PORTAL BERITA ONLINE NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE BERANI BEDA..!! MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

30 Persen Anak di Kaltim Belum Diimunisasi, Risiko Campak Mengintai

Home Berita 30 Persen Anak Di Kaltim ...

Cakupan imunisasi campak di Kalimantan Timur masih jauh dari ambang aman kekebalan kelompok. Sekitar 30 persen anak belum tersentuh vaksin. Membuka celah penyebaran penyakit menular yang dapat berujung pada komplikasi serius.


30 Persen Anak di Kaltim Belum Diimunisasi, Risiko Campak Mengintai
VAKSIN: Seorang dokter sedang menyiapkan vaksin campak untuk disuntikkan ke seorang anak murid sekolah dasar. Foto: ANTARA

EKSPOSKALTIM, Samarinda - Cakupan imunisasi campak di Kalimantan Timur belum mencapai ambang batas kekebalan kelompok yang ditetapkan secara nasional.

Dinas Kesehatan Kaltim mencatat capaian imunisasi baru berada di angka 65 persen, jauh di bawah target minimal 95 persen yang dibutuhkan untuk membentuk herd immunity.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kaltim Fit Nawati mengatakan kondisi ini menunjukkan masih besarnya kelompok anak yang rentan terhadap penularan.

“Artinya, ada sekitar 30 persen anak di Kaltim yang belum terjangkau imunisasi dan berisiko tinggi terpapar virus,” ujarnya, dikutip Selasa (17/3).

Kesenjangan ini terlihat pada hampir seluruh tahapan imunisasi. Untuk bayi usia 9 bulan, cakupan baru mencapai 62 persen, sementara pada usia 18 bulan berada di angka 60 persen.

Angka tersebut kontras dengan capaian imunisasi pada anak kelas 1 sekolah dasar yang telah mencapai 92 persen, menunjukkan adanya ketimpangan akses dan efektivitas distribusi vaksin di luar lingkungan sekolah.

Situasi ini menempatkan bayi dan balita sebagai kelompok paling rentan terhadap penularan campak, penyakit yang tidak hanya menyebabkan demam, tetapi juga berpotensi memicu komplikasi serius.

Gejala yang muncul antara lain demam tinggi, batuk, pilek, mata merah, serta ruam pada kulit. Dalam kondisi tertentu, infeksi dapat berkembang menjadi gangguan yang lebih berat.

Dinas Kesehatan menilai rendahnya cakupan imunisasi pada usia dini menjadi celah utama yang perlu segera ditutup.

Pemerintah sendiri telah memperbarui skema imunisasi campak menjadi tiga dosis, yakni pada usia 9 bulan, 18 bulan, dan saat anak duduk di kelas 1 SD, sebagai upaya memperkuat perlindungan.

Namun, efektivitas program ini sangat bergantung pada partisipasi masyarakat, terutama orang tua yang memiliki bayi dan balita.

“Kerja sama dengan pihak sekolah terbukti efektif. Tantangannya sekarang bagaimana menjangkau kelompok usia di bawahnya,” kata Fit.

Di tengah capaian yang belum optimal, masyarakat juga diingatkan untuk tidak hanya bergantung pada imunisasi, tetapi turut menjaga daya tahan tubuh melalui perilaku hidup bersih dan sehat guna menekan risiko penularan penyakit. (ant)


Editor : Maulana

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%0%0%0%
Sebelumnya :
Berikutnya :