EKSPOSKALTIM, Penajam - Aksi pengadangan truk-truk batu bara kembali terjadi di Kabupaten Paser. Tepatnya di Batu Kajang.
Bukan tanpa sebab pengadangan emak-emak ini dilakukan. Seharusnya angkutan emas hitam tidak lagi beroperasi di atas jalan negara.
Menggunakan jalan negara untuk lintasan batu bara bertentangan dengan Peraturan Daerah Nomor 10 tahun 2012.
Selain itu konflik antara warga dengan angkutan batu bara terus merenggut korban jiwa belum selesai. Puncaknya tragedi Muara Kate terjadi. Siapa dalang penyerangan ke posko warga penolak hauling itu belum terungkap sampai kini.
Teranyar, saat melintasi jalan raya di Batu Kajang, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur, truk-truk batu bara mendapat pengadangan sekelompok emak-emak, Rabu siang (19/2).
Aksi pengadangan oleh warga bermula pada 16 Februari ketika empat unit truk menepi di sebuah warung untuk membeli rokok.
Sejumlah warga kemudian bertanya apa muatan di dalam truk itu. "Biasa [batu bara]," jawab si sopir.
Mendapat informasi sejak empat hari lalu, warga terus mulai bertukar informasi. Rencana aksi pengadangan dirampungkan setelah mereka juga mendapat bocoran dari sopir.
Siang tadi, sekolompok warga yang mayoritas emak-emak pun melakukan sweeping. Pada pukul 11.00 Wita, dua truk berwarna kuning dengan pelat DA berhasil lolos dari amatan warga di posko anti-hauling.
Enggan kecolongan, selepas zuhur warga semakin banyak berduyun-duyun turun ke jalan dan berhasil menghentikan sebuah truk.
Setelah berhasil menghentikan satu truk, si sopir diminta keluar. Ternyata ia bukan warga setempat. Ngakunya dari Kalimantan Selatan.
“Yang ketangkep ini punya vendor suami kades,” jelas salah seorang warga sebut saja Ana.
Kepada warga, sopir ini menjelaskan hanya sebatas menjalankan perintah membawa batu bara dari Kalsel menuju Desa Rangan.
“Katanya atas perintah pusat,” jelas Ana.
Ia mengaku nekat setelah melihat kondisi wilayah Paser pasca-Tragedi Muara Kate tiga bulan silam mulai kondusif.
"Kami hanya coba-coba, karena keliatannya aman,” ujar si sopir kepada warga.
Sopir itu bilang sebenarnya sudah sejak tadi malam truk-truk batu bara melintasi Batu Kajang. Namun bedanya, mereka tak lagi konvoi.
"Dari surat jalannya, asalnya dari PT Mantimin Coal Mining," kata Ana.
Media ini lantas menghubungi Kapolres AKBP Novy Adhi Wibowo. "Sedang dicek ke lapangan," kata Novy, tadi siang.
Benar, tak lama berselang, kata Ana sejumlah polisi tiba. Termasuk kepala kepolisian sektor setempat. Polisi mengimbau warga tak anarkis. Namun warga menyayangkan tak ada penindakan dilakukan.
Alhasil, kata Ana, truk yang terjaring sweeping itu warga tahan. Di bagian belakang truk, warga lalu memasangi spanduk penolakan.
"Ini sebagai jaminan agar tidak ada lagi yang melintas," jelasnya. Ana juga berkata masih ada 10 truk lain yang ditahan warga di Muara Komam.
Sampai sore tadi aksi sweeping masih terus dilakukan warga. Cuma satu yang mereka inginkan; truk-truk batu bara gunakanlah jalan sendiri.
"Kan kita juga sudah punya Perda nomor 12/2012, truk batu bara tidak boleh pakai jalan umum," kata Ana.
Setiap truk batu bara melakukan konvoi warga selalu cemas. Bagaimana tidak, sekali konvoi bisa 700 hingga seribu truk yang melintas Batu Kajang.
Karenanya, warga bulat menolak praktik hauling ini sejak akhir 2023. Itu ditandai dengan berdirinya sebuah posko sweeping warga.
Ana kuatir jika truk-truk ini terus melintas hanya akan memperparah kerusakan jalan. Saat ini kondisi Batu Kajang dipenuhi lubang-lubang yang menganga.
Jika turun hujan, lubang-lubang itu tak kasat mata karena tertutup air. Kata, Ana sudah tak terhitung berapa banyak warga yang celaka hingga mengalami patah tulang.
"Lobangnya bisa selutut kaki," kata dia.
Warga hanya bisa menanam pohon pisang di tengah jalan. Belum ada perbaikan yang dilakukan pemerintah.
Media ini sudah coba menghubungi perwakilan direksi PT MCM, Andreas Purba. Namun tak ada respons.
Penolakan warga bukan sebatas di Batu Kajang saja. Sebuah posko juga didirikan warga Muara Kate di perbatasan Kalimantan Timur-Kalimantan Selatan.
Perjuangan warga menolak jalan nasional digunakan truk batu bara harus dibayar nyawa. Akibat aksi sweeping warga, penyerangan ke posko Muara Kate terjadi pada 15 November 2024. Seorang warga bernama Russel tewas. Sedangkan Anson warga lainnya mengalami kritis. Sampai hari ini pembunuh Russel belum tertangkap.
Truk-truk yang terjaring sweeping warga di Batu Kajang ini berhasil lolos setelah pos penjagaan di Muara Kate melonggar. Sebab, sejumlah warga menghadiri hajatan keluarga di kampung sebelah.
"Kami heran mengapa mereka tahu posko sedang tidak dijaga," kata seorang warga di Muara Kate, dikontak terpisah.
Soal kematian Russel, polisi mengatakan pengungkapan kasus masih coba dilakukan.
"Silakan dicek, anak-anak [anggota polisi] masih di lapangan. Jadi mohon sabar," kata Kapolres AKBP Novy.
Sebenarnya, bukan kali ini saja. Medio Januari 2025, sejumlah truk berpelat KT terpantau menyeberangi Gunung Halat, perbatasan Kaltim-Kalsel.
Melintas di atas jalan negara, mereka bertolak menuju sebuah pelabuhan yang ada di Bumi Lambung Mangkurat, sebutan Kalsel. Mereka putar haluan dari semula menuju Rangan menjadi Kalsel buntut tragedi Muara Kate.
Kematian Russell imbas konflik warga dengan truk hauling sejatinya sudah jadi atensi nasional. Pada 26 Januari 2025, rombongan Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) menyambangi Muara Kate.
"Waktu kami datang hauling sudah disetop," kata Komisioner Kompolnas Irjen (Purn) Ida Oetari, dihubungi terpisah.
Analis kepolisian dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) Bambang Rukminto heran. Mengapa masih saja ada truk hauling yang melintas.
"Sebenarnya untuk apa Kompolnas ke sana? Melakukan kunjungan kerja atau berwisata," jelas Rukminto via seluler.

