Kaltim menghadapi dua tekanan persoalan energi sekaligus, antrean BBM bersubsidi yang belum terurai dan harga LPG 3 kilogram yang di pedalaman sempat menembus Rp250 ribu per tabung. Di tengah kondisi itu, Gubernur Rudy Mas’ud mengeluarkan sejumlah desakan ke Pertamina.
EKSPOSKALTIM, Balikpapan - Kaltim menghadapi dua tekanan persoalan energi sekaligus, antrean BBM bersubsidi yang belum terurai hingga harga LPG 3 kilogram yang di pedalaman Mahakam Ulu sempat menembus Rp250 ribu per tabung. Di tengah kondisi itu, Gubernur Rudy Mas’ud mendesak Pertamina memperkuat pasokan dan distribusi sebelum persoalan meluas.
Rudi meminta PT Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan segera menyelesaikan persoalan antrean panjang BBM bersubsidi serta tingginya harga LPG 3 kilogram di wilayah pedalaman. Menurut Rudy, langkah preventif penting. Itu, untuk menjaga ketersediaan energi sebelum persoalan di lapangan meluas.
"Stok BBM harus kita jaga sebelum antrean mengular. Jangan tunggu asap baru kita padamkan. Lebih baik kita cegah sebelum menjadi api. Begitu juga listrik, harus kita amankan sebelum padamnya makin meluas," kata Rudy saat memimpin rapat koordinasi di Balikpapan, Kamis (8/10).
Rudy mengatakan stok fisik BBM di terminal secara umum sebenarnya tersedia. Namun, kebutuhan nyata di lapangan tidak seimbang dengan kuota BBM bersubsidi sehingga memicu antrean panjang di sejumlah SPBU.
Data fluktuasi konsumsi Pemerintah Provinsi Kaltim menunjukkan penggunaan Pertalite meningkat hingga 8,7 persen. Pada saat yang sama, konsumsi Pertamax turun 21,9 persen.
Menurutnya, pergeseran konsumsi tersebut membuat tekanan terhadap BBM bersubsidi meningkat. Kondisi ini juga berlangsung di tengah kebijakan alokasi pusat melalui Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) yang memangkas kuota Kaltim untuk 2026.
Data Dinas ESDM Kaltim mencatat kuota Pertalite yang disetujui sebesar 508.400 kiloliter (KL), atau 49,1 persen dari usulan daerah sebesar 1.034.972 KL.
Sementara itu, kuota Biosolar yang disetujui sebesar 268.430 KL dari usulan 415.682 KL.
SPBU Diminta Perpanjang Layanan
Untuk mengantisipasi antrean, Rudy meminta Pertamina mempermudah perizinan kehadiran SPBU baru sekaligus memperpanjang jam operasional SPBU yang sudah ada.
"Kami mohon GM Pertamina Patra Niaga, SPBU yang sekarang jumlahnya masih sangat sedikit tolong dibantu untuk solusi, dan buka sampai jam 22.00 WITA dengan catatan stok harus selalu tersedia," pintanya.
Wakil Gubernur Kaltim Seno Aji juga mengingatkan Pertamina agar kuota BBM yang telah dialokasikan benar-benar direalisasikan secara utuh.
Jika memungkinkan, kuota tersebut juga diminta ditambah karena banyak kendaraan dari luar daerah yang masuk ke Kaltim.
"Masyarakat tidak mau tahu, kalau BBM tidak ada yang disalahkan pasti wali kota, bupati, dan gubernur," tegas Seno.
Sebelumnya, Executive General Manager Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan Isfahani dalam rapat bersama DPRD Kaltim mengatakan stok BBM di Kaltim sebenarnya masih dalam kondisi aman.
Namun, ia mengakui antrean terjadi karena jumlah lembaga penyalur belum sebanding dengan pertumbuhan kendaraan di Kaltim.
Pertamina menyatakan siap berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk mengevaluasi sebaran SPBU baru sekaligus memperketat pengawasan digital melalui kode QR.
LPG 3 Kg di Mahakam Ulu Tembus Rp250 Ribu
Persoalan energi juga terjadi pada LPG 3 kilogram. Gubernur meminta Pertamina menjamin pasokan LPG bersubsidi hingga tingkat pangkalan dengan harga sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET).
Harga LPG 3 kilogram di kawasan pedalaman dan perbatasan dilaporkan melambung tinggi. Di Mahakam Ulu, harga eceran gas bersubsidi tersebut sempat mencapai Rp250.000 per tabung.
Lonjakan harga terjadi setelah jalur distribusi logistik melalui sungai tersendat akibat kemarau.
Harga tersebut jauh di atas HET resmi setempat yang ditetapkan sebesar Rp43.000 per tabung.
Persoalan BBM bersubsidi dan LPG tersebut kini menjadi perhatian pemerintah daerah, dengan penguatan pasokan dan distribusi diminta dilakukan sebelum tekanan energi semakin meluas ke masyarakat di wilayah pedalaman. (ant)



