Karhutla di Samarinda tak berdampak langsung ke fisik ternak, tapi 30-35 persen lahan pakan alami terbakar. Peternak harus cari rumput lebih jauh, harga pikap naik dari Rp500 ribu jadi Rp750 ribu.
EKSPOSKALTIM, Samarinda - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Samarinda tahun ini tidak dilaporkan berdampak langsung terhadap kondisi fisik hewan ternak.
Namun kebakaran justru ganggu ketersediaan sumber pakan alami yang selama ini dimanfaatkan peternak untuk sapi dan kambing.
Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Ketapang Tani) Kota Samarinda, Maskuri, mengatakan dampak karhutla terhadap sektor peternakan lebih terlihat pada berkurangnya lahan sumber pakan.
Kondisi itu bikin peternak harus cari rumput ke lokasi lebih jauh atau keluar biaya tambahan untuk membelinya.
"Dampak terhadap hewan peliharaan secara langsung itu tidak ada. Tapi memang di ternak-ternak besar yang agak terganggu. Cuma terganggunya bukan ternaknya, tapi sumber pakan mereka yang banyak terbakar. Artinya petani bisa mengeluarkan biaya lebih," ujarnya, Senin (2/11/2026) kepada EksposKaltim.
Menurut Maskuri, perubahan mulai dirasa karena lahan yang sebelumnya mudah dijangkau untuk cari rumput ikut terbakar.
Padahal sebagian peternak masih andalkan rumput alami sebagai pakan harian.
"Harusnya peternak bisa ngarit rumput, sekarang lahannya terbakar, dia harus beli dan jauh jaraknya. Itu mengganggu dalam proses pemeliharaannya," jelasnya.
Berdasar pemantauan pihaknya, peternak di kawasan Lempake dan Tanah Merah kini harus cari rumput hingga ke Tanah Datar dan Sungai Siring.
Jarak pencarian yang makin jauh turut pengaruhi harga rumput di tingkat pemasok.
Jika sebelumnya rumput yang dibeli secara ikat atau borongan berkisar Rp350 ribu hingga Rp500 ribu per pikap, kini harganya dapat capai Rp750 ribu.
Maskuri perkirakan karhutla telah kurangi sekitar 30 hingga 35 persen lahan yang jadi sumber pakan ternak.
Berkurangnya area itu bikin peternak harus sesuaikan pola pemenuhan pakan, terutama bagi yang andalkan rumput dari sekitar lokasi pemeliharaan.
"Pun dengan begini kan yang jual rumput jadi agak kenaikan harga juga, karena mereka juga mengamankan rumput," ungkapnya.
Harga Jual Belum Naik, Peternak Tahan Sapi
Meski biaya pakan disebut meningkat, kondisi itu belum terlihat pada harga jual sapi di pasaran.
Maskuri menjelaskan perdagangan sapi di Samarinda masih didominasi pasokan dari luar daerah, seperti Nusa Tenggara Timur (NTT), Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Sulawesi.
Hingga kini belum ada kenaikan harga berdasar bobot hidup sapi dari daerah pemasok tersebut.
Sementara peternak lokal cenderung tahan ternaknya sampai capai bobot target sebelum dijual.
Bagi sebagian peternak keluarga, sapi tak semata dipandang komoditas bisnis, tapi juga jadi tabungan yang baru dilepas ketika nilainya dianggap sesuai harapan.
"Jadi mereka akan tahan itu. Karena mereka punya target, sebagai contoh, targetnya di 500 kg berat hidup. Sebelum mencapai itu mereka tidak akan jual," kata Maskuri.
Konsekuensinya, tambahan biaya justru muncul selama proses pemeliharaan dan penggemukan.
Ketika sumber pakan tak lagi mudah diperoleh, peternak harus keluar biaya lebih besar untuk jaga bobot ternak tetap sesuai target.
"Untuk mencapai itulah cost yang timbul akan bertambah saat sumber pakan mereka tidak terpenuhi," tambahnya.
Kondisi berbeda dengan sapi yang dikelola pedagang atau pelaku perdagangan ternak dari luar daerah.
Maskuri sebut sapi pasokan NTT dan NTB umumnya langsung didistribusikan setelah tiba di pasar hewan, sehingga waktu keberadaannya di pasar relatif singkat.
"Paling maksimal empat hari ada di pasar hewan, habis itu tersebar di kota kabupaten di Kaltim. Artinya itu menjadi tanggung jawab mereka. Jadi mereka belum terlalu meminimalkan nilai nominal pakan itu," jelasnya.
Keluhan Pilek Hewan Peliharaan Meningkat
Di luar persoalan pakan ternak, Ketapang Tani juga cermati peningkatan keluhan pilek pada hewan peliharaan selama Oktober.
Meski demikian, Maskuri belum dapat pastikan apakah peningkatan berkaitan dengan kualitas udara akibat karhutla.
Ia sebut dari sekitar 10 layanan kesehatan hewan dalam sehari, terkadang tiga di antaranya merupakan keluhan pilek. Padahal sebelumnya kasus serupa biasanya hanya muncul sekitar dua hingga tiga kali dalam sepekan.
Menurut Maskuri, jumlah kunjungan ke klinik hewan ini tak selalu menggambarkan keseluruhan kasus di masyarakat. Sebab keputusan pemilik untuk bawa hewan peliharaan berobat turut pengaruhi jumlah kasus yang tercatat.
Ia juga mengingatkan bahwa perubahan cuaca dari musim panas ekstrem menuju musim hujan perlu diantisipasi, terutama terhadap potensi penyakit pada unggas.
Mengingat hujan baru turun dalam beberapa hari terakhir, pihaknya mulai memantau kondisi peternak lewat komunikasi langsung.
"Biasanya transisi dari musim panas ekstrem ke hujan, itulah akan timbul nih terutama penyakit yang dari unggas," jelasnya.
Maskuri katakan pihaknya telah hubungi para peternak lewat telepon maupun pesan WhatsApp untuk menanyakan kondisi ternak, terutama pada peternakan unggas. Langkah itu dilakukan sebagai bagian mitigasi hadapi perubahan cuaca.
Sementara pelayanan kesehatan hewan lewat klinik dan Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) di Jalan Biola Samarinda tetap beroperasi setiap Senin hingga Jumat. Namun tindakan operasi dan sterilisasi dilakukan berdasar jadwal karena butuh persiapan serta ketersediaan dokter hewan.
Di sisi lain, Maskuri ingatkan masyarakat agar tak jadikan hewan peliharaan sekadar bagian tren atau gaya hidup.
Menurutnya, keputusan memelihara hewan harus disertai tanggung jawab terhadap kesehatan dan kebutuhan perawatannya.
"Jangan sampai hewan peliharaan ini jadi korban tren hidup, gaya hidup," pungkasnya.

