Pekerjaan menyebar hampir di seluruh kecamatan, tetapi sejumlah titik masih terkendala saluran yang belum nyambung, sedimentasi, dan sampah.
EKSPOSKALTIM, Samarinda — Hujan deras di tengah musim kemarau kembali menguji kemampuan sistem drainase Kota Samarinda. Sejumlah ruas jalan sempat tergenang, meski kondisi atmosfer secara umum masih berada dalam periode kemarau yang diperkuat fenomena El Niño sangat kuat.
Situasi tersebut kembali menempatkan pekerjaan normalisasi drainase yang setiap tahun digencarkan Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda dalam sorotan. Persoalannya bukan semata apakah pengerukan dan pembangunan drainase terus dilakukan, tetapi sejauh mana pekerjaan tersebut mulai mengubah respons kawasan terhadap genangan ketika hujan turun.
Kepala Bidang Sumber Daya Air Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Samarinda, Darmadi, menyebut kegiatan normalisasi tidak hanya terkonsentrasi pada satu wilayah. Hampir seluruh kecamatan disebut telah mendapatkan pekerjaan, mulai dari pengangkatan sedimentasi hingga perbaikan saluran drainase.
“Hampir semua ada. Setiap kecamatan,” sebutnya, Rabu (30/9).
Menurut Darmadi, pekerjaan normalisasi memang tidak selalu terlihat karena tidak seluruh kegiatan menggunakan personel berseragam PUPR di satu titik yang sama. Namun, pekerjaan tetap berjalan dengan cakupan yang tersebar di sejumlah ruas.
“Jadi keliling Samarinda. Kegiatannya normalisasi pengangkatan sedimentasi,” kata dia.
Selain pengangkatan sedimentasi, pekerjaan juga mencakup perbaikan drainase di sejumlah kawasan. Darmadi menyebut beberapa ruas yang tengah menjadi lokasi kegiatan, antara lain Jalan Pangeran Antasari, Jalan Untung Suropati, Jalan Cermai, Jalan Juanda, Jalan AW Sjahranie, Jalan Wahid Hasyim II, Jalan Merdeka, kawasan Makroman hingga Palaran.
Rp400 Miliar untuk Drainase, Pekerjaan Belum Berhenti
Besarnya cakupan pekerjaan tersebut juga ditopang sejumlah sumber pembiayaan. Darmadi mengatakan anggaran kegiatan drainase berasal dari beberapa skema, mulai dari bantuan keuangan hingga anggaran Pemerintah Kota Samarinda.
Total anggaran yang dialokasikan untuk kegiatan drainase disebut mencapai sekitar Rp400 miliar.
“Keseluruhannya itu sekitar Rp 400 milyar. Itu untuk kegiatan drainase aja,” kata Darmadi.
Dengan nilai tersebut, normalisasi drainase menjadi salah satu intervensi besar yang terus berjalan untuk memperbaiki kapasitas sistem pembuangan air perkotaan. Namun, pekerjaan tersebut belum seluruhnya rampung karena sebagian proyek masih berada dalam tahap pelaksanaan.
Darmadi menjelaskan, sebagian kegiatan baru dapat bergerak setelah dokumen pelaksanaan anggaran turun. Kondisi tersebut turut memengaruhi waktu dimulainya pekerjaan di sejumlah lokasi.
Meski demikian, hingga saat ini DPUPR tidak menyebut adanya kendala besar dalam pelaksanaan kegiatan. Bahkan, sejumlah pekerjaan disebut sudah mendekati penyelesaian.
“Beberapa titik sudah mau selesai tinggal finishing-finishingnya aja,” kata dia.
Di tengah masifnya pekerjaan tersebut, persoalan di sejumlah kawasan masih menunjukkan bahwa normalisasi drainase belum otomatis menyelesaikan genangan terlebih saat turun hujan dalam dua hari terakhir. Salah satunya di kawasan Jalan Juanda dan Gerilya.
Darmadi mengakui kegiatan di kawasan tersebut masih berlangsung. Persoalan utamanya bukan semata kapasitas saluran, tetapi keterhubungan sistem drainase yang belum sepenuhnya selesai.
“Di Jalan Gerilya kegiatan juga ada, cuman itu belum tuntas. Masih on-progress. Salurannya belum nyambung. Kalau nyambung nanti bisa berkurang jauh banjirnya,” ujarnya.
Kondisi serupa juga menjadi perhatian di kawasan Damanhuri, yang memiliki persoalan tersendiri lantaran sistem pembuangan airnya berkaitan dengan kawasan lain.
Darmadi menyebut Pemkot Samarinda sebenarnya telah menjalankan banyak kegiatan pengendalian banjir secara bertahap. Pekerjaan tersebut terus bergerak, meski sebagian masih dalam proses. Salah satu perubahan yang dirasakan dari pekerjaan tersebut, menurut Darmadi, terlihat dari durasi genangan. Ia mengatakan banjir saat ini tidak lagi bertahan selama sebelumnya.
“Saat ini banjir kan udah gak kayak dululah lama surutnya. Sekarang lebih cepat surutnya,” kata Darmadi.
Namun, klaim mengenai genangan yang lebih cepat surut tersebut tidak berarti seluruh persoalan telah selesai. Hasil pengecekan lapangan masih menemukan titik-titik yang salurannya terganggu oleh sedimentasi maupun sampah.
“Cuman memang ada beberapa tempat setelah kita cek, memang ada sedimen dan sampah. Dan sampahnya luar biasa,” pungkasnya.



