Pemkot kini mencoba merapikan arus perdagangan dengan mengumpulkan pedagang yang lokasinya masih tercecer ke lantai 6 dan 7.
EKSPOSKALTIM, Samarinda— Usai sempat diwarnai ketegangan mengenai pembagian lapak di gedung baru Pasar Pagi, kini Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda mulai merapikan lokasi jualan yang masih terpencar agar aktivitas pasar kembali hidup.
Arah tersebut mulai terlihat dari hasil dialog antara Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Samarinda dan para pedagang belum lama ini. Kedua pihak sepakat mengarahkan lantai 6 dan 7 sebagai kawasan grosir, sekaligus menjadi ruang untuk merapikan keberadaan pedagang yang memiliki lapak terpencar di beberapa lantai.
Kepala Disdag Samarinda, Nurrahmani, mengatakan kesepakatan tersebut dicapai dalam pertemuan bersama pedagang. “Hasil dari rapat kemarin sudah sepakat semua setuju lantai 6-7 untuk grosir,” sebutnya.
Menurutnya, penataan itu berangkat dari kondisi lantai atas yang sebelumnya belum terkonsolidasi. Disdag kemudian membuka kesempatan bagi pedagang yang memiliki lapak di lantai bawah untuk menggabungkan aktivitas dagangnya ke lantai 6 dan 7.
Namun, skema tersebut tidak bisa dilakukan dengan asumsi masih banyak ruang kosong yang bebas diatur pemerintah. Nurrahmani menegaskan, ruang perdagangan di Pasar Pagi pada dasarnya telah terisi sehingga pemerintah harus mengetahui terlebih dahulu berapa banyak lapak yang dimiliki masing-masing pedagang sebelum menentukan pola konsolidasinya.
“Supaya kami bisa mengatur. Karena ini bukan mengatur tempat kosong tapis sudah terisi semua. Juga ada tempat transit yang kami perlukan,” kata Nurrahmani.
Nurrahmani menyebut penataan selanjutnya akan melibatkan tim penertiban dan penataan Pasar Pagi. Namun dirinya menegaskan, penertiban yang dimaksud tidak identik dengan pencabutan lapak secara sepihak.
Pemerintah masih membuka ruang dialog, termasuk bagi pedagang yang ingin menukar atau menyesuaikan lokasi dagangnya.
“Artinya penertiban itu bukan berbicara mencabut tapi dengan cara dialog, kemudian jika ada yang mau tukar kami welcome,” tegasnya.
Langkah konsolidasi tersebut diharapkan mampu menjawab salah satu persoalan utama Pasar Pagi setelah menempati gedung baru, yakni belum terbentuknya arus perdagangan yang kuat di dalam bangunan.
Pemerintah ingin pedagang yang memiliki beberapa lapak atau lokasi usaha yang terpencar dapat menggabungkannya sehingga aktivitas jual beli lebih terkonsentrasi.
“Karena alasannya kan tercerai berai. Bisa jadi ada yang punya lapak tercecer sila digabung ke atas.”
Namun, pemerintah juga menyadari bahwa setiap perubahan lokasi berpotensi menimbulkan ketidakpuasan. Karena itu, kesepakatan tidak dibangun dengan prinsip bahwa seluruh pedagang harus mendapatkan kondisi yang sama persis, melainkan melalui kompromi antara kepentingan pemerintah dan kondisi masing-masing pedagang.
“Meski ini tidak bisa memuaskan semua pihak tetapi saya sampaikan kemarin ada yang diturunkan egonya dan ada yang dinaikkan egonya sedikit supaya dapat titik temu,” pungkasnya.



