PORTAL BERITA ONLINE NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE BERANI BEDA..!! MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

5 Bahasa Daerah di Kaltim-Kaltara Terancam Punah, Mahulu dan Paser Jadi Fokus Revitalisasi

Home Berita 5 Bahasa Daerah Di Kaltim ...

Lima bahasa daerah di Kaltim-Kaltara terancam punah. Di Mahakam Ulu dan Paser, penutur muda hampir tak tersisa, memaksa Balai Bahasa Kaltim bergerak lewat program revitalisasi darurat tahun ini.


5 Bahasa Daerah di Kaltim-Kaltara Terancam Punah, Mahulu dan Paser Jadi Fokus Revitalisasi
Jumlah penutur Bahasa Punan Merah dan Dusun tercatat tidak mencapai seribu orang. Foto ilustrasi: Detik.com

EKSPOSKALTIM, Balikpapan - Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) memperkuat program revitalisasi terhadap lima bahasa daerah di wilayah Kaltim dan Kalimantan Utara (Kaltara) pada 2025 untuk melindungi kekayaan intelektual komunal dan mencegah kepunahan.

“Dari bahasa daerah yang teridentifikasi di Kaltim dan Kaltara, sebagian besar mengalami penurunan fungsi dan jumlah penutur,” kata Kepala Balai Bahasa Kaltim, Asep Juanda, di Samarinda, Kamis.

Program revitalisasi tahun ini secara khusus menyasar Bahasa Melayu Kutai, Paser, dan Kenyah di Kalimantan Timur. Sedangkan di Kalimantan Utara, fokus diarahkan pada Bahasa Tidung dan Bulungan.

Asep mencatat, saat ini terdapat 16 bahasa daerah di Kaltim dan 11 bahasa daerah di Kaltara yang masih digunakan masyarakat. “Jumlah keseluruhan bahasa daerah yang tersebar di Kaltim dan Kaltara, yang menjadi wilayah kerja Balai Bahasa Kaltim, secara akumulatif mencapai 27 bahasa,” ujarnya.

Ia mengungkapkan kekhawatiran terhadap vitalitas beberapa bahasa yang mulai masuk kategori rawan, seperti Punan Merah, Dusun, Segaai, Tunjung, Basap, dan Punan Long Lamcin. Kondisi ini ditandai dengan hilangnya generasi penutur muda yang tidak lagi menggunakan bahasa ibu dalam komunikasi sehari-hari.

Asep menegaskan, potensi kepunahan bisa terjadi dalam waktu dekat jika tidak ada upaya revitalisasi yang serius dan terukur. Bahasa yang terancam punah antara lain Punan Merah, Dusun, dan Tunjung, yang merupakan bahasa asli kelompok Suku Dayak. Penutur bahasa-bahasa itu kini hanya tersisa sebagian kecil masyarakat di wilayah Mahakam Ulu, Paser, dan Kutai Barat.

Balai Bahasa merespons tantangan ini dengan memperkuat program revitalisasi melalui penerapan kurikulum muatan lokal di berbagai satuan pendidikan. Data lapangan menunjukkan kondisi kritis pada Bahasa Punan Merah di Mahakam Ulu dan Bahasa Dusun di Paser yang kini hanya digunakan di satu kampung. Penutur aktifnya didominasi kelompok usia lanjut dengan jumlah populasi sangat terbatas.

Berdasarkan data pemetaan Summer Institute of Linguistics (SIL), jumlah penutur bahasa yang terancam punah itu tercatat tidak mencapai seribu orang. Namun, Bahasa Melayu Kutai, Paser, Banjar, Bugis, Bahau, dan Kenyah masih memiliki tingkat vitalitas yang tergolong aman.


Editor : Maulana

Apa Reaksi Anda ?

0%100%0%0%0%0%0%0%
Sebelumnya :
Berikutnya :