PORTAL BERITA ONLINE NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE BERANI BEDA..!! MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

Saksi Jadi Tersangka Tragedi Muara Kate: Bapak Saya Dikambinghitamkan

Home Berita Saksi Jadi Tersangka Trag ...

Saksi Jadi Tersangka Tragedi Muara Kate: Bapak Saya Dikambinghitamkan
Misrantoni, 60 tahun usai dihadapkan ke awak media dalam jumpa pers pembunuhan Russell di Polda Kaltim. Foto: Istimewa

Penajam, EKSPOSKALTIM – Penetapan Misrantoni sebagai tersangka kasus pembunuhan tokoh adat Russell mengejutkan keluarga. Putra Misrantoni, Andre (25), mengaku terpukul atas keputusan mendadak dari kepolisian.

“Saya syok. Waktu itu saya baru pulang dari kebun jam empat pagi, tiba-tiba dengar kabar bapak jadi tersangka. Kami bingung, kalang kabut, enggak bisa mikir,” ujar Andre kepada EKSPOSKALTIM, Sabtu (26/7) malam.

Menurut Andre, ayahnya tidak mungkin melakukan pembunuhan terhadap Russell, yang notabene sepupunya sendiri, sahabat, sekaligus rekan seperjuangan sesama aktivis penolak hauling batu bara di atas jalan negara.

Misrantoni di mata Andre, dikenal sebagai sosok tegas dan bertanggung jawab. “Kami yakin beliau tidak mungkin melakukan hal yang merugikan dirinya dan keluarga,” tegas Andre.

Keluarga pun menemui sejumlah saksi yang berada di Tempat Kejadian Perkara (TKP), yakni Joshua, Albert, dan Wartalinus. Jarak rumah yang berdekatan memudahkan mereka membahas penetapan tersangka yang dinilai janggal.

Para saksi mengaku mengetahui penetapan tersangka Misrantoni sejak Selasa (15/7) malam pukul 23.00 WITA. Namun, mereka enggan memberi tahu Andre karena informasi yang mereka terima belum pasti. “Pihak pertama yang dihubungi itu kuasa hukum kami dari LBH, Bang Irfan,” jelas Andre.

Yang membuat Andre kecewa, kepolisian tak pernah mengonfirmasi langsung soal status ayahnya. “Saya tahu justru karena saya yang telepon duluan. Kami kecewa berat. Kenapa hampir sembilan bulan berlalu baru ada tersangka?” tuturnya.

Penetapan ini menimbulkan dugaan di kalangan saksi bahwa ada skenario yang dimainkan. Mereka mencurigai adanya tekanan dari pihak luar, pemalsuan barang bukti, serta motif yang belum terang. Rumah Misrantoni digeledah dan makam Russell dibongkar secara mendadak, tanpa pemberitahuan ke warga. Tak lama setelah itu, Misrantoni langsung dipindah ke Polda Kaltim dan kasus diumumkan ke publik.

Barang bukti yang digunakan pun disebut bukan senjata tajam atau bukti spesifik pembunuhan. Salah satu barang bukti hanyalah baju Misrantoni yang tergantung di dekat kelambu tempat tidurnya.

“Bapak itu tidur biasanya cuma pakai celana dalam. Pas saya bangunin, beliau pakai celana yang digantung di dekat kelambu, lalu ambil baju lengan panjang karena waktu itu dingin,” terang Andre.

Sebelum ditetapkan sebagai tersangka, Misrantoni sempat dipanggil sebagai saksi dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) bersama dua orang lainnya: Yusuf, tuan rumah Posko Muara Kate, dan Mahrita, keponakan almarhum Russell.

Rabu (16/7), sepulang dari kebun, Andre merasa gelisah karena ayahnya tak kunjung pulang. Ia lantas menghubungi seorang kepala unit di Satreskrim Polres paser.

“Waktu saya telepon, katanya bapak sudah jadi tersangka. Polisi bilang ada 35–37 petunjuk yang menjurus ke bapak. Tapi menurut kami itu belum cukup kuat,” ucap Andre.

Alibi keluarga, yakni ibu dan adik Andre yang menyaksikan Misrantoni pulang dan tidur di rumah pada malam kejadian, dianggap tak sah karena tak ada saksi lain yang mendukung.

Andre pun sempat menyampaikan kepada polisi tersebut soal dugaan pemalsuan barang bukti. “Kalau memang ada pemalsuan, saya akan tuntut balik,” katanya. Namun, permintaan penyelidikan ulang belum sempat diajukan karena keluarga sibuk dengan proses penggeledahan oleh polisi.

Aparat Pro-Hauling?

Warga mencurigai penetapan Misrantoni sebagai tersangka merupakan bentuk tekanan setelah kunjungan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka ke Muara Kate. Kasus ini kini juga ditangani Mabes Polri.

“Kita tahu sendiri, pasti ada tekanan ke pejabat daerah dan Polres Paser,” kata salah satu warga.

Warga juga mengaku pernah beberapa kali didatangi polisi dan vendor perusahaan sebelum tragedi terjadi. Mereka diminta membuka jalan hauling bagi perusahaan. Hal ini disaksikan banyak warga dan ibu-ibu di posko.

“Ada yang diteror, ada yang didatangi langsung, ada juga yang diajak ‘berkoordinasi’. Kecurigaan bahwa polisi berpihak pada perusahaan hauling memang benar adanya,” ucap warga lainnya.

Disebutkan pula bahwa dua polisi yang bertugas malam kejadian, kini diangkat sebagai anak oleh saksi kunci Anson, yang selamat dari tragedi. Ini menimbulkan dugaan bahwa kesaksian Anson telah diarahkan.

“Kami menduga saksi-saksi kunci sudah disetir oleh polisi agar penetapan tersangka bisa dijalankan. Bapak kami dikambinghitamkan,” ujar warga.

Cekcok Anson dan Misrantoni

Anson disebut mulai renggang hubungannya dengan warga karena merasa donasi untuknya tidak sampai. Padahal, menurut Andre, posko memiliki dua jenis kas: untuk korban dan konsumsi petugas. Seluruh transaksi tercatat rapi.

“Anson merasa semua donasi adalah miliknya, padahal ada alokasi lain. Kami punya data valid,” ujar Andre.

Ia menambahkan sempat terjadi cekcok antara ayahnya dan Anson setelah kejadian. Misrantoni menasihati Anson agar tidak mudah diperdaya aparat. Namun Anson tak terima dan membela dua anggota polisi yang ia anggap telah menyelamatkannya.

“Bapak cuma menasihati supaya hati-hati. Tapi Pak Anson marah dan bilang, ‘Kalau bukan karena mereka berdua, saya sudah mati,’” jelas Andre.

Misrantoni dan Russell disebut berasal dari dusun yang sama, Gunung Riut, Kabupaten Balangan. Mereka masih sepupu.

Soal tudingan anak Russell, Mia, yang mencurigai kekayaan baru keluarga Misrantoni, Andre menjelaskan bahwa keluarganya membeli mobil sebelum pembunuhan pendeta Veronica, menggunakan uang ganti rugi lahan sawit dari PT Amalia di Tamiang Layang, Kalimantan Tengah.

“Kami bisa buktikan, ada kuitansinya. Itu bukan dari hasil gugatan atau bayaran membunuh. Ganti rugi itu dibayar bertahap,” tegas Andre.

Kini, Andre berharap Mabes Polri dan Kompolnas turun tangan. Ia yakin pelaku pembunuhan bukanlah ayahnya. “Posko ini berdiri karena kami menolak hauling. Setelah mereka gagal lobi, mereka pakai cara teror. Ini jelas, pelakunya pasti bukan orang sembarangan. Sulit diungkap kalau hanya ditangani pihak daerah,” ujar seorang warga.

Warga juga menilai penetapan tersangka terhadap Misrantoni tidak masuk akal. “Tidak mungkin sepupu membunuh sepupunya sendiri, apalagi mereka tak pernah berselisih,” ujar warga lainnya.

Musuh utama mereka, kata warga, adalah perusahaan, ormas, dan para vendor. “Bukan sesama warga. Kami ingin kasus ini ditangani secara transparan dan langsung oleh Mabes Polri,” tutupnya.

Terpisah, sampai hari ini polisi sendiri masih belum mengetahui motif Misrantoni menghabisi Russell. Informasi tersebut diucapkan oleh salah seorang pejabat utama di Polda Kaltim.

Sementara itu, Kabid Humas Polda Kaltim, Kombes Pol Yulianto, saat dikonfirmasi soal motif Misrantoni membunuh Russell, hanya menjawab singkat, “Saya belum dapat update,” ujarnya, Jumat (25/7).  


Editor : Maulana

Apa Reaksi Anda ?

0%8%0%0%0%62%8%24%
Sebelumnya :
Berikutnya :