EKSPOSKALTIM, Jakarta - Piala Dunia 2026 yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko disebut sebagai edisi paling kompleks sepanjang sejarah turnamen, seiring skala penyelenggaraan yang meluas ke tiga negara sekaligus, peningkatan jumlah peserta, hingga rekayasa besar pada infrastruktur stadion.
Untuk pertama kalinya sejak edisi perdana 1930, turnamen ini digelar di tiga negara dengan jarak antarlokasi yang sangat jauh. Salah satu rute terjauh tercatat mencapai sekitar 4.500 kilometer, dari Stadion BC Place di Vancouver, Kanada, menuju Stadion Hard Rock di Miami, Amerika Serikat.
Kompleksitas juga meningkat dari sisi jumlah peserta. Piala Dunia 2026 akan diikuti 48 negara, bertambah dari format sebelumnya yang berisi 32 tim. Konsekuensinya, jumlah pertandingan pun melonjak menjadi 104 laga yang akan digelar di 16 stadion.
Dari total stadion tersebut, 11 berada di Amerika Serikat, tiga di Meksiko, dan dua di Kanada. Namun, jumlah itu tidak sederhana secara teknis karena sebagian besar stadion di Amerika Serikat bukan arena sepak bola murni, melainkan stadion American football yang digunakan oleh National Football League (NFL).
Perbedaan ukuran lapangan menjadi tantangan utama. Lapangan NFL lebih sempit dibanding standar FIFA, sehingga sejumlah stadion harus menyesuaikan struktur tribun, bahkan mengurangi kapasitas penonton agar sesuai standar pertandingan sepak bola internasional.
Penyesuaian tersebut juga berdampak pada kapasitas penonton di beberapa venue. Stadion SoFi di Los Angeles misalnya, dikabarkan harus mengurangi lebih dari 400 kursi, sementara Stadion MetLife di New Jersey menghapus sekitar 1.740 kursi demi memenuhi standar FIFA.
Selain struktur stadion, aspek paling krusial adalah lapangan pertandingan. Dari 16 stadion, delapan menggunakan rumput artifisial, termasuk MetLife, AT&T Stadium, SoFi Stadium, Mercedes-Benz Stadium, Gillette Stadium, Lumen Field, NRG Stadium, dan BC Place.
Pengelolaan rumput menjadi proyek tersendiri yang melibatkan pakar dari berbagai universitas di Amerika Serikat, termasuk Michigan State University dan University of Tennessee. Salah satu tokoh kunci adalah John Sorochan, profesor yang telah meneliti turf olahraga sejak awal 1990-an.
Dalam pengembangan lapangan, para ahli menggunakan tiga jenis rumput yang disesuaikan dengan iklim lokasi. Untuk wilayah hangat digunakan bermuda grass, sementara untuk wilayah lebih dingin digunakan kombinasi kentucky bluegrass dan perennial ryegrass.
Campuran tersebut bahkan diuji secara intensif. Dalam salah satu formulasi, digunakan sekitar 84 persen kentucky bluegrass dan 16 persen perennial ryegrass, yang dinilai lebih kuat setelah masa pertumbuhan beberapa bulan.
Untuk memperkuat kualitas permukaan, inovasi lain juga diterapkan, termasuk penggunaan serat plastik guna membantu daya tahan akar serta serangkaian uji laboratorium dan lapangan untuk memastikan pantulan bola, kekerasan permukaan, hingga risiko cedera pemain.
Menurut sejumlah laporan, dilakukan lebih dari 170 kali percobaan untuk memastikan kualitas rumput memenuhi standar FIFA, yang dikenal ketat dalam menjaga kualitas kompetisi tertinggi sepak bola dunia.
Tantangan lain muncul di stadion beratap atau berkubah seperti AT&T Stadium, Mercedes-Benz Stadium, NRG Stadium, dan BC Place. Karena minim cahaya matahari, stadion-stadion ini akan dilengkapi sistem pencahayaan LED khusus untuk menjaga pertumbuhan rumput alami.
Di sisi lain, setelah turnamen berakhir, sejumlah stadion NFL diperkirakan akan kembali menggunakan rumput artifisial karena dianggap lebih efisien untuk berbagai aktivitas non-sepak bola.
Selain lapangan, perubahan juga dilakukan pada elemen struktural stadion. Tribun yang terlalu dekat dengan lapangan harus dibongkar, ruang media dan VAR diperluas, serta berbagai elemen komersial seperti sponsor dihilangkan atau diganti untuk menyesuaikan standar FIFA.
Seluruh penyesuaian ini membuat Piala Dunia 2026 tidak hanya menjadi ajang olahraga terbesar di dunia, tetapi juga salah satu proyek rekayasa stadion paling kompleks yang pernah dilakukan dalam sejarah sepak bola modern. (ant)



