kalimantan Timur, yang kini menyandang status sebagai Warisan Budaya Tak Benda tingkat nasional berkat upaya pelestarian kuliner oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur.
Status tersebut bukan sekadar pengakuan administratif, melainkan legitimasi atas tradisi yang hidup dan terus dirawat masyarakat. Setiap Ramadan, dua sajian ini kembali menegaskan identitas kuliner lokal yang tidak terpisahkan dari ruang sosial dan keagamaan warga.
"Keistimewaan dua takjil yang sarat akan nilai budaya ini mencapai puncaknya pada bulan suci Ramadan. Bubur peca' hanya dihidangkan untuk berbuka puasa di masjid tertua Shirathal Mustaqiem, sedangkan amparan tatak adalah primadona jajanan takjil warga Samarinda," kata Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Timur Sih Sudiyono, Jumat (20/2).
Bubur peca' memiliki kekhususan tersendiri karena hanya disajikan di Masjid Shirathal Mustaqiem, masjid tertua di Samarinda, sehingga menghadirkan dimensi historis sekaligus spiritual dalam tradisi berbuka puasa. Sementara itu, amparan tatak justru hidup di ruang-ruang ekonomi rakyat, menjadi denyut utama pasar takjil musiman.
Tepat pada hari pertama ibadah puasa, kawasan Jalan Biawan, Samarinda langsung berubah menjadi pusat keramaian yang sesak oleh warga pemburu jajanan tradisional untuk menu berbuka.
Di tengah keramaian itu, para pedagang merasakan lonjakan permintaan yang konsisten setiap tahun. Amparan tatak menjadi salah satu yang paling cepat habis.
Haji Ichal selaku pedagang setempat menuturkan bahwa amparan tatak selalu ludes terjual dalam waktu singkat karena menjadi favorit incaran warga.
"Amparan tatak habis terus setiap hari. Kue laris yang lain itu ada sari pengantin dan juga lapis India," ujar Ichal yang menjajakan kue talam selama lebih dua puluh tahun.
Keberlanjutan tradisi ini tidak terlepas dari konsistensi para perajin kue menjaga cita rasa asli. Di tengah arus modernisasi kuliner, resep turun-temurun tetap dipertahankan sebagai identitas.
Keberkahan serupa turut dirasakan Awaliyah, seorang pedagang yang telah menjaga keaslian cita rasa kuenya selama enam belas tahun.
Ketekunannya memproduksi empat puluh loyang kue talam, termasuk amparan tatak setiap hari menjadi wujud dalam merawat kekayaan resep otentik warisan nusantara.
Dengan pengakuan sebagai Warisan Budaya Tak Benda tingkat nasional, bubur peca' dan amparan tatak tidak hanya menjadi simbol tradisi berbuka puasa, tetapi juga representasi keberlanjutan budaya lokal yang bertumpu pada masyarakat. Ramadan menjadi momentum ketika nilai budaya, spiritualitas, dan ekonomi rakyat bertemu dalam satu ruang yang sama.


