PORTAL BERITA ONLINE NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE BERANI BEDA..!! MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

Rupiah Tembus Rp18.009/USD: Dampak Sistemik, Intervensi BI, dan Skenario ke Depan

Home Berita Rupiah Tembus Rp18.009/us ...

Rupiah Tembus Rp18.009/USD: Dampak Sistemik, Intervensi BI, dan Skenario ke Depan
Tekanan terhadap mata uang Garuda dipicu oleh lonjakan harga minyak mentah Brent hingga di atas US$108 per barel akibat ketidakpastian geopolitik di Selat Hormuz, serta tingginya permintaan dolar dari importir domestik.

EKSPOSKALTIM , Jakarta — Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mencatatkan sejarah baru dengan menembus tingkat psikologis Rp18.000 per dolar AS pada perdagangan spot hari ini.

Berdasarkan data pasar finansial terbaru, mata uang Garuda bergerak melemah secara beruntun dan sempat menyentuh level Rp18.009 per dolar AS.

Tekanan ini dipicu oleh melonjaknya indeks dolar AS, tingginya permintaan dolar domestik dari para importir, serta meningkatnya geopolitik di Selat Hormuz yang mendorong kenaikan harga minyak mentah Brent hingga di atas US$108 per barel.

“Pelemahan nilai tukar rupiah hari ini sangat dipengaruhi oleh berlanjutnya kekhawatiran atas tekanan inflasi global dan risiko fiskal, sejalan dengan masuknya harga minyak dunia yang menekan mayoritas mata uang di kawasan Asia.” kata Erwin Gunawan Hutapea, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia (BI).

Efek Domino Lonjakan Minyak Dunia dan Risiko Fiskal

Kenaikan harga minyak Brent yang menembus US$108 per barel menjadi pukulan ganda bagi perekonomian domestik. Sebagai negara importir bersih minyak (net oil importer), hal ini memicu pembengkakan biaya impor migas secara drastis.

Kondisi tersebut tidak hanya memperlebar defisit transaksi berjalan (current account defisit), tetapi juga menekan anggaran belanja negara akibat potensi digunakannya subsidi energi.

Tekanan fiskal inilah yang membuat investor cenderung melakukan aksi ambil untung (profit Taking) dan memindahkan dana mereka ke aset safe-haven berbasis dolar AS.

Dampak Langsung ke Sektor Riil dan Manufaktur

Pelemahan rupiah hingga ke level Rp18.009 mulai memicu alarm bagi sektor industri manufaktur nasional yang memiliki ketergantungan tinggi pada bahan baku impor. Industri farmasi, elektronik, dan otomotif diprediksi akan mengalami kenaikan biaya operasional dalam waktu dekat.

Jika pelemahan ini berlangsung lebih dari satu kuartal, kemungkinan besar produsen akan membebankan kenaikan biaya kepada konsumen (pass-through effect), yang pada gilirannya dapat memicu terjadinya inflasi barang-barang pokok di dalam negeri.

Intervensi Strategi Bank Indonesia

Menghadapi situasi kritis ini, Bank Indonesia menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas nilai tukar agar tidak bergerak ke luar fundamentalnya.

BI dipastikan mengoptimalkan strategi Triple Intervention di tiga lini pasar secara simultan:

Pasar Spot: Membanjiri likuiditas dolar untuk meredakan ketakutan jangka pendek.

Pasar DNDF (Domestic Non-Deliverable Forward): Menjaga ekspektasi kurs di masa depan agar pelaku usaha tidak melakukan spekulasi berlebihan.

Pasar SBN (Surat Berharga Negara): Melakukan pembelian SBN di pasar sekunder untuk menstabilkan tingkat imbal hasil (yield) yang sempat ditekan.

Di sisi lain, instrumen sekuritas jangka pendek seperti SRBI (Sekuritas Rupiah Bank Indonesia) akan terus dioptimalkan dengan penawaran imbal hasil yang menarik demi menjaring kembali arus modal asing masuk (capital inflow).


Editor : Maulana

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%0%0%0%
Sebelumnya :
Berikutnya :