EKSPOSKALTIM, Samarinda – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax yang mulai berlaku pada Rabu (10/6) lalu memunculkan gelombang keluhan dari masyarakat Samarinda.
Lonjakan harga Pertamax menjadi Rp16.250 per liter dari sebelumnya Rp12.300 per liter dinilai tidak hanya membebani kalangan menengah, tetapi juga pekerja dengan penghasilan terbatas yang selama ini memilih Pertamax untuk menghindari antrean panjang Pertalite.
Di tengah kenaikan yang mencapai hampir Rp4.000 per liter, sejumlah pengguna mengaku terpaksa mengubah pola konsumsi BBM mereka. Sebagian memilih beralih ke Pertalite, meski harus menghadapi antrean yang lebih panjang, sementara lainnya mulai mengurangi mobilitas demi menekan pengeluaran.
Bagi pengemudi ojek online, kenaikan harga tersebut langsung berdampak pada perhitungan pendapatan harian. April (25), salah seorang pengemudi ojol di Samarinda, menilai biaya operasional kini semakin tidak sebanding dengan penghasilan yang diperoleh.
“Ngantre BBM 30 menit lah, nah di 30 menit itu lumayan bisa buat dua orderan,” ujarnya pada EksposKaltim, Kamis (11/6/2026).
Selama ini ia memilih menggunakan Pertamax untuk menunjang pekerjaannya. Namun dengan harga baru yang berlaku, menurutnya pendapatan dari ongkos perjalanan semakin sulit menutup biaya bahan bakar.
“Cuma sekarang nggak nutup uang ongkir sama kebutuhan bensinnya,” katanya.
Keluhan serupa datang dari Agustin (24), seorang pegawai swasta yang pekerjaannya mengharuskannya berkeliling berbagai wilayah di Samarinda. Ia menegaskan bahwa pengguna Pertamax tidak selalu berasal dari kalangan berpenghasilan tinggi.
“Saya kaum mendang-mending yang pake Pertamax masih harga 12ribuan lebih pilih itu, soalnya Pertalite antreannya panjang,” tuturnya.
Menurut Agustin, kenaikan harga yang terjadi secara drastis membuat pilihan tersebut kini sulit dipertahankan.
Ia mengaku kondisi tersebut semakin memberatkan karena penghasilannya masih berada di bawah Upah Minimum Regional (UMR), sementara tuntutan pekerjaan mengharuskannya tetap bergerak dari satu lokasi ke lokasi lain.
“Yang sebelumnya pakai Pertamax beralih ke Pertalite. Belum lagi nggak semua SPBU di Samarinda nyediain Pertalite,” tambahnya.
Sementara itu, Ica (30), seorang buruh lepas, mengaku kenaikan harga membuatnya harus menghitung ulang pengeluaran transportasi sehari-hari. Selama ini, pengisian Pertamax senilai Rp45 ribu sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar sepeda motornya.
Meski demikian, keterbatasan waktu membuatnya belum tentu sepenuhnya beralih ke Pertalite. Ia memilih mengurangi penggunaan kendaraan untuk menekan biaya.
“Jadi mungkin saya bakal tetap beli Pertamax cuma pemakaiannya dikurangi. Kalau memang kerjaannya dekat, lebih baik jalan kaki aja,” katanya.
Ia juga berharap ada dukungan dari perusahaan kepada pekerja yang mobilitasnya bergantung pada kendaraan bermotor.
“Harapannya semoga ada kebijakan dari perusahaan buat subsidi BBM karyawan biar sedikit meringankan beban,” tutupnya.
Kenaikan harga Pertamax dan Pertamax Green mulai 10 Juni 2026 dipicu meningkatnya biaya pengadaan BBM akibat gejolak pasar energi global. Pertamina Patra Niaga menyatakan selama beberapa bulan terakhir harga BBM nonsubsidi sebenarnya telah ditahan meski biaya impor terus naik.
Namun perseroan pelat merah tersebut akhirnya melakukan penyesuaian harga untuk menjaga keberlanjutan pasokan dan ketersediaan BBM di dalam negeri.
Dalam kebijakan terbaru, harga Pertamax naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter, sedangkan Pertamax Green dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter. Sementara harga Pertalite dan Biosolar bersubsidi tidak mengalami perubahan.




