EKSPOSKALTIM, Samarinda – Risiko resesi dan perlambatan perekonomian dunia kembali menguat seiring terjadinya guncangan harga energi serta kebijakan moneter ketat dari sejumlah bank sentral utama.
Berdasarkan laporan pembaruan Interim Economic Outlook Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD), serta data Departemen Urusan Ekonomi dan Sosial PBB (UN DESA) yang dirilis pada Rabu, 23 September 2026, pertumbuhan ekonomi global diprediksi akan bertahan di level 2,6 persen untuk tahun ini, berada jauh di bawah rata-rata pra-pandemi yang mencapai 3,2 persen.
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah akibat eskalasi perang yang melibatkan Iran menjadi pemicu utama melonjaknya harga komoditas energi global.
Harga minyak mentah jenis Brent dilaporkan melonjak hingga kisaran US$100 hingga US$102 per barel.
Kondisi ini memicu kembali tekanan inflasi (sticky inflasi) dan memaksa bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed), menaikkan suku bunga acuan secara agresif ke level 3,75 persen hingga 4 persen di bawah kepemimpinan Ketua The Fed saat ini.
Langkah pengetatan moneter serupa dilakukan oleh Bank of England (BoE) yang mempertahankan suku bunga tinggi di level 3,75 persen akibat batas harga energi di Inggris yang melonjak.
Imbasnya, imbal hasil obligasi negara (Treasury imbal hasil) jangka panjang di berbagai negara maju mulai naik, yang mendorong ruang fiskal dan memicu pelepasan modal dari pasar berkembang (pasar berkembang) PBB.
Di tengah lesunya pertumbuhan makro, muncul optimisme dari sektor perdagangan internasional dan teknologi.
Pasar global menaruh harapan besar pada rencana pertemuan bilateral antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping di Washington pekan ini.
Pertemuan ini bertujuan untuk menegosiasikan perpanjangan gencatan senjata dagang sebelum mencapai batas waktu November, mencakup isu tarif, kontrol ekspor rare earth, hingga pengembangan kecerdasan buatan (AI).
Selain itu, laporan PBB menunjukkan volume perdagangan barang dunia tetap mampu ekspansi sebesar 5,4 persen. Hal ini ditopang kokoh oleh tingginya permintaan global terhadap produk semikonduktor, elektronik, serta ekosistem infrastruktur kecerdasan buatan PBB.
Kendati demikian, Dana Moneter Internasional (IMF) mengingatkan perlunya antisipasi terhadap polarisasi pasar energi kerja, mengingat gelombang adopsi AI berpotensi mempengaruhi hingga 60 persen struktur lapangan kerja di negara-negara maju.
Lembaga multilateral sepakat bahwa risiko perekonomian ke depan masih condong ke bawah (downside risk).
Perkembangan negara-negara diimbau memperkuat benteng domestik guna volatilitas nilai tukar dan mengaktifkan biaya luar utang negeri akibat suku bunga global yang diperkirakan bertahan tinggi dalam waktu lebih lama (lebih tinggi untuk waktu yang lebih lama). (redaksi)

