Bukan sekadar meluncurkan merek air minum baru, Pemkot Samarinda sedang menguji model bisnis yang diharapkan menjadi sumber dividen bagi daerah ketika penerimaan dari sektor ekstraktif dan transfer pusat semakin tidak pasti.
EKSPOSKALTIM, Samarinda– Peluncuran Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) Samaqua oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda pada Rabu (5/8) menjadi lebih dari sekadar selebrasi lahirnya produk baru milik Badan Usaha Milik Daerah (BUMD).
Di balik peluncuran tersebut, Wali Kota Samarinda Andi Harun menegaskan bahwa Samaqua merupakan instrumen strategi jangka panjang untuk membangun kemandirian ekonomi daerah di tengah tren penurunan dana transfer dari pemerintah pusat.
Menurut Andi Harun, daerah tidak bisa selamanya menggantungkan kemandirian fiskalnya pada kucuran dana pusat, terutama bagi kawasan yang selama ini sangat bergantung pada komoditas sumber daya alam yang fluktuatif.
"Jika produksi migas atau batu bara kita turun, itu langsung memengaruhi penerimaan. Kalau kita terus bergantung pada pusat, ketika terjadi kontraksi atau perubahan regulasi tiba-tiba, kita akan kelabakan," tegas Andi Harun.
Kondisi inilah yang mendorong Pemkot Samarinda melakukan reorientasi struktur ekonomi sejak tiga hingga empat tahun terakhir. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pergerakan ekonomi kota mulai bergeser ke sektor non-ekstraktif. Sektor konstruksi, perdagangan, dan jasa perlahan mengambil porsi yang lebih besar, dan diharapkan bisa menjadi tulang punggung utama perekonomian Samarinda di masa depan.
Dalam kerangka transformasi itulah Samaqua dihadirkan melalui Perumdam Tirta Kencana. Unit bisnis ini diproyeksikan berkembang secara bertahap mulai dari peningkatan kapasitas produksi hingga perluasan jangkauan pasar agar kelak mampu menyumbang dividen yang signifikan bagi Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Kendati demikian, Pemkot Samarinda memilih rasional dengan tidak langsung membebankan target setoran PAD pada fase awal operasional.
"Kalau buru-buru dituntut PAD, nanti berkonsekuensi pada kualitas produk. Di tahap awal, pemerintah justru harus hadir memberi support," tambahnya.
Mengusung nama yang memadukan identitas Samarinda dan air (aqua), produk dengan tagline "Air Kebanggaan Samarinda" ini mulai dipasarkan secara bertahap. Meski distribusinya dalam satu hingga tiga hari ke depan belum merata, penjangkauan ditargetkan telah merambah seluruh 10 kecamatan mulai pekan depan.
Di sisi lain, Andi Harun menepis kekhawatiran publik bahwa ekspansi bisnis AMDK akan memecah konsentrasi Perumdam Tirta Kencana dalam melayani kebutuhan air bersih warga. Ia memastikan bahwa manajemen, tim operasional, hingga alokasi sumber daya Samaqua dibuat terpisah secara total dari unit pelayanan publik.
"Saya jamin bisnis ini tidak akan mengganggu sedikit pun pelayanan air bersih bagi masyarakat. Tim manajemennya terpisah dan sejak awal sudah kami antisipasi," pungkasnya.



