Racun udara yang kian memburuk tak hanya mengancam kesehatan warga, tetapi juga mulai merenggut daya tahan satwa.
EKSPOSKALTIM, Balikpapan - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya mengancam kesehatan manusia. Satwa pun ikut terdampak.
Dianmalia Vet Clinik di Balikpapan mencatat kasus gangguan pernapasan pada hewan peliharaan melonjak, sementara sejumlah monyet liar ditemukan lemas dengan saturasi oksigen rendah akibat terpapar asap pekat.
Dokter hewan Dianmalia Vet Clinic, Elisabeth Inike, mengungkapkan bahwa kasus gangguan pernapasan pada pasien hewan peliharaan meningkat signifikan sejak pertengahan September 2026.
"Sekitar 30 persen dari delapan hingga 10 hewan yang diperiksa setiap hari mengalami gangguan pernapasan. Keluhan ini terjadi selama satu bulan terakhir atau sejak pertengahan September 2026," ujar Elisabeth di kliniknya, Jumat (29/10).
Menurut Elisabeth, peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) pada hewan bahkan mencapai 50 persen dibanding hari-hari normal. Sebagian besar pasien datang dengan keluhan sesak napas berat akibat menghirup partikel asap pekat.
"Peningkatannya sangat tajam. Mulai dari bulan kemarin itu kasus ISPA bisa meningkat sampai 50 persen. Keluhan pasien beragam, mulai dari batuk, pilek, hingga sesak napas," ujarnya.
Kucing menjadi hewan yang paling mendominasi kasus ini, terutama kucing dengan pola pemeliharaan semi-indoor yang masih sering dibiarkan beraktivitas di luar rumah pada siang hari. Pasien yang mendominasi kunjungan klinik adalah hewan peliharaan domestik seperti kucing dan anjing.
Namun, situasi darurat karhutla ini juga menjangkau satwa liar yang habitatnya terdesak akibat asap pekat di sekitar kawasan hutan. Elisabeth juga sempat menangani beberapa ekor monyet liar yang ditemukan lemas di sekitar permukiman warga akibat terpapar polusi asap parah.
Sebagian satwa liar tersebut datang dalam kondisi kritis dan luka bakar, dengan saturasi oksigen yang sudah sangat rendah. "Beberapa kasus monyet liar tidak bisa tertolong karena sudah sangat lemas dengan saturasi oksigen yang sangat turun. Tapi bersyukurnya, beberapa kasus lainnya bisa tertolong dan sudah ada yang diperbolehkan pulang setelah menjalani rawat inap," tambahnya.
Peningkatan kasus gangguan pernapasan ini berimbas pada tingginya penggunaan terapi oksigen dan ruang inkubator di kliniknya untuk menangani pasien yang mengalami sesak napas berat.
"Partikel halus asap tetap bisa masuk dan terhirup, bahkan oleh hewan yang sepenuhnya berada di dalam rumah. Proses pemulihan paru-paru yang sudah terdampak asap membutuhkan waktu lebih lama," terangnya.
Waspadai Gejala Awal dan Risiko Pneumonia
Paparan asap karhutla yang terus-menerus memicu peradangan parah pada saluran pernapasan hingga jaringan paru-paru hewan (pneumonia). Elisabeth mengingatkan para pemilik untuk peka terhadap perubahan perilaku dan kondisi fisik peliharaannya karena hewan tidak dapat menyampaikan rasa sakitnya secara langsung.
Beberapa gejala awal yang patut diwaspadai meliputi penurunan nafsu makan dan minum, tubuh lemas, mata berair, batuk, hingga suara napas yang terdengar tidak biasa atau berbunyi "grok-grok".
"Gejala awal yang sering terlihat adalah batuk. Apabila tidak segera ditangani dan dibiarkan, hewan berisiko mengalami masalah kesehatan yang jauh lebih serius hingga menyebabkan pneumonia," tegas Elisabeth.
Jika kondisi tersebut tidak segera mendapat pertolongan medis, saturasi oksigen hewan akan turun dan berakibat fatal. Untuk menangani pasien dengan sesak napas berat, klinik menerapkan penanganan intensif menggunakan full oxygen chamber (ruang oksigen murni) serta pemberian obat antiinflamasi, antibiotik, dan multivitamin untuk mendukung proses pemulihan.
"Penanganan utamanya kita harus berikan full oxygen chamber, jadi oksigen murni dimasukkan ke dalam inkubator khusus. Mengingat lonjakan pasien sesak napas ini, penggunaan oksigen di klinik meningkat sangat drastis dalam sebulan terakhir," terang dia.



