EKSPOSKALTIM, Bontang - Pembangunan pabrik rumput laut di Kota Bontang hingga kini masih jauh dari kata terealisasi. Pasalnya, Kota Bontang belum mampu mencapai target produksi sebanyak 400 ton perbulan, yang menjadi syarat dari PT First Merin Makassar sebelum dibangunnya pabrik tersebut. Terkait hal tersebut, Dinas Perikanan, Kelautan dan Pertanian (DPKP) dan Walikota Bontang Neni Moernaeni angkat bicara.
Sekretaris DPKP Kota Bontang, Kamilan mengatakan pembangunan pabrik tersebut akan semakin larut jika harus menunggu produksi bahan baku rumput laut hingga mencapai 400 ton perbulan. Karena kata dia, target sebanyak itu tidak bisa dicapai oleh petani-petani rumput laut Kota Bontang dengan melihat produksi bahan baku rumput laut yang semakin menurun.
"Setahu saya, di Indonesia ini tidak ada pabrik yang mengelolah bahan baku rumput laut hingga 400 ton perbulan. Kita sesuaikan saja kapasitas sebenarnya, 150 ton itu sudah bisa bangun pabrik di Bontang. Di mataram saja hanya produksi 70 ton perbulan," kata Kamilan saat ditemui ditempat dikantornya, Jalan Moch Roem, Kelurahan Bontang Lestari, Kecamatan Bontang Selatan, Rabu (22/6/2016).
Kata kamilan menambahkan, target sebanyak 400 ton perbulan tersebut tidak realistis untuk memenuhi persyaratan pembangunan pabrik rumput laut di Kota Bontang. Menurutnya, meskipun produksi bahan baku rumput laut hanya 150 ton, hal itu sudah cukup untuk pembangunan pabrik di Kota Bontang.
"Itu sangat tidak realistis, kalau target perbulan 400 ton. Kalau produksi 150 ton, saya yakin sudah bisa bangun pabrik. Kita tidak usah memaksakan sesuai kapasitas pabrik, kalau kapasitas pabrik juga tidak sampai dengan target, ya sama saja," pungkasnya.
Ditemui ditempat berbeda, Walikota Bontang Neni Moerniaeni mengatakan permasalahan yang dihadapi rumput laut yakni kondisi rumput laut yang sering berjamur, sehingga produksi bahan baku tidak bisa maksimal sesuai target yang ditentukan. Namun pihaknya sudah berkoordinasi dengan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) untuk membahas persoalan tersebut.
"Saya sudah ngomong sama SKPD, bahwa kita juga bisa mengambil pasokan dari beberapa kota. Nah, tinggal kita lagi bagaimana meningkatkan produksinya. Perusahaan yang mau bangun pabrik itu saja mengeluh karena hasil rumput laut tidak maksimal, makanya mau pindah cari tempat lain," tutupnya.

