PORTAL BERITA ONLINE NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE BERANI BEDA..!! MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

Samarinda Mulai Bernapas, tapi Satu IPA Masih Dikepung Air Asin

Home Berita Samarinda Mulai Bernapas, ...

Krisis air asin yang sempat mengganggu produksi air bersih di Samarinda mulai mereda, meski ancaman belum benar-benar pergi. 


Samarinda Mulai Bernapas, tapi Satu IPA Masih Dikepung Air Asin
Kondisi terkini air Sungai Mahakam di kawasan Jembatan Mahkota Samarinda. Ekspos/Sintya

EKSPOSKALTIM, SAMARINDA — Tekanan terhadap layanan air bersih di Samarinda mulai mereda setelah kadar klorida air baku Sungai Mahakam kembali turun di sejumlah titik. Perumda Tirta Kencana menyatakan pelayanan telah kembali ke kondisi normal pada Senin (14/9) setelah sebelumnya 10 Instalasi Pengolahan Air (IPA) harus mengurangi jam operasional akibat tingginya kadar klorida yang dipicu intrusi air laut.

Asisten Manajer Humas Perumda Tirta Kencana, Cevi Wahyudi, mengatakan kondisi pada 14 September sudah kembali normal. Dari sejumlah IPA yang sebelumnya terdampak, kini hanya IPA Bantuas yang masih belum beroperasi penuh karena kadar klorida masih tinggi.

“Hari ini kita sudah ke kondisi normal. Yang sebelumnya ada informasi krisis untuk aliran air kita yang sudah masuk ke IPA Tirta Kencana sampai ke Samarinda Seberang, sama Gunung Lipan,” kata Cevi, Senin (14/9).

Hasil pemantauan laboratorium pada 12 September menunjukkan kadar klorida di sejumlah IPA mulai kembali memenuhi standar. Kondisi tersebut kemudian berangsur membaik hingga pada Minggu (13/9) hanya menyisakan beberapa titik yang masih berada dalam kondisi waspada.

“Setelah dipantau lagi untuk klorida beberapa IPA sudah kembali, sudah memenuhi sesuai standar, instruksi air asin kita untuk IPA Selili dan Sungai Kapih sudah kembali normal lagi,” ujarnya.

Bantuas Masih Jadi Titik Kritis

Meski sebagian besar layanan telah pulih, Perumda belum sepenuhnya melepas kewaspadaan. IPA Bantuas masih menjadi satu-satunya instalasi yang belum kembali normal karena kadar klorida di sumber air bakunya masih tinggi.

“Karena masih tinggi kloridanya. Tapi untuk IPA Selili, Kalhol dan Pulau Atas sudah beroperasi normal,” jelas Cevi.

Kondisi tersebut membuat Perumda belum menerapkan penghentian layanan secara total. Pengaturan masih dilakukan melalui pengurangan jam operasional dan produksi akan dihentikan sementara apabila kadar klorida kembali meningkat.

“Kalau memang keadaan kloridanya tinggi, kita stopkam lagi. Kalau tidak kita jalankan lagi,” katanya.

Cevi menegaskan selama periode krisis sebelumnya tidak pernah ada penghentian pelayanan selama 24 jam penuh. Pengurangan jam operasional dilakukan secara situasional mengikuti hasil pengukuran kualitas air baku.

Pengawasan pun dilakukan jauh lebih ketat. Saat kondisi berada pada level siaga hingga kritis, pengukuran kadar klorida dilakukan setiap 15 menit. Jika kadar turun dan memenuhi standar, produksi kembali dijalankan. Sebaliknya, ketika kadar kembali meningkat, operasional dihentikan sementara.

“Setiap 15 menit sekali kita pantau apabila kloridanya menurun, kita produksi, apabila naik, kita stop lagi,” ujar Cevi.

Sebelumnya, kadar klorida di Sungai Mahakam sempat menembus lebih dari 1.000 ppm sehingga Perumda melakukan pengurangan jam operasional pada 10 IPA. Standar pengoperasian kembali diberlakukan ketika kadar klorida sumber air baku berada di bawah ambang yang ditetapkan.

Pulihnya produksi di sebagian besar IPA belum otomatis membuat aliran air ke pelanggan langsung normal sepenuhnya. Perumda masih melakukan pengisian jaringan lantaran sebelumnya sejumlah pipa dalam kondisi kosong akibat penyesuaian operasional.

Ia mengatakan, apabila masih ada pelanggan yang belum mendapatkan aliran, kondisi tersebut tidak selalu berarti produksi kembali terganggu. Sebagian jaringan masih membutuhkan waktu untuk kembali terisi.

“Mudah-mudahan malam ini sudah merata semua untuk aliran,” kata Cevi.

Sementara bantuan air bersih kini tidak lagi didistribusikan secara luas seperti saat kondisi kritis. Menurut Cevi, layanan bantuan hanya akan kembali dibuka apabila kondisi di lapangan kembali memburuk, terutama jika kadar klorida di IPA Bantuas kembali meningkat.

Cevi menyebut kadar klorida terbaru di Bantuas berada di atas 1000 pp (per jam 11.53 WITA). Keputusan itu juga diambil untuk mencegah air bantuan dimanfaatkan pihak yang tidak bertanggung jawab.

“Takutnya nanti digunakan sama oknum-oknum lain untuk menjual air kita. Makanya kita tutup untuk kondisi normal sekarang,” ujarnya.

Untuk mekanisme bantuan yang sebelumnya telah disalurkan, Perumda tidak menggunakan data secara terpisah, melainkan mengikuti pendataan terpusat melalui Satgas. Data kebutuhan masyarakat kemudian diteruskan melalui RT hingga keluarga penerima.

Meski status pelayanan telah kembali normal, Perumda Tirta Kencana belum menganggap persoalan selesai. Cevi menyebut pemantauan akan kembali difokuskan dalam 10 hari ke depan, terutama terhadap kondisi hulu dan kemungkinan turunnya hujan.

Ia meminta masyarakat memanfaatkan kondisi normal ini untuk menampung air dan menggunakannya secara bijak.

“Mudah-mudahan dihulu ada hujan, di Samarinda ada hujan juga, sehingga tidak ada lagi instruksi air asin lagi,” pungkasnya.

Teks foto: Kondisi air Sungai Mahakam di kawasan Jembatan Mahkota Samarinda. /Sintya


Editor : Maulana

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%0%0%0%
Sebelumnya :
Berikutnya :