PORTAL BERITA ONLINE NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE BERANI BEDA..!! MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

Pertagas Bina IRT di Guntung Dulang Rupiah

Home Berita Pertagas Bina Irt Di Gunt ...

Pertagas Bina IRT di Guntung Dulang Rupiah
Pertagas Bina IRT di Guntung Dulang Rupiah

EKSPOSKALTIM.COM, Bontang - Tiga tahun lalu tepatnya di awal tahun 2018, sekumpulan ibu-ibu di RT 1 Kelurahan Guntung, Kecamatan Bontang Utara, hanyalah ibu rumah tangga biasa.

Namun kini, mereka bisa menghasilkan pundi rupiah hingga jutaan rupiah dalam setiap bulannya. Hal ini diperoleh dari hasil penjualan batik yang mereka produksi.

Baca juga : Gelar Razia Gabungan, Dishub Bontang Jaring 50 Pelanggar

"Dulu mereka menjalankan rutinitas biasa layaknya ibu rumah tangga, seperti berkumpul, menggosip, hingga kegiatan arisan," kata Maryatun, Ketua Kelompok Perempuan Matahari, batik Ecoprint Daon Jajar, saat menjelaskan awal mula terbentuknya tempat batiknya kepada awak media, Kamis (21/10/2021).

Perubahan drastis dari yang sekedar ibu rumah tangga menjadi pengrajin batik, terjadi ketika Pertamina Gas (Pertagas) Regional Kalimantan mulai melakukan pembinaan kepada sekitar 20 orang pada awal bulan Mei 2018.

Dalam pembinaanya, Pertagas tidak hanya menempa kemampuan membatik mereka, namun juga membekali sejumlah perlengkapan, mulai dari alat membatik hingga mesin jahit.

Berbekal pelatihan serta perlengkapan itu, mereka kemudian mendirikan sebuah kelompok pengrajin batik yang diberi nama "Kelompok Perempuan Matahari".

Ada yang unik dari peroses pembuatan batik yang mereka lakukan, berbeda dengan pembuatan batik pada umumnya, mereka memilih mengunakan pewarna serta motif batik yang berasal dari alam. Hal ini sejalan dengan program ramah lingkungan yang dicanangkan pemerintah.

Saat ditemui awak media ditempat pembuatan batiknya, Maryatun terlihat hadir bersama 7 anggota lainnya. Maryatun menyebut, kendati jumlah anggota menyusut, namun hal itu tidak membuat semangat menurun untuk terus berkarya menciptakan berbagai batik yang cantik dan elegan.

Disaat anggotanya mencontohkan proses pembuatan batik, Maryatun menjelaskan bahwa setiap motif yang ada pada batiknya berasal dari daun sekitar rumahnya. Biasanya ia menggunakan daun jarak dan daun lanang, menyesuaikan keinginan pasar.

"Untuk pewarna, kami menggunakan pewarna alami dari kayu secang, mahoni, serta teger," beber Maryatun sambil menunjukan beberapa batang kayu tersebut.

Untuk proses pewarnaan, lanjut dia, pertama-tama kayu tersebut direbus. Setelah mendidih dan ditiriskan, kayu tersebut kemudian dipisahkan dengan airnya.

Kain yang akan dijadikan batik kemudian direndam selama 24 jam. Setelah kain berubah warna, lalu daun yang akan dijadikan motif batik ditempel diatas kain tersebut.

Usai daun ditempel, kain tersebut kemudian gulung perlahan dan dikukus selama kurang lebih 2 jam. Setelah itu kain dikeringkan dengan cara dijemur.

"Motif paling banyak dicari yakni daun jarak, ceri sama motif daun jati," terangnya.

Untuk setiap kain batik berukuran 2x1 meter, Maryatun menjualnya seharga Rp375 ribu. Sedangkan untuk batik yang sudah menjadi baju, ia jual dengan harga bervariatif, tertinggi seharga Rp700 ribu.

Dalam setiap bulannya, ibu-ibu binaan Pertagas ini bisa menghasil 20 lembar batik, dengan omset rata-rata Rp 13-17 juta perbulan.

Untuk pemasaran, selain menggandeng butik lokal, mereka juga memasarkan batiknya secara online, baik lewat medsos, maupun online shop.

Upaya penjualan batik yang dilakukan secara online ini ternyata berbuah manis, batik lokal hasil karya tangan ibu-ibu di Guntung ini telah dikirim ke berbagai kota di Indonesia, dan yang terjauh ke Bangka Belitung.

Baca juga : Peringati Hari Jadi, MOCB Gelar Bersih-bersih Pantai

Pandemi Covid-19 yang saat ini melanda, membawa keberkahan tersendiri bagi Kelompok Perempuan Matahari. Berkat kejeliannya dalam mengolah batik yang tadinya hanya berupa kain dan baju, dirubah menjadi masker. Tak ayal, pesanan dari berbagai instansi pemerintah maupun swata berdatangan.

"Alhamdulillah ini membantu ekonomi keluarga," ucap Maryatun.

Kendati sudah bisa berjalan sendiri, namun para ibu ini sepertinya enggan berpisah dengan Pertagas. Mereka berharap pembinaan yang sudah terjalin selama 3 tahun ini, bisa terjalin lebih lama lagi.


Editor : Abdullah
Tags : \\

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%0%0%0%
Sebelumnya :
Berikutnya :