EKSPOSKALTIM, Kutim- Krisis air bersih yang diprediksi tejadi di penghujung tahun, menjadi kekhawatiran tersendiri bagi Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Tuah Benua Kutim.
Direktur PDAM Tirta Tuah Benua Aji Mirni Mawarni menyebut, di 5 kecamatan yang ada, ketika musim kemarau tiba selalu mengalami krisis air bersih. 5 kecamatan itu yakni, Sangatta Selatan, Teluk Pandan, Sandaran, Kaubun, dan Long Mesangat.
Berdasarkan data yang dihimpun, terparah krisis air terjadi pada penghujung tahun 2015-2016 lalu. Kala itu sumber air baku di Kota Tambang mengalami kekeringan. Pelayanan air bersih ke masyarakat sempat terhenti.
“Musim kemarau tahun lalu, PDAM Sangatta Selatan sempat berhenti produksi selama 2 bulan. Selain kekeringan pencemaran limbah tahu juga menjadi penyebabanya. Kalau di Kaubun, produksi terhenti selama 1 bulan,” ujarnya belum lama ini.
Kondisi serupa juga terjadi di PDAM Teluk Pandan. Telaga Bening yang jadi sumber utama air baku mengalami kekeringan. Air di telaga tersebut sampai nyaris kering kerontang.
Sementara sumber air telaga hanya mengandalkan tadahan air hujan. “Selain karena kuantitasnya yang kurang, kualitas air di Telaga Bening juga tidak begitu bagus. Kondisinya hampir sama dengan PDAM Sandaran.
Kalau air laut pasang, maka air baku yang disedot intek pasti asin, karena tercampur air laut,” katanya. Menurutnya solusi paling baik yang bisa diambil Pemda mengatasi krisis sumber air baku yakni membuat bendungan atau embung.
Jadi, ketika musim kemarau, itu bisa jadi alternatif mengantisipasi kekeringan, khususnya di titik Intek atau WTP PDAM.
“Seperti di Kaubun sudah kami usulkan ke Pemda supaya dibuatkan bendungan atau embung. Kalau untuk Sangatta Selatan, ada dua sumber sungai yang jadi alternatif. Salah satunya yakni sungai TNK,” pungkasnya.

