EKSPOSKALTIM, Tenggarong- Gelaran Erau adat dan International Folk Art Festival (EIFAF) dilaksanakan untuk mengangkat seni budaya lokal guna pelestarian warisan leluhur, serta tentunya memperkenalkan kepada masyarakat dan pengunjung tentang kekayaan seni budaya yang dimiliki Kutai Kartanegara.
"EIFAF merupakan salah satu cara kami untuk mengangkat budaya daerah ke pentas dunia, karena ini merupakan event berskala internasional," ujar Bupati Kukar Rita Widyasari.
Hal tersebut dibuktikan dengan berpartisipasinya 72 kesenian lokal Kutai Kartanegara (Kukar), pada EIFAF tahun ini yang digelar mulai 20 sampai 28 Agustus 2016, di Kota Raja Tenggarong. Kesenian lokal Kukar tersebut akan tampil bergantian dengan tim kesenian dari 9 negara yang ikut memeriahkan EIFAF tahun ini, dan beberapa kesenian dari kabupaten/kota di Kaltim lainnya.
Pelaksanaan Erau dikemas secara internasional sejak 2013 lalu, dengan menggandeng delegasi kesenian dari negara-negara yang termasuk anggota CIOFF (International Council of Organizations of Folklore Festivals and Folk Arts).
"Hal tersebut tak lain karena saya ingin mengangkat budaya di Kukar, agar tak hanya terkenal secara regional, tetapi dikenal di mata internasional," ungkapnya.
Lanjut dia mengatakan, sejak dirinya menjadi Bupati pada 2010 lalu, kunjungan pariwisata di Kukar meningkat dari tahun ketahun. Sehingga menurutnya, pemasukan dari sektor pariwisata juga meningkat, padahal disaat yang sama anggaran untuk pariwisata juga dikurangi.
"Ini saya lakukan agar kelak, dari sektor pariwisata, bisa menjadi salah satu sumber pendapatan asli daerah handal, bersama sektor pertanian, untuk secara perlahan mengganti pendapatan dari sektor tambang dan Migas," kata Rita.
Sementara, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kukar Sri Wahyuni mengatakan setiap tahun kunjungan wisata Kukar meningkat, bahkan disaat Kukar kesulitan infrastruktur karena belum berdirinya jembatan. Bahkan, menurut Sri tahun 2015 lalu, kunjungan pariwisata mencapai 50 ribu orang, termasuk didalamnya saat event EIFAF.
"Tahun ini kami optimistis kunjungan mencapai 70 ribu bahkan lebih, karena jembatan Kartanegara sudah berfungsi kembali, demikian juga dengan jembatan Repo-repo menuju Pulau Kumala, dan EIFAF ini sudah terkenal hingga ke mancanagera" tutur Sri .
Sri menambahkan, dengan dilaksankannya EIFAF di Tenggarong, banyak daerah lain yang datang untuk belajar bagaimana Kukar melaksanakan event international.
"Ini bagai kita menyediakan gula, kemudian semutnya datang dengan sendirinya," tutupnya. (humas kukar)

