28 Oktober 2020
  • PORTAL BERITA ONLINE
  • NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE
  • BERANI BEDA..!!
  • MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

Opini : Self Talk, Pencegah Stress Selama Pandemi


Opini : Self Talk, Pencegah Stress Selama Pandemi
Nabila Anun Arifah, Mahasiswa IAIN Samarinda Jurusan Bimbingan dan Konseling Islam. (ist)

EKSPOSKALTIM.COM - Seperti kita ketahui bahwa Pandemi Covid-19 belum berakhir, karena itu masyarakat Indonesia mulai melakukan perubahan baru dalam kegiatan sehari-hari atau bisa disebut “New Normal”. New normal adalah membiasakan perubahan adaptasi baru dalam melakukan kegiatan sehari-hari.Adapun kebiasan baru yang harus dilakukan masyarakat agar tidak terpapar Covid-19, yaitu: a). Dalam berpergian diharapkan untuk menggunakan masker dan handsinitizer, b). Tetap berjaga jarak, c). Ketika pulang dari berpergian jauh misal luar negeri atau luar kota dihimbau mengikuti protokol kesehatan dan pemeriksaan kesehatan, d). Jika sakit, diharapkan untuk tetap dirumah karena dikhawatirkan gampang terkena Covid-19, e). Makan-makanan sehat dan minuman bergizi dan lebih baik membawa bekal sendiri. 

Selain itu,  Pemerintah Indonesia menetapkan kebijakan baru pada tanggal 17 Maret 2020 yaitu Pembelajaran Secara Daring dan Bekerja di Rumah dalam Rangka Pencegahan Penyebaran Virus Corona, dalam Surat Mendikbud Nomor: 36962/MPK.A/HK/2020. Namun, seiring dengan waktu kebijakan baru yang ditetapkan pemerintah menimbulkan banyak perdebatan, salah satunya dari pihak orang tua. Rata-rata mereka berpendapat bahwa kebijakan baru yang ditetapkan pemerintah merugikan mereka khususnya dalam biaya. 

Baca juga : Opini : Pemanfaatan Bisnis Online Sebagai Trend Profesi di Masa Pandemi Covid-19

Di sini mereka berpendapat bahwa biaya yang harus dibayar 2 kali lipat dari sebelumnya apalagi bagi mereka yang habis dipecat. Nah, saya sempat mewawancarai dua orang tentang kebijakan tersebut, yaitu TB dan E. Menurut TB (Nama Samaran), “adanya kebijakan baru dari pemerintah memang tepat apalagi dengan tujuan pencegahan Covid-19, namun untuk saya yang seorang janda dan memiliki 3 putra, apalagi rata-rata sudah bersekolah itu menyulitkan, karena sekolah daring berarti harus memiliki kuota apalagi harusnya pemerintah terutama kota Bontang harusnya kasih gratis kuota dan rata-rata jadwal sekolah anak 1,2,3 berbeda otomatis harus beli handphone”. Begitu pula, menurut E bahwa “kebijakan baru malah membuat saya terpaksa dipecat oleh perusahaan sedangkan kebutuhan pokok sehari-hari semakin banyak, seperti anak-anak saya yang harus sekolah daring di rumah dan suami apa daya hanya seorang pedagang, selain itu kebutuhan pokok entah napa pada naik yah walau pemerintah sudah memberikan bantuan”.

Adanya kekhawatiran akan sesuatu tersebut memungkinkan individu tersebut mengalami stress dan individu tersebut akan  mengalami kecemasan. Menurut Nicky Lidbetter dari Lembaga Amal Anxiety UK, bahwa ketidakberdayaan dan kegagalan untuk menoleransi ketidakpastian merupakan ciri khas dari gangguan kecemasan. Jadi bisa disimpulkan bahwa pemikiran-pemikiran yang cenderung ketidakberdayaan dan kegagalam dalam mengikuti kebijakan baru yang dibuat pemerintah Indonesia akan berujung kecemasan dan menjadi beban pikiran atau stress. Jika tidak diatasi sedini mungkin, bisa mengakibatkan stress berkepanjangan, yang akan menurunkan imun tubuh sehingga individu tersebut mudah untuk sakit. Untuk itu, Bimbingan Konseling atau BK seluruh Indonesia melakukan strategi layanan konseling daring atau online dengan tujuan mengantisipasi bahwa mental atau jiwa itu sehat selain fisik tubuh kita selama masa pandemi. Contoh layanan konselingnya adalah menggunakan kuesioner, mengadakan seminar dengan menggunakan aplikasi secara online, menghubungi langsung dengan chat secara pribadi, dll.

Menurut Prof. Dr. Prayitno, bahwa strategi layanan yang dilakukan BK  dalam masa Pandemi ada 9 macam jenis layanan, yaitu: Informasi, Orientasi, Penempatan/penyaluran, Penguasaan Konten, Konselin Individu, konseling kelompok, konsultasi, mediasi dan advokasi. Salah satunya adalah self talk atau berbicara sendiri yang merupakan layanan konseling individu dengan  teknik konseling yang berlandaskan pemprosesan kognitif. Menurut Jones bahwa self talk, dapat mengontrol pemikiran dan cara mengatur komunikasi yang tepat. Menurut Vygotsky bahwa self talk mucul ketika anak berusia 3 sampai 7 tahun. Disini self talk akan berkembang sebagai bentuk internalisasi percakapan egois individu dan menjadi pemikiran yang tidak dapat terungkap oleh kata-kata.

Selain itu, menurut McLeod bahwa dalam melakukan konseling baik konselor maupun konseli harus bisa mengontrok komunikasi non-verbal dengan mendata segala sesuatu yang tidak terungkap ketika mengakhiri sesi konseling, dengan ini dapat merefleksikan  proses mendasar dari sesuatu yang tidak terucap. Dapat disimpulkan bahwa self talk merupakan dialog antar pribadi yang menggambarkan perasaan yang nyata dan emosional, sehingga membuat seseorang percaya diri ataupun pesimisme. 

Kemudian, dalam melakukan sesi konsling kita harus memperhatikan prilaku dan sikap konseli dan usahakan untuk menarik informasi lebih banyak. Nah, self talk dapat diterapkan dimana saja oleh   individu, bisa di rumah. Namun,  self talk sendiri sebagian masyarakat terutama Indonesia mengganggap bahwa itu sesuatu hal aneh atau individu mengalami kegilaan padahal jika kalian tau bahwa “Self Talk” atau berbicara sendiri sangat bermanfaat bagi kesehatan apalagi untuk diri kita sendiri. Nah, inilah manfaat dalam kesehatan yang dapat kita ketahui, antara lain:

Dapat meringankan beban pikiranmu  atau stress dengan berbicara pada diri sendiri. Disini dengan berbicara sendiri kita dapat mengatur apa yang kita pikirkan, dapat memprediksi tindakan yang harus kita lakukan, bisa saja kita dapat menemukan solusi dari permasalahan yang sedang dipikirkan. Selain itu, dapat membuat diri kita menjadi lebih rileks dan tenang tanpa harus pusing kepala memikirkan masalah yang kita hadapi, dapat menghentkan kita dalam overthinking dan negativethinking yang mengulitkan untuk dapat tidur nyenyak.

Meningkatkan staminamu dengan  cara mengucapkan kata-kata yang positif buat tubuhmu, hal ini bertujuan agar kita menjadi lebih bersemangat, tetap optimis dengan diri kita. Contoh: “saya nyakin dapat melakukannya”, “saya bisa”, “saya berani dan kuat” dengan kata-kata yang positif tersebut membuat kita lebih berani untuk melakukan tindakan tanpa takut atau pesimis terhadap sesuatu yang belum terjadi.

Melatih agar kamu tetap fokus dengan apa yang kamu lakukan dan inginkan. Dalam berbicara pada diri sendiri dapat membuat diri kita fokus dang tujuan yang kita tetapkan, tindakan apa yang harus dilakukan untuk menggapai apa yang dituju, ini bisa disebut perenungan. Bisanya dilakukan oleh individu ketika memulai kariernya. Contoh, ketika kita memulai buka usaha kue disini kita mulai berinteraksi terhadap diri kita dengan menjawab pertanyaan yang ada dalam pemikiran kita, misal  kue apa yang akan dijual, diri kita mulai kasih jawaban “cari kue yang popular di masyarakat”. Interaksi-interaksi seperti inilah yang membuat diri kita fokus.

Berdamai dengan diri kita, maksudnya adalah dengan berbicara dengan diri sendiri kita dapat memahami kelemahan dan kelebihan diri kita, memahami kemampuan yang ada dalam diri kita dan mengasahnya, memahami dampak dan akibat dari kelakuan atau tindaan kita. Namun, sebagian masyarakat tidak memahami dirinya  sendiri misal fisik sudah lelah harus diistirahatkan tapi individu masih memaksakan diri untuk terus melakukan kegiatan sehingga mengakibatkan sakit dan jikalau terus begitu mengakibatkan kematian secara mendadak. Atau  karena  overthinking maka menyulitkan kita untuk dapat tidur nyenyak sehingga badan jadi lelah.

Baca juga : Opini : Sekolah Online, Psikologi Anak Terancam

Setelah kita mengetahui manfaat dari self talk, maka  kita harus mengetahui dahulu jenis self talk. Self talk terdiri 2 macam jenis yaitu negative self talk dan coping self talk. Negative self talk, mengacu untuk melemahkan diri sendiri dari perasaan, pernyataan dan komunikasi yang bereaksi negative sehingga tidak dapat mengontrol pemikiran dan perasan, contoh “apakah saya bisa berhasil”. Nah, kata-kata ini mengandung perasan ragu-ragu terhadap kemampuan kita sehingga kita tidak dapat memaksimalkan kemampuan kita dalam kompetisi ataupu menghadapi permasalahan.  Coping self talk, mengacu untuk menguatkan diri dengan cara mengajari diri sendiri untuk berkomunikasi dengan baik dan menenangkan diri sendiri sehingga memunculkan perasaan-perasaan positif, contoh “saya bisa membantu konseli saya”, dengan kata-kata ini membuat diri kita menjadi percaya diri dan tentu memaksimalkan kemampuan untuk menghadapinya. Selanjutnya cara melakukan melalui dimensi dari coping self talk yang dapat digunakan baik itu membantu orang lain ataupun penguat diri sendiri.

1. Calming self talk, menghadapi situasi atau permasalahan tertentu dengan cara melakukan dan betindak, misal “tenanglah mari tarik napas dalam-dalam terus hembuskan pelan-pelan”, dengan ini agar kita tidak gugup atau takut dalam menghadapi masalah.

2. Coaching self talk, menghadapi masalah dengan menguraikan perasaan, misal “Jangan marah karena hanya akan memperburuk keadaan”, tujuannya agar kita dapat berpikir jernih dalam menghadapi permasalahan.

 3. Affirming self talk, bertujuan fokus untuk mengingatkan diri terhadap tujuan yang ingin dicapai, misal “aku tau aku bisa menanganinya dengan baik”, maksudnya agar lebih optimis terhadap kemampuan tidak peduli dengan rintangan atau cemohan orang disekitarnya.

Penulis : Nabila Anun Arifah (Mahasiswa IAIN Samarinda Jurusan Bimbingan dan Konseling Islam)

Artikel di atas menjadi tanggung jawab penulis, bukan redaksi EKSPOSKaltim.com

Reporter :     Editor : Abdullah

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%0%0%0%


Comments

comments


Komentar: 0