EKSPOSKALTIM, Samarinda– Pemerintah menyatakan pemadaman listrik bergilir di Kalimantan Timur (Kaltim) yang kembali terjadi belakangan waktu berkaitan dengan gangguan pada sejumlah pembangkit swasta atau Independent Power Producer (IPP) yang menopang sistem kelistrikan Kalimantan.
Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud mengungkapkan gangguan tersebut berdampak terhadap kapasitas pembangkit sekitar 100 megawatt (MW). Kondisi itu disampaikannya setelah bertemu dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) belum lama ini untuk membahas persoalan ketenagalistrikan di Kaltim.
Menurut Rudy, persoalan yang terjadi bukan karena pasokan batu bara. Gangguan justru berada pada mesin pembangkit yang secara bersamaan menjalani pemeliharaan besar atau overhaul.
“Beberapa IPP yang ada di Kalimantan ini yang men-support Kalimantan, khususnya Kalimantan Timur, terjadi kerusakan,” kata Rudy,Senin (21/9).
Berdasarkan penyampaian pihak Kementerian ESDM, kapasitas yang terdampak akibat gangguan tersebut berada di kisaran 100 MW. Pemerintah berharap proses perbaikan dapat segera dituntaskan sehingga tekanan terhadap sistem kelistrikan Kaltim berangsur berkurang.
Rudy menegaskan kondisi tersebut tidak berkaitan dengan persoalan ketersediaan batu bara untuk pembangkit. Permasalahan berada pada mesin pembangkit yang mengalami gangguan dan pada waktu yang berdekatan harus menjalani maintenance atau overhaul.
“Masalahnya bukan batubaranya, tapi yang bermasalah adalah engine-nya,” ujarnya.
Persoalan utama yang kini ditunggu masyarakat bukan hanya penyebab gangguan, tetapi kapan pemadaman bergilir tersebut berakhir. Pasalnya, gangguan pasokan listrik berdampak langsung terhadap aktivitas masyarakat dan kegiatan usaha, sementara pemadaman kembali menjadi persoalan di tengah upaya pemerintah memperkuat sistem kelistrikan Kaltim.
Rudy menyebut pemerintah telah mendapatkan gambaran waktu penanganan dari Kementerian ESDM. Berdasarkan informasi tersebut, masa pemadaman akibat kondisi pembangkit ini diharapkan tidak berlangsung lebih dari 10 hari.
“Yang jelas disampaikan kemarin tidak lebih daripada 10 hari. Mudah-mudahan sudah bisa berkurang atau sudah tidak terjadi lagi di Kalimantan,” tutup Rudy.


