Hampir 10 ribu kasus ISPA tercatat di Samarinda hingga 23 Oktober, ketika ancaman karhutla belum berakhir.
EKSPOSKALTIM, Samarinda – Hampir 10 ribu kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) tercatat di Samarinda sepanjang 1–23 Oktober 2026, ketika kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi ancaman bagi kualitas udara.
Kelompok usia 20–45 tahun mendominasi rekapitulasi kasus, sementara Dinas Kesehatan (Dinkes) Samarinda tetap mengerahkan tenaga medis di wilayah terdampak dan menyiapkan layanan oksigen gratis bagi warga yang mengalami sesak napas.
Data Dinkes Samarinda hingga 23 Oktober mencatat 9.970 kasus ISPA berdasarkan kelompok usia. Sebanyak 2.561 kasus atau 25,69 persen di antaranya berada pada rentang usia 20–45 tahun. Berikutnya, kelompok usia 5–9 tahun mencatat 1.607 kasus atau 16,12 persen, disusul usia 1–4 tahun sebanyak 1.567 kasus atau 15,72 persen.
Sementara itu, kelompok usia 46–59 tahun mencatat 1.145 kasus, usia 10–14 tahun sebanyak 988 kasus, usia 15–19 tahun sebanyak 855 kasus, dan kelompok usia 60 tahun ke atas sebanyak 804 kasus. Adapun bayi di bawah satu tahun tercatat 443 kasus.
Kepala Dinkes Samarinda, Ismed Kusasih, menjelaskan besarnya jumlah kasus pada kelompok usia 20–45 tahun berkaitan dengan proporsi penduduk pada rentang umur tersebut serta tingginya aktivitas di luar ruangan.
“Karena memang di rentang usia itu kan paling banyak jumlah penduduk. Kemudian usia produktif itu ya yang paling besar, mereka paling banyak beraktivitas di luar,” ujar Ismed.
Menurut dia, aktivitas pekerjaan dan kegiatan pelajar turut membuat masyarakat lebih sering berkontak langsung dengan kondisi cuaca di luar ruangan. Meski demikian, distribusi kasus berdasarkan usia belum cukup untuk memastikan seberapa besar kontribusi paparan asap karhutla terhadap keseluruhan kasus ISPA di Samarinda.
Di tengah situasi tersebut, Dinkes Samarinda menyatakan pelayanan kesehatan di wilayah terdampak karhutla tetap berjalan. Tenaga medis, mulai dari dokter hingga perawat, terlibat dalam penanganan sebagai bagian dari tugas satuan tugas (satgas).
Ismed menyebut Puskesmas Makroman dan Puskesmas Palaran sebagai fasilitas kesehatan yang tetap menjalankan pelayanan di wilayah yang berkaitan dengan penanganan dampak karhutla.
“Karena kita masuk dalam satgas, memang merupakan kewajiban kita,” katanya.
Selain memastikan pelayanan di wilayah terdampak, Dinkes mengimbau masyarakat tetap menggunakan masker, terutama ketika beraktivitas di luar ruangan saat kondisi udara memburuk.
Ismed mengatakan Samarinda bersama sepuluh kabupaten/kota di Kalimantan Timur (Kaltim) masuk dalam tujuh provinsi yang mendapat perhatian Kementerian Kesehatan terkait kasus karhutla. Namun, ia menilai jumlah kasus ISPA di Samarinda belum sebesar yang terjadi di sejumlah daerah lain di Kalimantan.
“Tapi kalau dibandingkan, terutama kalau dibandingkan dengan Kalsel dan Kalteng, ISPA kita jauh tidak separah di sana,” ujarnya.
Rumah Oksigen Gratis, Makroman Dipertimbangkan Menyusul
Langkah lain yang disiapkan Dinkes Samarinda adalah layanan rumah oksigen di Puskesmas Lempake. Fasilitas ini ditujukan bagi masyarakat yang mengalami sesak napas dan membutuhkan bantuan oksigen medis secara gratis.
Ismed menjelaskan, penyediaan rumah oksigen merupakan tindak lanjut arahan kementerian bagi daerah yang menghadapi pencemaran udara berat. Puskesmas Lempake dipilih dengan mempertimbangkan potensi wilayah tersebut terdampak kondisi udara.
Fasilitas itu telah dapat dimanfaatkan masyarakat. Berdasarkan data ketersediaan yang disampaikan Dinkes, Puskesmas Lempake memiliki 25 tabung oksigen, terdiri atas enam tabung berukuran besar, lima tabung sedang, dan 14 tabung kecil.
Ketersediaan oksigen dipantau secara berkala untuk mendukung kebutuhan darurat maupun pelayanan rutin pasien. Pengadaan dan pengelolaan fasilitas tersebut sementara menggunakan dana Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) puskesmas. Dinkes juga mempertimbangkan pengembangan rumah oksigen di Puskesmas Makroman.
“Karena wilayah Kecamatan Sambutan ini salah satu opsi berikutnya, kita memperhitungkan kebutuhan pelayanan dan potensi dampak kabut asapnya,” pungkasnya.



