EKSPOSKALTIM, Samarinda — Perbaikan kualitas udara di Samarinda belum serta-merta menghapus dampak kesehatan dari kabut asap karhutla. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Samarinda mencatat kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) sepanjang September 2026 meningkat hampir 30 persen.
Angka tersebut menjadi perhatian karena kenaikan kasus terjadi setelah paparan kabut asap berlangsung dalam beberapa pekan. Bahkan, peningkatannya lebih tinggi dibandingkan kenaikan kasus pada Agustus yang berada di kisaran 22 persen dibandingkan Juni dan Juli.
Kepala Dinkes Samarinda Ismed Kusasih mengatakan pemantauan tidak hanya mengandalkan data kualitas udara dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) maupun kondisi cuaca dari BMKG. Dinkes juga menghimpun perkembangan kesehatan masyarakat melalui 26 puskesmas di Samarinda.
“Selain kita berpijak dari hasil BMKG dan kualitas udara dari DLH, kami juga dari dinkes sebenarnya juga memantau dari teman-teman di 26 puskesmas,” ujar Ismed (18/9).
Menurutnya, puskesmas memiliki tenaga sanitarian yang turut melakukan pemantauan menggunakan Particle Counter, perangkat untuk menilai kualitas udara di dalam ruangan. Dari pemantauan kasus penyakit tersebut, ISPA menjadi salah satu indikator yang mulai menunjukkan dampak paparan udara buruk.
“Yang jelas meningkat itu kurang lebih di atas hampir 30 persen,” jelasnya.
Data kualitas udara terbaru menunjukkan kondisi tidak lagi seburuk pemantauan sebelumnya. Namun, angka AQI 147 masih menempatkan Samarinda pada kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif, sedangkan PM2.5 tercatat 54,3 µg/m³. Meski demikian Dinkes tidak menjadikan perbaikan sesaat tersebut sebagai alasan untuk menurunkan kewaspadaan.
Ismed mengatakan langkah pembatasan aktivitas luar ruang, termasuk keputusan pemerintah mengalihkan pembelajaran tatap muka menjadi PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) diharapkan dapat menahan laju peningkatan kasus.
“Kita harapkan peningkatannya tidak signifikan,” sebutnya.
Di sisi lain, Dinkes memastikan fasilitas pelayanan kesehatan tetap disiapkan apabila terjadi peningkatan pasien.
Koordinasi juga dilakukan bersama Kementerian Kesehatan dan seluruh kabupaten/kota di Kaltim, terutama terkait kebutuhan masker dan perlengkapan penanganan dampak kabut asap.
“Tapi kalau melihat dari kesiapan pengobatan dan peralatan alat-alat kesehatan untuk mengantisipasi ini insyaallah siap,” ujar Ismed.
Data ISPA yang digunakan Dinkes, lanjut Ismed, masih terus dihimpun dari seluruh fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP), terutama 26 puskesmas serta sejumlah fasilitas kesehatan swasta.
Enam Kelompok Rentan Diminta Lebih Waspada
Di tengah kondisi udara yang masih fluktuatif, Dinkes kembali menekankan perlindungan kelompok rentan. Ismed menyebut setidaknya ada sejumlah kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi ketika terpapar polutan udara.
“Salah satunya balita, bayi dan anak-anak sekolah, kemudian ibu hamil, kemudian juga orang-orang yang mempunyai penyakit paru kronis,” sebutnya.
Kelompok dengan penyakit jantung dan masyarakat yang memiliki daya tahan tubuh rendah juga diminta lebih berhati-hati karena paparan udara tercemar dapat memperbesar risiko munculnya gangguan pernapasan.
“Karena kemungkinan timbul sesak itu juga besar,” ujarnya.
Karena itu, Ismed menilai penanganan ISPA tidak cukup hanya mengandalkan fasilitas kesehatan ketika warga sudah sakit. Pencegahan di tingkat masyarakat menjadi bagian penting untuk menekan dampak paparan asap.
“Karena biar bagaimanapun ini tidak bisa hanya dilakukan oleh dinas kesehatan, tapi yang penting kesadaran,” tegas Ismed.
Sebab itu pihaknya menganjurkan warga yang harus beraktivitas di luar rumah menggunakan perlindungan pernapasan yang memadai.
“Yaitu menggunakan APD masker bedah. Nanti mau dilapisi dengan kain itu boleh. Atau yang satunya N95,” pungkasnya.


