PORTAL BERITA ONLINE NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE BERANI BEDA..!! MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

Syafruddin Sentil Pertamina: Nelayan Rugi, Lingkungan Dicemari

Home Berita Syafruddin Sentil Pertami ...

Syafruddin Sentil Pertamina: Nelayan Rugi, Lingkungan Dicemari
Anggota Komisi Lingkungan Hidup DPR RI, Syafruddin. Foto: E-Media DPR RI

EKSPOSKALTIM, Jakarta – Dugaan pencemaran lingkungan oleh PT Pertamina Hulu Sanga-Sanga (PHSS) di wilayah pesisir Sanga-Sanga, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, semakin menguat. Operasional pengeboran migas perusahaan plat merah itu diduga menjadi penyebab kematian massal kerang darah (Anadara sp.) yang selama ini menjadi sumber penghidupan nelayan setempat.

PHSS dituding melanggar Peraturan Menteri ESDM Nomor 045 Tahun 2006, khususnya Pasal 8 yang secara tegas melarang pembuangan limbah di zona sensitif seperti sempadan sungai dan pantai. Ironisnya, justru ke arah pesisir limbah itu dialirkan.

Hingga kini, belum ada langkah tegas dari pemerintah daerah maupun pusat. Padahal, hasil uji laboratorium Universitas Mulawarman menunjukkan perairan di sekitar area pengeboran telah tercemar, dari tingkat ringan hingga cukup berat.

Komitmen Syafruddin

Anggota Komisi Lingkungan Hidup DPR RI, Syafruddin, tak tinggal diam. Ia berjanji akan mengawal kasus ini hingga tuntas dan meminta pemerintah, khususnya Kementerian Lingkungan Hidup, tidak tutup mata.

"Saya tetap berkomitmen memperjuangkan hak masyarakat yang dirugikan limbah operasional PHSS," ujarnya.

Syafruddin mengaku akan mempelajari lebih lanjut hasil uji lab dari Unmul sebelum menentukan langkah formal, termasuk memanggil pihak Kementerian dan manajemen Pertamina ke parlemen.

Langkah Menteri

Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol, juga telah mengirim tim penegakan hukum ke lokasi sejak pekan lalu. Tim tersebut sedang mendalami dugaan pencemaran yang merusak wilayah budidaya kerang darah milik masyarakat.

“Laporan hasil investigasi akan dibahas pekan ini. Minggu depan kemungkinan sudah ada tindak lanjut,” kata Hanif, Selasa pagi (13/5), dikontak media ini. 

Temuan Mengejutkan

Tim peneliti dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Mulawarman telah mengambil sampel dari 15 titik perairan, termasuk empat lokasi budidaya kerang, kolam pengendapan (K1), limpasan pengeboran (K2), dan Sungai Tanjung Limau (K13), pada 23–25 Januari 2025.

Hasilnya, perairan menunjukkan lonjakan kandungan bahan organik dan nilai indeks saprobik yang mengindikasikan pencemaran serius. Air di sekitar tambak nelayan tergolong tercemar ringan hingga cukup berat. Terlebih, wilayah tersebut memiliki sirkulasi air buruk karena lokasinya yang semi tertutup.

Bantah, Tapi Prihatin

Menanggapi laporan tersebut, PHSS membantah bertanggung jawab. Mereka menilai belum ada bukti konklusif yang secara langsung mengaitkan kegiatan pengeboran dengan matinya kerang darah.

“Investigasi Unmul belum final. Tidak ada bukti kuat yang menyimpulkan bahwa pengeboran kami jadi penyebab langsung,” ujar Dony Indrawan, Manager Communication Relations & CID Pertamina Hulu Indonesia, dalam pernyataan tertulis, Selasa (2/4).

Meski menyangkal, Pertamina menyatakan keprihatinan atas insiden yang bertepatan dengan musim hujan itu. Mereka mengaku siap bekerja sama dengan Pemkab Kukar dan pihak-pihak terkait untuk menindaklanjuti keluhan masyarakat.

“Kami mendukung setiap langkah Pemkab dalam menangani kasus ini,” pungkas Dony.


Editor : Maulana

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%100%0%0%
Sebelumnya :
Berikutnya :