Relawan dan jurnalis Indonesia yang ikut misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla mengungkap dugaan kekerasan saat ditahan militer Israel, termasuk pemukulan, penginjakan kepala, tembakan peluru karet, hingga dugaan pelecehan seksual.
EKSPOSKALTIM, Jakarta - Sembilan warga negara Indonesia (WNI) yang sempat ditangkap militer Israel saat mengikuti misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla 2026 akhirnya dibebaskan dan kini bersiap kembali ke Indonesia. Namun di balik pembebasan itu, para relawan dan jurnalis Indonesia membawa pulang kesaksian tentang dugaan kekerasan fisik hingga pelecehan seksual selama berada dalam tahanan.
Aktivis Global Peace Convoy Indonesia (GPCI), Herman Budianto Sudarsono, mengaku dirinya bersama peserta lain mengalami tindakan kekerasan selama penahanan.
“Kalau secara fisik memang mengalami cukup banyak kekerasan-kekerasan yang seumur hidup memang baru dialami kali itu, yang luar biasa panjang waktunya, banyak pemukulan, penendangan, penginjakan kepala, dan seterusnya,” kata Herman dikutip dalam program Kompas Petang, Jumat (22/5/2026).
Menurut Herman, para relawan ditangkap saat armada Global Sumud Flotilla masih berada di perairan internasional, sekitar 200 mil laut dari wilayah Palestina. Saat itu, kapal perang Israel disebut mendekat dengan kecepatan tinggi, disusul kapal-kapal kecil yang mengejar armada sipil pembawa bantuan kemanusiaan.
Setelah penangkapan, para peserta disebut diikat dengan posisi tangan di belakang. Herman juga menyampaikan adanya dugaan kekerasan seksual terhadap sejumlah peserta perempuan dalam rombongan misi kemanusiaan tersebut.
“Ada kekerasan seksual kepada beberapa peserta dari GSF dan GPC kita,” ujarnya.
Meski demikian, Herman mengatakan kondisi para WNI secara umum dalam keadaan selamat. Beberapa di antaranya disebut mengalami luka memar, sementara lainnya mengalami cedera yang lebih serius.
Kesaksian serupa disampaikan relawan Indonesia lainnya, Andi Angga Prasadewa. Dalam wawancara dari GPCI, Angga mengatakan kapal yang ditumpanginya menjadi armada pertama yang diintersepsi militer Israel.
Ia mengaku melihat salah satu rekannya terkena tembakan peluru karet saat penyergapan berlangsung.
“Beliau dua kali kena tembakan di pinggang dan punggung. Peluru karet, cuma tetap luka bakar, bekas tembakannya langsung bengkak,” kata Angga, seperti dikutip dari Detik.com.
Meski mengalami intimidasi dan kekerasan, Angga menyebut peristiwa itu tidak mematahkan semangat relawan untuk terus menyuarakan dukungan kemanusiaan bagi Palestina.
“Dengan diintersepnya kita ini bukan berarti kita gagal. Itu justru menunjukkan gerakan masyarakat sipil ini kuat,” ujarnya.
Usai dibebaskan pada Kamis (21/5) waktu setempat, seluruh relawan termasuk sembilan WNI diterbangkan ke Turki menggunakan pesawat yang disiapkan otoritas setempat. Setibanya di Istanbul, mereka menjalani pemeriksaan medis di rumah sakit forensik sebelum dipulangkan ke Indonesia.
Sembilan WNI yang ikut dalam misi tersebut terdiri dari lima aktivis kemanusiaan dan empat jurnalis Indonesia. Mereka adalah Herman Budianto Sudarsono, Ronggo Wirasanu, Andi Angga Prasadewa, Asad Aras Muhammad, Hendro Prasetyo, Bambang Noroyono dari Republika, Thoudy Badai Rifan Billah dari Republika, Andre Prasetyo Nugroho dari Tempo, serta Rahendro Herubowo dari tim media GPCI dan iNews.
Penangkapan terhadap rombongan Global Sumud Flotilla bermula saat sejumlah kapal bantuan kemanusiaan dicegat bertahap oleh militer Israel pada Senin (18/5). Insiden itu memicu perhatian luas setelah sejumlah relawan dari berbagai negara melaporkan perlakuan yang disebut tidak manusiawi selama penahanan.
Bagi para delegasi Indonesia, kepulangan kali ini bukan sekadar akhir perjalanan laut menuju Gaza, tetapi juga membawa pulang kesaksian langsung tentang apa yang mereka alami di tengah misi kemanusiaan yang berujung penangkapan.



